HOME  ⁄  Nasional

Basarnas Mengkaji Pemanfaatan KRI Sriwijaya-100 untuk Misi SAR, Kedalaman Perairan hingga Dermaga Jadi Pertimbangan

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Basarnas Mengkaji Pemanfaatan KRI Sriwijaya-100 untuk Misi SAR, Kedalaman Perairan hingga Dermaga Jadi Pertimbangan
Foto: Upacara pemberian nama dan pengibaran bendera merah putih di atas KRI Sriwjaya-100 yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 24/9/2026 (sumber: ANTARA/Walda Marison)

Pantau - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyatakan belum ada pembahasan terperinci mengenai skema teknis pengoperasian KRI Sriwijaya-100 untuk mendukung misi pencarian dan pertolongan (SAR).

KRI Sriwijaya-100 berpotensi digunakan untuk menangani korban bencana alam maupun kejadian nonbencana, termasuk kecelakaan transportasi.

Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso mengatakan rencana pemanfaatan kapal tersebut sebagai pangkalan logistik dan operasi kemanusiaan masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Kajian dan berbagai pertimbangan operasional diperlukan sebelum KRI Sriwijaya-100 benar-benar diterjunkan untuk mendukung operasi SAR di lapangan.

"Belum ke arah sana," kata Edy, menanggapi pertanyaan mengenai koordinasi teknis penyiapan perlengkapan operasi pencarian bersama pihak militer.

Kapal Besar Memiliki Tantangan Operasional

Edy menjelaskan pengoperasian kapal berukuran sangat besar memiliki tingkat kompleksitas dan sejumlah kendala teknis yang harus diperhitungkan.

KRI Sriwijaya-100 berpotensi menjadi platform pendukung operasi terpadu laut dan udara di wilayah terpencil.

Penggunaan kapal tersebut dinilai relevan dengan karakteristik sejumlah operasi SAR yang sebelumnya pernah dilakukan Basarnas di daerah sulit dijangkau.

Salah satu contohnya adalah operasi pencarian dan pertolongan pada fase tanggap darurat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Barat, serta Sumatera Utara.

Meski demikian, Edy menilai armada utama SAR serta sarana-prasarana yang saat ini dimiliki masih memadai.

Sarana tersebut mencakup peralatan milik Basarnas serta dukungan dari TNI dan Polri.

Menurut Edy, kemampuan yang tersedia saat ini masih dapat digunakan untuk menjangkau berbagai titik bencana di pulau-pulau Indonesia.

"Masalah di Sumatera kemarin, misalnya, masih bisa dilaksanakan dengan alat utama (alut) yang ada sekarang ini. Mendatangkan kapal sebesar itu tidak mudah, banyak pertimbangan, baik kedalaman di wilayah saat mendekati lokasi, kemampuan dermaga, dan lain-lain," jelasnya.

Kedalaman Perairan dan Kapasitas Dermaga Jadi Pertimbangan

Salah satu persoalan utama dalam mengoperasikan KRI Sriwijaya-100 untuk misi SAR adalah kedalaman perairan di sekitar lokasi bencana.

Kedalaman perairan pantai atau draft menjadi faktor penting karena kapal berukuran besar membutuhkan kondisi perairan yang sesuai agar dapat mendekati lokasi operasi.

Kemampuan dan kapasitas dermaga lokal juga menjadi pertimbangan karena tidak seluruh pelabuhan di Indonesia memiliki infrastruktur yang mampu menerima kapal berbobot besar.

Penggunaan KRI Sriwijaya-100 untuk operasi SAR karena itu tidak hanya mempertimbangkan kapasitas kapal, tetapi juga kesiapan infrastruktur di lokasi tujuan.

Meski belum memiliki skema teknis khusus untuk pengoperasian kapal tersebut, Basarnas terus memperkuat koordinasi antarinstansi.

Koordinasi terutama berkaitan dengan interkonektivitas sarana udara dan laut untuk meningkatkan efektivitas penanganan kecelakaan pelayaran maupun bencana alam di kawasan terisolasi.

KRI Sriwijaya-100 Bisa Menjadi Pangkalan Terapung

KRI Sriwijaya-100 sebelumnya merupakan kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi buatan Italia.

Kapal tersebut secara resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100 melalui upacara penurunan bendera di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Kamis, 24 September.

KRI Sriwijaya-100 memiliki panjang sekitar 180 meter dan lebar sekitar 33 meter dengan bobot penuh mencapai 13.850 ton.

Kapal tersebut memiliki kemampuan daya jelajah sekitar 7.000 mil laut dan kecepatan maksimum mencapai 30 knot.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya menyatakan KRI Sriwijaya-100 diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Salah satu proyeksi pemanfaatannya adalah menjadikan KRI Sriwijaya-100 sebagai pangkalan terapung atau floating base untuk mendukung penanganan tanggap darurat bencana di wilayah kepulauan Indonesia.

Kapal tersebut dapat menampung awak hingga sekitar 550 orang, lebih besar dibandingkan KRI Brawijaya-320 yang disebut memiliki kapasitas sekitar 203 personel awak.

Dengan ukuran, daya jelajah, dan kapasitas personel tersebut, KRI Sriwijaya-100 berpotensi mendukung operasi kemanusiaan dan tanggap darurat, sedangkan skema teknis penggunaannya untuk misi SAR masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026