HOME  ⁄  Nasional

DPR Desak Aktor Penyelundupan 390 Ton Logam Tanah Jarang di Kepri Diusut hingga Sumbernya

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

DPR Desak Aktor Penyelundupan 390 Ton Logam Tanah Jarang di Kepri Diusut hingga Sumbernya
Foto: (Sumber :Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal saat melaksanakan kunjungan kerja spesifik ke Mako Kodaeral IV, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (30/9/2026). Foto: Dwiki/sai.)

Pantau - Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal mendesak penelusuran menyeluruh terhadap sumber dan pihak yang terlibat dalam dugaan penyelundupan 390 ton material logam tanah jarang (LTJ) yang mengandung unsur radioaktif melalui perairan Kepulauan Riau.

Syamsu meminta aparat tidak hanya berhenti pada penindakan pengiriman, tetapi juga menelusuri lokasi eksplorasi dan rantai distribusi material strategis tersebut.

"Secara teknis saya ingin mendapat penjelasan, siapa yang bisa mengidentifikasi logam tanah jarang itu dan menelusuri sumbernya. Tentu kalau ada yang ditangkap di sini, pasti ada sumber penambangannya, ada sumber eksplorasinya," ujar Syamsu saat kunjungan kerja spesifik Komisi I DPR RI di Mako Kodaeral IV, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (30/9/2026).

Material Disebut Berasal dari Bangka Belitung

Komandan Kodaeral IV Laksamana Muda TNI Berkat Widjanarko mengatakan material tersebut berasal dari Bangka Belitung dan direncanakan dikirim menuju Tiongkok dengan transit melalui Singapura.

"Barang dari Bangka Belitung itu dibawa ke Singapura dan langsung ke Tiongkok. Berdasarkan uji dari Bapeten, barang tersebut positif mengandung unsur radioaktif thorium yang paparannya cukup tinggi sampai di angka 10, sehingga saat penanganan kami semua diperintahkan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri)," urai Laksda Berkat merespons pertanyaan Komisi I.

Kodaeral IV sebelumnya menggagalkan dugaan penyelundupan material tersebut setelah KRI Kujang-642 yang diperbantukan kepada Guskamla Koarmada I melakukan penindakan pada 17 Mei 2026.

Kapal TB Capricorn 106/TK Capricorn 92.210 diamankan karena diduga mengangkut komoditas mineral dan batu bara untuk diselundupkan.

Dalam kasus tersebut, aparat menemukan ratusan ton material dalam sejumlah kontainer dengan dokumen pengiriman yang disebut mencantumkan muatan sebagai ilmenit berkadar lebih dari 46 persen, sedangkan hasil pemeriksaan menunjukkan kadarnya sekitar 23 persen.

Uji Laboratorium Temukan Unsur Radioaktif

Pengujian sampel ilmenit di PT Timah Kundur, Kabupaten Karimun, menemukan kandungan Titanium Oksida serta sejumlah unsur logam tanah jarang dan radioaktif.

Unsur yang terdeteksi antara lain Zirconium Oxide, Thorium Oxide, Neodymium Oxide, Triuranium Oktasida, dan Cerium Oxide.

Material tersebut disebut memiliki kegunaan strategis, termasuk sebagai bahan baku industri baterai dan, untuk unsur tertentu, aplikasi dalam industri nuklir.

Kasus tersebut kemudian mendapat perhatian pemerintah pusat dengan peninjauan Kepala Staf Umum TNI Letjen TNI Richard Taruli H. Tampubolon bersama tim investigasi dan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) terhadap kapal serta barang bukti di Dermaga Mako Kodaeral IV Batam.

"Penggagalan ini merupakan bentuk komitmen TNI AL dalam melaksanakan perintah Presiden RI dan Panglima TNI bersama seluruh instansi terkait untuk menjaga kedaulatan negara dan melindungi sumber daya alam strategis nasional dari aktivitas ilegal yang merugikan bangsa dan negara," tegas Berkat.

DPR Dorong Penempatan Kapal Cepat Rudal

Syamsu juga menyoroti kebutuhan penguatan armada TNI AL di Kepulauan Riau karena wilayah tersebut memiliki sejumlah jalur laut strategis.

"Kepri ini kan terdiri dari banyak chokepoint, ada Selat Malaka, ada Natuna, dan tentu itu sangat strategis. Tentu kita akan sangat membutuhkan ini (KCR) di waktu yang mendesak untuk penindakan. Kalau memang armada pemukul taktis ini belum ada, saya akan dorong segera supaya bisa disiagakan di sini," tegas politisi Fraksi PKB tersebut.

Komisi I DPR RI berencana mengevaluasi lebih lanjut temuan dan penanganan dugaan penyelundupan sumber daya mineral strategis tersebut dalam rapat kerja pada masa persidangan mendatang.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026