HOME  ⁄  Nasional

APPMI Jatim Dorong Pemahaman Nilai Batik untuk Menjaga Industri dan Regenerasi Perajin

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

APPMI Jatim Dorong Pemahaman Nilai Batik untuk Menjaga Industri dan Regenerasi Perajin
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Sejumlah peserta membatik saat acara Simfoni 1001 Pembatik 2026 di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026). Acara yang diinisiasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY dan diikuti sekitar 1.060 peserta tersebut menjadi rangkaian peringatan Hari Batik Nasional 2026 sekaligus menyambut HUT ke-270 Kota Yogyakarta serta menjadi ruang pertemuan budaya, edukasi, pariwisata, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/kye.)

Pantau - Ketua Badan Pengurus Daerah Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Timur Lia Afif menilai pemahaman masyarakat terhadap nilai batik sebagai karya budaya penting untuk menjaga keberlanjutan industri sekaligus mendorong regenerasi perajin.

Lia mengatakan batik sebagai wastra memiliki nilai budaya dan proses produksi yang berbeda dari produk fashion massal sehingga konsumen perlu memahami karakter tersebut.

“Batik sebagai wastra bukan untuk dibandingkan atau bersaing dengan produk massal (printing), karena batik adalah sebuah karya seni yang memiliki nilai budaya, bukan hanya sekadar sebagai produk fashion,” kata Lia kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu (3/10/2026).

Menurut Lia, pemahaman terhadap nilai batik dapat membentuk pasar yang mampu menghargai proses dan nilai dalam setiap karya batik.

Regenerasi Pembatik Bergantung pada Keberlanjutan Pasar

Lia mengatakan keberadaan pasar yang mampu menyerap batik secara berkelanjutan penting bagi perajin karena produksi batik tulis membutuhkan keterampilan dan proses yang tidak dapat dilakukan secara instan.

Peningkatan kapasitas produksi batik tulis juga perlu disertai pembelajaran dan transfer pengetahuan antarpembatik.

“Batik tulis bukan produk massal yang dapat dengan mudah ditingkatkan kapasitas produksinya. Di dalam proses peningkatan produksi tersebut ada proses belajar, tular ilmu,” ujarnya.

Menurut Lia, semakin terbuka pasar yang menghargai karya batik, semakin besar pula ruang bagi keterampilan membatik untuk diwariskan kepada generasi berikutnya dan terus dikembangkan.

Perluasan pasar karena itu tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan, tetapi juga perlu disertai pemahaman yang tepat mengenai batik sebagai wastra.

Inovasi Desain Perlu Ikuti Kebutuhan Konsumen

Lia menilai platform digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar sekaligus membangun pemahaman konsumen mengenai nilai budaya batik.

Di sisi lain, inovasi desain juga diperlukan agar batik tetap relevan dengan kebutuhan konsumen masa kini, termasuk generasi muda.

Sebagai desainer, Lia antara lain mengembangkan batik ready to wear seperti palazzo dan outer agar produk tersebut lebih mudah dipadupadankan.

Menurut Lia, pelestarian batik perlu berjalan bersama inovasi desain dan penguatan pasar agar warisan budaya tersebut terus berkembang sekaligus memberikan ruang bagi keberlanjutan ekosistem perajin.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026