HOME  ⁄  Nasional

Pertamina Berdayakan 135 Warga Pesisir NTB Lewat Sekolah Alam, Tanam 4.500 Mangrove dan Dorong Ekonomi Lokal

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pertamina Berdayakan 135 Warga Pesisir NTB Lewat Sekolah Alam, Tanam 4.500 Mangrove dan Dorong Ekonomi Lokal
Foto: Kegiatan Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pantau - PT Pertamina Patra Niaga memberdayakan masyarakat pesisir melalui program Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang telah menjangkau 135 penerima manfaat sejak dilaksanakan pada 2024.

Program tersebut mengintegrasikan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi melalui pendekatan pembelajaran berbasis alam.

Hingga 2026, kegiatan ini telah mendukung penanaman 4.500 bibit mangrove, melibatkan 1.772 peserta dalam kegiatan pembelajaran, serta menghasilkan tambahan pendapatan kelompok masyarakat sebesar Rp24 juta per tahun.

VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas akses pendidikan sekaligus mengembangkan potensi masyarakat pesisir.

Sekolah Alam Anak Pesisir Jangkau 135 Penerima Manfaat

Dian menjelaskan bahwa Sekolah Alam Anak Pesisir dirancang untuk menghadirkan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sarana pendidikan.

Anak-anak memperoleh kesempatan mengenal ekosistem mangrove, mempelajari pelestarian lingkungan, mengembangkan kreativitas, dan memahami potensi ekonomi daerah tempat tinggal mereka.

"Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, dan kemandirian anak-anak. Kami percaya bahwa pemberdayaan yang mengintegrasikan pendidikan, ekologi, dan ekonomi dapat menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat pesisir," ujar Dian.

Program yang berjalan sejak 2024 tersebut menggunakan pendekatan 3E, yakni ekologi, edukasi, dan ekonomi.

Kawasan mangrove, wilayah pesisir, serta ruang terbuka dimanfaatkan untuk kegiatan belajar langsung di luar kelas.

Kegiatan pembelajaran mencakup penanaman dan perawatan mangrove, pengenalan ekosistem pesisir, permainan tradisional, serta pemahaman terhadap potensi ekonomi lokal.

Pertamina Dukung Penanaman 4.500 Mangrove di Kawasan Pesisir

Dari aspek lingkungan, Sekolah Alam Anak Pesisir telah mendukung penanaman sebanyak 4.500 bibit mangrove untuk rehabilitasi kawasan pesisir.

Program tersebut juga mencatat potensi penyimpanan karbon sebesar 80,763 ton CO2 per hektare.

Penanaman mangrove menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran yang melibatkan anak-anak dalam upaya pelestarian lingkungan.

Selain mengenal fungsi ekosistem pesisir, peserta diajak memahami pentingnya menjaga kawasan mangrove melalui kegiatan langsung di lapangan.

Dian menyebut program tersebut turut mendorong keterlibatan warga dalam pengelolaan lingkungan.

"Program ini juga memperkuat kolaborasi dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan pesisir," kata Dian pula.

Kegiatan Pendidikan Libatkan 1.772 Peserta

Pada aspek pendidikan, program Sekolah Alam Anak Pesisir mencatat keterlibatan 1.772 peserta dalam 11 kegiatan pembelajaran pesisir.

Destinasi edukasi mangrove dan pesisir yang dikembangkan melalui program tersebut juga menerima 860 kunjungan per tahun.

Pengembangan kegiatan dilakukan secara bertahap sejak 2024 dengan pembentukan kelompok dan pembangunan Rumah Literasi sebagai ruang pembelajaran.

Pada tahun yang sama, program turut meningkatkan kapasitas pengelola melalui kegiatan pembelajaran pembanding atau benchmarking ke Anak Alam Learning House di Sumbawa, NTB.

Selanjutnya, pada 2025, pengelola mengembangkan kurikulum 3E sebagai pedoman kegiatan belajar.

Pada 2026, pengembangan Pertakid dilakukan sebagai media pembelajaran bagi peserta Sekolah Alam Anak Pesisir.

Program Hasilkan Tambahan Pendapatan Rp24 Juta per Tahun

Selain pendidikan dan lingkungan, program tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengembangan ekonomi masyarakat pesisir.

Pertamina Patra Niaga mencatat tambahan pendapatan kelompok berbasis potensi lokal sebesar Rp24 juta per tahun.

Program ini juga menghasilkan efisiensi biaya energi sebesar Rp6,6 juta per tahun melalui pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Pemanfaatan energi surya menjadi bagian dari pendekatan pemberdayaan yang menghubungkan aspek lingkungan dengan kegiatan ekonomi masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Pertamina berupaya meningkatkan manfaat ekonomi dari potensi lokal sekaligus memperkuat partisipasi warga.

Sekolah Alam Berawal dari Gerakan Pendidikan Delapan Anak

Pendiri Komunitas Sanggar Belajar Jalan Pulang, Zahit Idris, mengatakan kegiatan pendidikan bagi anak-anak pesisir di Desa Cendi Manik telah dirintis sejak 2022.

Gerakan tersebut bermula dari persoalan anak putus sekolah dan keterbatasan akses pendidikan di wilayah setempat.

Pada awal pelaksanaannya, kegiatan belajar hanya diikuti delapan anak dan berlangsung di musala karena belum tersedia ruang kelas permanen maupun kurikulum pembelajaran.

"Sanggar Belajar Jalan Pulang hadir untuk dapat menjadi ruang belajar dan tempat pulang bagi anak-anak pesisir di Cendi Manik yang kurang memiliki akses pendidikan. Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, anak-anak dapat belajar menjaga lingkungan, mengembangkan kreativitas dan diri, serta memperluas wawasan tentang alam," ujarnya pula.

Melalui pengembangan Sekolah Alam Anak Pesisir, kegiatan pendidikan tersebut kini didukung pembelajaran berbasis lingkungan dan pengembangan potensi ekonomi masyarakat.

Pertamina Patra Niaga menyatakan program ini diarahkan untuk menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi anak-anak dan masyarakat pesisir Desa Cendi Manik.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026