HOME  ⁄  Nasional

BMKG Deteksi 4.845 Titik Panas di Sumatera, Kabut Asap Selimuti Riau dan Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

BMKG Deteksi 4.845 Titik Panas di Sumatera, Kabut Asap Selimuti Riau dan Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat
Foto: (Sumber :Kondisi Kota Pekanbaru yang diselimuti kabut asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan di Selatan Sumatera. ANTARA/Bayu Agustari Adha.)

Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi lonjakan jumlah titik panas di Pulau Sumatera menjadi 4.845 titik hingga Rabu (7/10/2026) pukul 23.00 WIB, dengan konsentrasi tertinggi berada di Sumatera Selatan sebanyak 3.847 titik.

Peningkatan titik panas tersebut terjadi ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di bagian selatan Sumatera mulai berdampak terhadap kualitas udara di Provinsi Riau.

BMKG mencatat konsentrasi partikulat dalam pemantauan kualitas udara di Riau telah mencapai kategori sangat tidak sehat sejak Kamis (8/10/2026) dini hari.

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Yasir P, mengatakan titik panas terpantau di sejumlah provinsi di Sumatera, terutama Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, dan Lampung.

"Selain Sumatera Selatan, titik panas cukup tinggi juga terpantau di Jambi sebanyak 384 titik, Bangka Belitung (316), dan Lampung (251)," katanya di Pekanbaru, Kamis (8/10/2026).

Titik Panas di Sumatera Melonjak dari 3.157 Menjadi 4.845

BMKG Pekanbaru mencatat jumlah titik panas di Sumatera meningkat dari sebelumnya 3.157 titik menjadi 4.845 titik berdasarkan pembaruan data pada Rabu malam.

Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 3.847 titik.

Selain Sumatera Selatan, titik panas juga tersebar di sejumlah provinsi lain dengan rincian sebagai berikut:

  • Sumatera Selatan: 3.847 titik.
  • Jambi: 384 titik.
  • Kepulauan Bangka Belitung: 316 titik.
  • Lampung: 251 titik.
  • Riau: 19 titik.
  • Bengkulu: 19 titik.
  • Sumatera Utara: 5 titik.
  • Sumatera Barat: 2 titik.
  • Kepulauan Riau: 1 titik.
  • Aceh: 1 titik.

Data tersebut menunjukkan bahwa titik panas paling banyak terkonsentrasi di wilayah selatan Pulau Sumatera.

BMKG Temukan Titik Panas di Sejumlah Wilayah Riau

BMKG juga mendeteksi keberadaan titik panas di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Riau.

Kabupaten Kuantan Singingi menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 15 titik.

Sementara itu, Kabupaten Indragiri Hulu, Rokan Hilir, Siak, dan Kota Dumai masing-masing dilaporkan memiliki satu titik panas.

Pemantauan titik panas dilakukan sebagai bagian dari pengawasan kondisi yang berpotensi berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.

Kabut Asap Kiriman Selimuti Pekanbaru

BMKG melaporkan bahwa kondisi titik panas di wilayah selatan Sumatera berkaitan dengan munculnya kabut asap yang menyelimuti Provinsi Riau.

Kota Pekanbaru menjadi salah satu wilayah yang terdampak kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan tersebut.

Sejak Kamis dini hari, konsentrasi partikulat yang terpantau dalam pengukuran kualitas udara telah melampaui 200 mikrogram per meter kubik.

Kondisi tersebut dilaporkan masuk kategori sangat tidak sehat dalam pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

BMKG mengingatkan bahwa kabut asap yang masih tebal berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.

BMKG Imbau Warga Riau Gunakan Masker dan Batasi Aktivitas

Menghadapi kondisi kabut asap yang masih menyelimuti Riau, BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penurunan kualitas udara.

Masyarakat diminta menggunakan masker ketika harus melakukan kegiatan di luar ruangan.

BMKG juga menyarankan warga mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi kabut asap semakin pekat.

"Kami mengimbau untuk sobat memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan dan membatasi aktivitas di luar rumah apabila kondisi asap semakin pekat," katanya.

Imbauan tersebut disampaikan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap, khususnya pada saluran pernapasan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026