HOME  ⁄  Nasional

Papeda Membuka Pintu Pengenalan Budaya dan Ekowisata Sorong Selatan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Papeda Membuka Pintu Pengenalan Budaya dan Ekowisata Sorong Selatan
Foto: (Sumber :Suasana pembukaan acara bertajuk "Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua” yang menjadi program kolaborasi antara Konservasi Indonesia (KI), National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa di tiga kampung di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, yaitu Klaogin, Konda, dan Bariat. ANTARA/HO-Konservasi Indonesia.)

Pantau - Papeda menjadi salah satu pintu untuk mengenalkan kekayaan budaya masyarakat Sorong Selatan, Papua Barat Daya, yang berkaitan erat dengan pengetahuan pangan, alam, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Kepala Burung Papua.

Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany mengatakan masyarakat setempat menggantungkan kehidupan sekaligus menjaga pengetahuan leluhur melalui kekayaan ekologis wilayah tersebut.

“Bagi masyarakatnya, kekayaan ekologis ini lebih dari sekadar habitat biodiversitas, di sanalah mereka menggantungkan pangan, membaca tanda-tanda musim, serta merawat cerita leluhur,” kata Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (6/10).

Papeda dibuat menggunakan sagu yang diolah hingga menghasilkan makanan bertekstur bening dan kenyal.

Hutan dan Sungai Menjadi Ruang Pewarisan Pengetahuan

Kedekatan masyarakat Sorong Selatan dengan alam tercermin dari cara mereka memandang hutan dan sungai sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sorong Selatan memiliki hutan rawa gambut tropis yang menjadi habitat bagi 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa.

Kepala Kampung Klaogin Martinus Sawen mengatakan pengetahuan masyarakat meliputi cara membaca musim, merawat hutan, hingga menentukan tradisi yang dapat dibagikan kepada masyarakat luar.

“Hutan dan sungai itu dapur kami, sekolah kami, tempat cerita orang tua kami tinggal,” kata Klaogin.

Kepala Kampung Bariat Adrianus Kemeray berharap keberlanjutan ruang hidup tersebut dapat dipertahankan untuk generasi berikutnya.

“Kami ingin anak-cucu kami yang lahir di Bariat nanti masih bisa mengenal hutan dan sungai seperti yang kami kenal sekarang,” ujarnya.

Tiga Kampung Kembangkan Ekowisata Berbasis Masyarakat

Kekayaan alam dan budaya tersebut menjadi dasar pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Kampung Klaogin, Konda, dan Bariat dengan menempatkan masyarakat adat sebagai pemangku kearifan lokal sekaligus penjaga lingkungan.

Pengenalan potensi tersebut dilakukan melalui program “Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua” yang merupakan kolaborasi Konservasi Indonesia, National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa.

Rangkaian kegiatan berlangsung pada 1-4 Oktober 2026 di Hutan Kota by Plataran melalui pameran foto, dialog, pertunjukan tari, serta demonstrasi memasak pangan lokal.

Lidia Sawor dan Orpa Sawen dalam kegiatan tersebut memperagakan pengolahan sagu menjadi papeda, sedangkan dialog pada 3 Oktober membahas tradisi dan kearifan masyarakat dalam menjaga hutan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026