
Pantau - Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyiapkan pemanfaatan lahan marjinal untuk penanaman singkong sebagai bahan baku bioetanol guna mendukung program ketahanan energi nasional.
Kepala Dispertan Kabupaten Garut Ardhy Firdian menyebut potensi lahan untuk pengembangan komoditas tersebut mencapai puluhan ribu hektare.
"Potensi penanaman ubi kayu atau singkong di Kabupaten Garut diperkirakan seluas 25.000 - 30.000 hektare terutama pada lahan-lahan marjinal yang belum dimanfaatkan secara maksimal," kata Ardhy di Garut, Rabu (7/10/2026).
Pemerintah pusat saat ini tengah mengembangkan bioetanol dengan salah satu bahan bakunya berupa singkong sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional.
Garut Siapkan Lokasi Potensial
Kabupaten Garut menjadi salah satu daerah yang didorong pemerintah pusat untuk menyiapkan lahan bagi pengembangan komoditas singkong dan jagung.
"Kami masih mempersiapkan lokasi-lokasi yang potensial untuk dikembangkan," katanya.
Ardhy mengatakan Garut memiliki potensi untuk pengembangan kedua komoditas tersebut dan selama ini juga menjadi daerah pemasok jagung terbesar di Jawa Barat.
Produksi singkong di Garut pada 2025 tercatat mencapai 375.923 ton dari lahan seluas 15.543 hektare yang tersebar di seluruh kecamatan.
"Berdasarkan data statistik pertanian tahun 2025, luas tanam ubi kayu mencapai 15.543 hektare dengan produksi mencapai 375.923 ton per tahun," katanya.
Lahan Produktif Tetap Dipertahankan
Dispertan memastikan pengembangan singkong untuk mendukung produksi bioetanol tidak dilakukan dengan mengorbankan lahan pertanian yang sudah produktif.
Pengembangan akan difokuskan pada optimalisasi lahan marjinal yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Lahan pangan yang sudah ada akan tetap dipertahankan untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.
"Hal ini dilakukan untuk memastikan produksi tidak mengganggu keberadaan jagung atau singkong, tidak mengganggu program ketahanan pangan pemerintah," katanya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




