
Pantau - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menilai Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk mendorong regenerasi perajin demi menjaga keberlanjutan industri batik dan melestarikan warisan budaya Indonesia.
“Hari Batik Nasional menjadi momentum kita bersama untuk meningkatkan kesadaran kolektif dan menumbuhkan rasa kecintaan pada batik. Hal ini mengingat budaya batik di Indonesia memiliki peranan besar, baik sebagai identitas dan kekayaan budaya sampai dengan nilai ekonomi,” ujar Faisol dalam pernyataan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Faisol mengatakan karakteristik pembuatan batik yang membutuhkan keterampilan tangan turut berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja dan menopang perekonomian keluarga di berbagai daerah.
Meningkatnya minat generasi muda menggunakan batik dalam berbagai kesempatan juga dinilai membuka peluang pengembangan pasar domestik.
Jumlah Perajin Batik Turun 20 Persen
Di tengah peluang tersebut, industri batik menghadapi persoalan regenerasi perajin yang perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) yang disebutkan dalam materi sumber, jumlah perajin batik sepanjang 2019–2023 turun sekitar 20 persen dari sekitar 131 ribu menjadi 105 ribu orang.
“Jika permasalahan regenerasi ini tidak segera kita tangani, maka keterampilan dan warisan leluhur membatik dikhawatirkan akan menjadi ancaman ke depan. Sehingga melalui HBN ini kita berharap dapat meyakinkan generasi penerus untuk dapat menumbuhkan keberminatan dalam membeli batik maupun memberikan inspirasi menjadi pembatik,” katanya.
Industri batik juga menghadapi tantangan dari perkembangan kain bermotif batik yang diproduksi menggunakan teknik cetak atau printing.
Kemajuan teknologi membuat produk bermotif batik tersebut memiliki kualitas semakin baik dan harga lebih terjangkau sehingga masyarakat dapat kesulitan membedakannya dengan batik yang dibuat melalui proses tradisional.
“Sudah saatnya kita memastikan agar batik tidak hanya dikenal sekadar dari motifnya, melainkan dihargai dari proses, keterampilan tangan, serta nilai budaya luhur yang menyertainya,” tegas Wamenperin.
Kemenperin Dorong Diversifikasi Produk Batik
Kementerian Perindustrian mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) batik melakukan diversifikasi produk, mulai dari fesyen siap pakai atau ready-to-wear, aksesori, hingga produk kriya yang sesuai dengan gaya hidup modern.
Faisol menilai kolaborasi IKM batik dengan desainer dan akademisi penting untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha menghasilkan produk yang semakin beragam tanpa kehilangan identitas batik.
Standardisasi juga menjadi perhatian dengan pemanfaatan Batikmark yang antara lain berkaitan dengan mutu fisik dan ketahanan warna sehingga dapat membantu konsumen mengenali karakteristik produk yang memenuhi ketentuan mutu.
Dalam rangkaian Puncak Pameran Hari Batik Nasional 2026, Kemenperin menggelar sejumlah kegiatan pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Atrium Plaza Tunjungan 3, Surabaya, dengan melibatkan lebih dari 40 peserta.
“Keberhasilan dalam membangun ekosistem industri batik yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing tinggi hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi erat antar pemangku kepentingan,” tuturnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan




