HOME  ⁄  Nasional

Program Makan Bergizi Gratis Serap 9.204 Relawan di Kepulauan Riau, Honor Capai Rp200 Ribu per Hari

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Program Makan Bergizi Gratis Serap 9.204 Relawan di Kepulauan Riau, Honor Capai Rp200 Ribu per Hari
Foto: Pengantaran ompreng MBG ke sekolah oleh petugas lapangan SPPG Pulau Buluh Batam, Kepri 30/7/2026 (sumber: ANTARA/Amandine Nadja)

Pantau - Kepala Regional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kepulauan Riau, Anindita Ayu, mengungkapkan sebanyak 9.204 relawan telah terserap dalam kegiatan operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui 235 dapur SPPG yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau.

Ribuan relawan tersebut bekerja dalam berbagai bidang operasional, mulai dari persiapan bahan makanan, memasak, pemorsian, distribusi, pencucian wadah makanan, hingga kebersihan dan keamanan dapur.

Anindita menjelaskan bahwa jumlah relawan dan dapur operasional tersebut merupakan data yang tercatat hingga Juni 2026, sementara setelah periode tersebut belum terdapat penambahan dapur SPPG baru di Kepulauan Riau.

“Hingga kini ada 9.204 relawan yang bekerja di 235 dapur operasional di seluruh tujuh kabupaten/kota di Kepri,” kata Anindita saat dihubungi di Batam, Kamis (8/10/2026).

Menurutnya, pelaksanaan Program MBG tidak hanya bertujuan menyediakan makanan bergizi bagi penerima manfaat, tetapi juga melibatkan tenaga kerja untuk mendukung seluruh proses operasional dapur.

Sebanyak 9.204 Relawan MBG Tersebar di Berbagai Posisi Pekerjaan

Anindita menjelaskan bahwa ribuan relawan yang terlibat dalam Program MBG di Kepulauan Riau menempati sejumlah posisi sesuai kebutuhan operasional masing-masing dapur SPPG.

Berdasarkan data SPPG Kepri, sebanyak 323 relawan bertugas sebagai petugas lapangan yang mendukung berbagai kegiatan operasional program.

Sebanyak 227 relawan menempati posisi kepala juru masak, sedangkan 1.226 relawan lainnya bekerja sebagai juru masak yang bertanggung jawab terhadap proses pengolahan makanan.

Pada bagian persiapan bahan makanan, terdapat 1.497 relawan yang bertugas menyiapkan berbagai kebutuhan sebelum proses memasak dilakukan.

Sementara itu, sebanyak 2.144 relawan bekerja sebagai tenaga pemorsian yang bertugas membagi makanan sesuai jumlah dan porsi yang telah ditentukan.

Untuk mendukung proses pendistribusian makanan kepada penerima manfaat, sebanyak 873 relawan bekerja sebagai pengemudi kendaraan operasional dapur SPPG.

Jumlah relawan terbanyak berada pada posisi tenaga pencuci ompreng atau wadah makanan, yakni mencapai 2.313 orang.

Selain itu, terdapat 299 relawan yang bertugas menjaga kebersihan lingkungan dan fasilitas dapur, serta 302 relawan lainnya bekerja sebagai tenaga keamanan.

“Rinciannya ada 323 petugas lapangan, 227 kepala juru masak, 1.226 juru masak, 1.497 tenaga persiapan, 2.144 tenaga pemorsian, 873 pengemudi, 2.313 tenaga pencuci ompreng, 299 tenaga kebersihan dan 302 tenaga keamanan,” kata Anindita.

Pembagian tugas tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan penyediaan makanan, mulai dari pengolahan hingga pendistribusian kepada penerima manfaat, dapat berjalan sesuai kebutuhan pelayanan.

Batam Miliki Dapur MBG Terbanyak, Capai 141 Unit

Dari sisi persebaran wilayah, Kota Batam menjadi daerah dengan jumlah dapur SPPG terbanyak di Provinsi Kepulauan Riau, yakni mencapai 141 dapur operasional.

Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan enam kabupaten/kota lainnya yang juga menjalankan Program MBG.

Kabupaten Karimun menempati posisi kedua dengan 29 dapur SPPG, disusul Kota Tanjungpinang yang memiliki 24 dapur operasional.

Sementara itu, Kabupaten Bintan tercatat memiliki 19 dapur SPPG yang mendukung penyediaan makanan bergizi bagi penerima manfaat.

Di Kabupaten Natuna, jumlah dapur SPPG yang beroperasi mencapai 12 unit, sedangkan Kabupaten Lingga memiliki tujuh dapur.

Adapun Kabupaten Kepulauan Anambas tercatat memiliki tiga dapur SPPG yang telah beroperasi.

Dengan demikian, sebanyak 235 dapur SPPG telah tersebar di Kota Batam, Kota Tanjungpinang, Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan, Kabupaten Natuna, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Kepulauan Anambas.

Anindita menjelaskan bahwa jumlah tenaga relawan pada setiap dapur tidak selalu sama karena disesuaikan dengan kapasitas pelayanan dan jumlah penerima manfaat Program MBG.

Kebutuhan Relawan Disesuaikan dengan Jumlah Penerima Manfaat

Berdasarkan petunjuk teknis pelaksanaan Program MBG, dapur SPPG yang melayani 2.001 hingga 3.000 penerima manfaat membutuhkan sebanyak 47 relawan.

Untuk dapur yang melayani 1.501 hingga 2.000 penerima manfaat, jumlah tenaga relawan yang dibutuhkan sebanyak 40 orang.

Sementara itu, dapur SPPG dengan jumlah penerima manfaat antara 1.251 hingga 1.500 orang membutuhkan sebanyak 35 relawan.

Adapun dapur yang melayani kurang dari 1.250 penerima manfaat membutuhkan sebanyak 30 relawan untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.

Perbedaan jumlah tenaga tersebut disesuaikan dengan skala pelayanan agar proses penyediaan dan pendistribusian makanan dapat berlangsung sesuai kebutuhan masing-masing dapur.

Selain tenaga relawan, setiap dapur SPPG juga memiliki kepala SPPG, pengawas gizi, dan pengawas keuangan sebagai bagian dari struktur pengelolaan program.

Keberadaan ketiga posisi tersebut diperlukan untuk mendukung pengelolaan operasional, pengawasan pemenuhan gizi, serta administrasi keuangan dapur.

Relawan MBG Terima Honor Rp100 Ribu hingga Rp200 Ribu per Hari

Terkait kompensasi, Anindita menjelaskan bahwa petunjuk teknis Program MBG telah mengatur besaran honor yang dapat diterima relawan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Honor relawan Program MBG berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari.

Selain memperoleh honor harian, para relawan juga mendapatkan perlindungan melalui program BPJS Ketenagakerjaan.

“Untuk kompensasi, petunjuk teknis program mencantumkan besaran honor relawan sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari. Para relawan juga mendapatkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan,” kata Anindita.

Ia menambahkan bahwa proses perekrutan relawan Program MBG tidak dilakukan secara terpusat oleh SPPG regional, melainkan secara mandiri oleh yayasan yang mengelola masing-masing dapur.

Setiap yayasan pengelola bertanggung jawab melakukan perekrutan tenaga relawan sesuai kebutuhan operasional dan kapasitas pelayanan dapur SPPG.

Hubungan kerja antara relawan dan pengelola umumnya dituangkan dalam kontrak kerja yang dibuat secara langsung dengan yayasan.

“Untuk kontrak kerja relawan biasanya dibuat dengan yayasan dan untuk proses perekrutan relawan juga dilakukan secara mandiri oleh yayasan,” kata Anindita Ayu.

Melalui mekanisme tersebut, kebutuhan tenaga kerja dapat disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat serta jenis pekerjaan yang diperlukan pada setiap dapur.

Penyerapan 9.204 relawan melalui 235 dapur SPPG menunjukkan bahwa pelaksanaan Program MBG di Kepulauan Riau turut membuka kesempatan kerja dalam berbagai bidang penyediaan makanan.

Dengan sebaran dapur di seluruh tujuh kabupaten/kota, program tersebut melibatkan tenaga kerja di berbagai wilayah, dengan konsentrasi dapur operasional terbesar berada di Kota Batam.

Secara keseluruhan, data SPPG Kepri hingga Juni 2026 mencatat keterlibatan ribuan relawan dalam Program MBG dengan pengaturan kebutuhan tenaga berdasarkan kapasitas pelayanan, ketentuan honor harian, serta perlindungan BPJS Ketenagakerjaan.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026