HOME  ⁄  Nasional

RSUD Bangka Selatan Antisipasi ISPA dan Diare Pascakebakaran Serdang, Warga Diminta Gunakan Masker

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

RSUD Bangka Selatan Antisipasi ISPA dan Diare Pascakebakaran Serdang, Warga Diminta Gunakan Masker
Foto: Pemkab Bangka Selatan mendirikan sejumlah posko kesehatan untuk melayani korban kebakaran Serdang, Minggu (11/10/2026).

Pantau - RSUD Kriopanting Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, meningkatkan pelayanan kesehatan darurat untuk mengantisipasi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan iritasi mata pada warga terdampak kebakaran hebat di Dusun Serdang, Minggu (11/10/2026).

Langkah tersebut dilakukan melalui pendirian posko kesehatan, penyediaan obat-obatan, serta pemantauan kondisi pengungsi yang terdampak kebakaran sejak Sabtu (10/10/2026).

Direktur RSUD Kriopanting Payung Himawan Setianto mengatakan penanganan kesehatan melibatkan sejumlah puskesmas dengan tenaga medis yang bertugas secara bergantian.

Menurutnya, paparan abu dan sisa pembakaran di sekitar permukiman menjadi salah satu risiko kesehatan yang perlu diwaspadai selama masa pemulihan.

RSUD Antisipasi ISPA, Diare, dan Iritasi Mata

Himawan menjelaskan bahwa ISPA, diare, dan iritasi mata merupakan gangguan kesehatan yang menjadi perhatian petugas medis setelah kebakaran melanda kawasan permukiman Dusun Serdang.

Risiko gangguan pernapasan menjadi perhatian karena abu dan material sisa kebakaran masih terdapat di sekitar lokasi kejadian.

Meski demikian, petugas kesehatan hingga Minggu baru menangani warga yang mengalami luka bakar dan iritasi mata.

"Sejauh ini kami baru menangani warga yang mengalami luka bakar dan iritasi mata. Gejala penyakit lainnya belum ditemukan," ujarnya.

Himawan menegaskan bahwa pemantauan kesehatan tetap diperlukan untuk mengantisipasi munculnya penyakit selama warga berada di lokasi pengungsian.

Tiga Puskesmas Dikerahkan Tangani Korban Kebakaran

Penanganan kesehatan korban kebakaran melibatkan RSUD Kriopanting Payung bersama tiga puskesmas di Kabupaten Bangka Selatan.

Ketiga fasilitas kesehatan tersebut adalah Puskesmas Simpang Rimba, Puskesmas Pulau Besar, dan Puskesmas Payung.

Tenaga medis dari fasilitas kesehatan tersebut dikerahkan secara bergantian untuk memberikan pelayanan kepada warga terdampak.

Pemerintah daerah juga telah mendirikan posko kesehatan darurat dan menyediakan obat-obatan untuk mendukung penanganan pascabencana.

Pelayanan kesehatan difokuskan pada penanganan keluhan warga sekaligus pemantauan kondisi pengungsi.

Anak-Anak dan Lansia Jadi Perhatian Khusus

Himawan mengatakan anak-anak dan lanjut usia menjadi kelompok yang mendapat perhatian khusus dalam pelayanan kesehatan pascakebakaran.

Selain pemeriksaan kesehatan, kebutuhan air bersih bagi warga yang mengungsi juga menjadi perhatian petugas.

Ia meminta agar distribusi air bersih segera dilakukan di posko pengungsian untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Ketersediaan air bersih dinilai penting dalam upaya mencegah munculnya penyakit, termasuk diare, selama masa pemulihan.

Himawan juga mengimbau warga menggunakan masker ketika berada di sekitar lokasi kebakaran.

Penggunaan masker dianjurkan untuk mengurangi paparan abu dan sisa pembakaran yang berpotensi mengganggu saluran pernapasan.

Kebakaran Serdang Berdampak pada Ribuan Warga

Berdasarkan pendataan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Minggu pukul 07.00 WIB, kebakaran di Dusun Serdang berdampak pada sekitar 500 rumah.

Jumlah warga terdampak dalam laporan tersebut mencapai sekitar 500 kepala keluarga atau 2.000 jiwa.

BPBD menyatakan tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa kebakaran tersebut.

Kebakaran mulai terjadi pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 15.10 WIB dan meluas ke kawasan permukiman warga.

Api baru berhasil dipadamkan pada Minggu pagi setelah proses penanganan kebakaran berlangsung.

Petugas kemudian melanjutkan pendinginan di lokasi kejadian untuk mencegah api kembali menyala.

Sementara itu, pelayanan kesehatan darurat dan pemantauan kondisi warga terus dilakukan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan selama masa pemulihan pascakebakaran.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026