
Pantau - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengusulkan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik pengelolaan gambut di sedikitnya enam provinsi untuk melibatkan mahasiswa dalam menjaga lahan gambut dan mencegah kebakaran.
“Kalau nanti tahun depan barangkali KKN Tematik kita adalah menjaga gambut, boleh juga,” kata Brian dalam Workshop Pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.
Usulan tersebut disampaikan Brian kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam penutupan lokakarya.
Brian mengatakan mahasiswa dapat diterjunkan ke kawasan gambut sebelum memasuki periode rawan kebakaran sehingga perguruan tinggi terlibat sejak tahap pencegahan.
“Paling tidak di enam provinsi kita bisa arahkan KKN-nya khusus temanya menjaga atau mengelola lahan gambut,” ujar dia.
Mahasiswa Berpeluang Bergerak Mulai Juni
Brian belum merinci enam provinsi yang menjadi sasaran maupun jumlah mahasiswa dan perguruan tinggi yang akan dilibatkan karena gagasan tersebut belum ditetapkan menjadi program.
Ia mengatakan mahasiswa biasanya sudah dapat bergerak sekitar Juni apabila rencana KKN tematik pengelolaan gambut ditindaklanjuti.
“Jika memang (memungkinkan), mulai bulan Juni biasanya mahasiswa sudah bisa bergerak,” ujar dia.
Menurut Brian, perguruan tinggi memiliki sumber daya berupa dosen, mahasiswa, laboratorium, hasil penelitian, serta berbagai inovasi yang dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan gambut.
Keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat mendorong penerapan hasil penelitian dan pengetahuan dari kampus untuk membantu menyelesaikan persoalan di lapangan sekaligus memperkuat pengabdian kepada masyarakat.
KKN Tematik Berpeluang Terhubung dengan Tim Ekspedisi Patriot
Brian juga membuka peluang menghubungkan keterlibatan perguruan tinggi dalam pengelolaan gambut dengan program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang dijalankan Kementerian Transmigrasi.
“Program Patriot itu juga mungkin kita bisa nanti bertiga (Kementerian Kehutanan, Kemendiktisaintek, dan Kementerian Transmigrasi), kita launching juga khusus untuk enam provinsi dalam topik atau dengan tema menjaga atau mengelola lahan gambut,” kata Brian.
Pada 2026, Kementerian Transmigrasi menerjunkan 1.476 peserta TEP yang tergabung dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi untuk melakukan riset, pendampingan, pemberdayaan, serta pengembangan potensi kawasan.
TEP 2026 melibatkan 10 perguruan tinggi mitra utama, yakni Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
Anggaran TEP 2026 mencapai Rp226 miliar atau meningkat dari Rp176 miliar pada tahun sebelumnya.
Akademisi Diusulkan Terlibat dalam BPGMN
Data Kemendiktisaintek mencatat sekitar 10,75 juta mahasiswa terdaftar dengan 3,34 juta orang atau 31,1 persen berada pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Brian berharap sumber daya perguruan tinggi dapat mendukung pengelolaan gambut melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterlibatan langsung bersama masyarakat.
Ia juga menilai akademisi dan masyarakat perlu mendapatkan ruang dalam kelembagaan BPGMN yang sedang disiapkan pemerintah.
“Kelembagaan yang kita bangun tentu perlu memberikan ruang agar kemampuan untuk memanfaatkan atau melibatkan para ahli dan masyarakat itu dapat berjalan. Saya yakin di dalam rumusan ini sudah dimasukkan juga peran yang bisa dilakukan nanti oleh para akademisi dan juga oleh masyarakat," kata Brian.
- Penulis :
- Aditya Yohan




