
Pantau - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat, Provinsi Aceh, memberikan pelatihan bahasa Jepang kepada 61 putra-putri daerah selama kurang lebih 75 hari sebagai persiapan mengikuti program magang dan bekerja di Jepang pada awal 2027.
Program tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah daerah untuk memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda sekaligus mengurangi angka pengangguran di Kabupaten Aceh Barat.
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, mengatakan seluruh peserta diwajibkan mengikuti pelatihan dan pembekalan secara intensif sebelum diberangkatkan ke Jepang melalui mekanisme penempatan tenaga kerja resmi.
"Sebelum berangkat ke Jepang, para peserta wajib mengikuti proses pelatihan dan pembekalan intensif selama kurang lebih 75 hari di Aceh Barat," kata Tarmizi, Kamis (8/10/2026).
Pelatihan tersebut mencakup penguasaan bahasa Jepang, pemahaman budaya masyarakat Jepang, serta pembinaan kesiapan fisik dan mental agar peserta mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja di luar negeri.
Sebanyak 61 Peserta Dibekali Bahasa Jepang hingga Kesiapan Mental
Tarmizi menjelaskan bahwa pelatihan selama 75 hari merupakan tahapan penting untuk memastikan seluruh peserta memiliki kemampuan dan kesiapan yang memadai sebelum mengikuti program magang maupun bekerja di Jepang.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan pembelajaran bahasa Jepang untuk meningkatkan kemampuan komunikasi yang dibutuhkan dalam aktivitas pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Selain penguasaan bahasa, peserta juga diberikan pemahaman mengenai budaya masyarakat Jepang, termasuk kebiasaan sosial dan budaya kerja yang berbeda dengan Indonesia.
Pembekalan tersebut bertujuan membantu peserta menghadapi proses adaptasi selama menjalani kegiatan di negara tujuan.
Pemerintah daerah juga memberikan pembinaan fisik dan mental sebagai bagian dari persiapan menghadapi tantangan pekerjaan dan kehidupan di luar negeri.
Selama mengikuti pelatihan di Aceh Barat, seluruh peserta memperoleh dukungan fasilitas berupa bantuan uang transportasi dan konsumsi dari pemerintah daerah.
Bantuan tersebut diberikan untuk membantu kelancaran kegiatan sekaligus meringankan kebutuhan peserta selama menjalani proses pembekalan.
Setelah menyelesaikan seluruh tahapan pelatihan dan memenuhi persyaratan administrasi, sebanyak 61 peserta dijadwalkan berangkat ke Jepang pada awal 2027.
Pemkab Aceh Barat Gandeng Disnakertrans dan BP3MI untuk Penempatan Resmi
Bupati Tarmizi menegaskan bahwa program magang dan kerja ke Jepang merupakan salah satu upaya konkret pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan pengangguran.
Menurutnya, peluang kerja internasional dapat dimanfaatkan untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda memperoleh pengalaman, meningkatkan keterampilan, dan mendapatkan penghasilan di luar negeri.
"Ini upaya kita Pemerintah Kabupaten Aceh Barat untuk mengurangi pengangguran dengan memanfaatkan peluang kerja luar negeri. Untuk tahap awal tahun ini, kita mengirimkan 61 orang ke Jepang untuk bekerja di sana," ujar Tarmizi.
Tarmizi memastikan pelaksanaan program dilakukan melalui jalur resmi dan legal agar proses penempatan tenaga kerja berlangsung sesuai ketentuan serta mendapatkan perlindungan negara.
Dalam pelaksanaannya, Pemkab Aceh Barat bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Aceh serta Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI).
Kerja sama tersebut mencakup dukungan persiapan, pengurusan administrasi, hingga proses penempatan peserta melalui mekanisme resmi.
Tarmizi menilai penggunaan jalur resmi sangat penting untuk memastikan masyarakat Aceh Barat yang bekerja di Jepang memperoleh jaminan perlindungan selama menjalani pekerjaan.
"Program ini kerja sama dengan Disnakertransmob Aceh dan BP3MI Kemenaker. Jalur resmi dari kementerian ini penting supaya ada jaminan perlindungan langsung dari negara," tegasnya.
Pemkab Aceh Barat Targetkan Ratusan Tenaga Kerja ke Luar Negeri pada 2027
Selain mempersiapkan keberangkatan 61 peserta ke Jepang, Pemkab Aceh Barat mulai membahas rencana perluasan program penempatan tenaga kerja ke sejumlah negara lain.
Pemerintah daerah saat ini tengah mendiskusikan peluang kerja sama dengan Asosiasi Ketenagakerjaan (AKN) Aceh Barat untuk mendukung pengembangan program tersebut.
Melalui rencana kerja sama itu, Pemkab Aceh Barat memproyeksikan jumlah peserta program kerja luar negeri pada 2027 dapat meningkat hingga mencapai ratusan orang.
Peningkatan kuota tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperluas akses kesempatan kerja internasional bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Tarmizi berharap program yang dimulai dari Aceh Barat dapat menjadi contoh bagi pemerintah kabupaten dan kota lainnya di Provinsi Aceh.
Ia juga menginginkan Aceh Barat menjadi daerah pelopor dalam membuka akses kerja internasional melalui program pelatihan dan penempatan tenaga kerja yang dilakukan secara resmi.
Menurutnya, keberhasilan program tersebut diharapkan mampu mendorong generasi muda untuk meningkatkan keterampilan dan memanfaatkan peluang pekerjaan yang tersedia di berbagai negara.
"Kita mulai dari Aceh Barat sebagai pelopor, yang nantinya diharapkan bisa diikuti oleh seluruh kabupaten/kota di Aceh. Harapan kita, ini bisa memotivasi anak-anak muda Aceh Barat dan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran," pungkasnya.
Keberangkatan Peserta ke Jepang Dijadwalkan Awal 2027
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menargetkan seluruh peserta dapat menyelesaikan pelatihan intensif selama 75 hari sebelum mengikuti proses keberangkatan ke Jepang.
Selain memenuhi kemampuan bahasa dan pemahaman budaya, peserta juga harus menyelesaikan pembekalan fisik, mental, serta seluruh persyaratan administrasi yang diperlukan.
Keberangkatan 61 putra-putri Aceh Barat tersebut dijadwalkan berlangsung pada awal 2027 setelah seluruh tahapan persiapan dinyatakan selesai.
Program ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan masyarakat, memperluas kesempatan kerja, serta mendukung pengurangan angka pengangguran melalui penempatan tenaga kerja internasional yang resmi dan terlindungi.
Pemkab Aceh Barat juga berharap program tersebut menjadi langkah awal pengembangan kerja sama ketenagakerjaan dengan berbagai negara sehingga semakin banyak generasi muda daerah memperoleh kesempatan bekerja di luar negeri.
- Penulis :
- Arian Mesa




