HOME  ⁄  Nasional

Pemprov Papua Barat Perpanjang Tanggap Darurat Karhutla, Kabut Asap Ganggu Sekolah hingga Penerbangan

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Pemprov Papua Barat Perpanjang Tanggap Darurat Karhutla, Kabut Asap Ganggu Sekolah hingga Penerbangan
Foto: Pemerintah Provinsi Papua Barat menggelar rapat untuk membahas penanganan terhadap karhutla dan kabut asap di Manokwari, Rabu 7/10/2026 (sumber: ANTARA/Fransiskus Salu Weking)

Pantau - Pemerintah Provinsi Papua Barat memperpanjang status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mengoptimalkan penanganan kebakaran secara terintegrasi sekaligus mengatasi kabut asap yang telah mengganggu sekolah, penerbangan, dan mobilitas masyarakat.

Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani mengatakan perpanjangan status diperlukan karena kebakaran belum sepenuhnya berhasil ditangani.

Kabut asap juga masih menyelimuti sejumlah wilayah di Papua Barat selama lebih dari satu pekan.

“Setelah menerima banyak masukan, pemerintah daerah memperpanjang status tanggap darurat,” kata Lakotani.

Penanganan Karhutla Libatkan Pemerintah Pusat dan Swasta

Menurut Lakotani, percepatan penanganan karhutla dan kabut asap membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah pusat, aparat keamanan, hingga sektor swasta.

Pemerintah daerah telah menginisiasi rapat dengan melibatkan sejumlah instansi untuk membahas langkah penanganan lanjutan.

Instansi yang terlibat antara lain Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta SKK Migas.

“Karhutla ini dampaknya sudah sangat luas, makanya kami membahas strategi lanjutan dalam menangani masalah kebakaran dan kabut asap,” ungkap Lakotani.

Kabut asap akibat karhutla telah memberikan dampak luas terhadap aktivitas masyarakat, termasuk sektor transportasi udara karena jarak pandang atau visibilitas tidak memenuhi standar keamanan penerbangan.

Pemerintah Kabupaten Kaimana dan Manokwari juga menerapkan pembelajaran jarak jauh sebagai pengganti kegiatan belajar tatap muka untuk mencegah peserta didik terpapar infeksi saluran pernapasan akibat kabut asap.

“Kaimana sudah sejak Jumat pekan lalu, dan diikuti Manokwari yang menerapkan sekolah daring. Rute penerbangan juga terganggu karena kabut asap,” kata Lakotani.

Sebanyak 199 Titik Panas Terdeteksi

Berdasarkan data aplikasi SiPongi+ atau Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan, terdapat 199 titik panas di Papua Barat selama periode 1–6 Oktober 2026.

Sebanyak 99 titik panas terdeteksi di Kabupaten Kaimana dan 76 titik berada di Kabupaten Fakfak.

Sementara itu, Teluk Bintuni tercatat memiliki 15 titik panas dan Pegunungan Arfak sebanyak tiga titik panas.

Citra Himawari-9 BMKG mencatat angin timuran membawa asap karhutla dari Provinsi Papua Selatan serta kabut asap lintas batas dari Papua Nugini hingga mencapai wilayah Manokwari.

Kondisi tersebut diperparah oleh asap yang berasal dari karhutla di Kaimana, Fakfak, dan Teluk Bintuni.

Kualitas Udara Kaimana dan Teluk Bintuni Sangat Tidak Sehat

BMKG memprediksi kualitas udara di Kaimana dan Teluk Bintuni berada dalam kategori sangat tidak sehat selama tiga hari pada 7–9 Oktober 2026.

Prediksi tersebut didasarkan pada pemantauan konsentrasi partikulat halus atau PM2.5.

Kategori sangat tidak sehat menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada pada kisaran 150,5–250,4 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui nilai ambang batas PM2.5 selama 24 jam yang disebut sebesar 55 mikrogram per meter kubik.

Kualitas udara di Teluk Wondama pada 7 Oktober berada dalam kategori tidak sehat dengan konsentrasi PM2.5 berkisar 55,5–150,4 mikrogram per meter kubik.

Kondisi di Teluk Wondama diprediksi memburuk menjadi kategori sangat tidak sehat pada 8–9 Oktober 2026.

Sementara itu, kualitas udara di Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak diprediksi konsisten berada dalam kategori sedang selama 7–9 Oktober dengan konsentrasi PM2.5 sekitar 15,6–55,4 mikrogram per meter kubik.

Dari tujuh kabupaten di Papua Barat, Kaimana dan Teluk Bintuni diprediksi mengalami kualitas udara sangat tidak sehat selama tiga hari, sedangkan Teluk Wondama dan Fakfak mengalami perubahan kategori kualitas udara selama periode tersebut.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026