
Pantau - Penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 dimanfaatkan Museum Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat Sasak kepada wisatawan domestik dan mancanegara melalui pameran artefak kebudayaan di kawasan Sirkuit Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB Sinta Agathia Soedjoko mengatakan ajang balap motor internasional tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas pengenalan sejarah dan tradisi daerah kepada masyarakat dunia.
Pameran yang mengangkat kisah Sekardiu dalam tradisi wayang Sasak tersebut mengusung tema Speed, Energy, and Connection dengan menghubungkan filosofi budaya lokal dan karakter olahraga balap motor.
"Kami sangat percaya setiap kesempatan adalah momen di mana kami bisa memperkenalkan banyak hal, kekayaan-kekayaan NTB termasuk budaya yang saat ini dipamerkan bersamaan dengan ajang MotoGP," ujar Sinta dalam pernyataannya di Mataram, Minggu (11/10/2026).
Museum NTB Perkenalkan Budaya Sasak di Sirkuit Mandalika
Museum NTB menggelar pameran kebudayaan di kawasan Sirkuit Mandalika bersamaan dengan penyelenggaraan MotoGP Indonesia 2026.
Pameran tersebut menghadirkan artefak dan kisah budaya yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Sasak di Nusa Tenggara Barat.
Menurut Sinta, kehadiran pameran memberikan kesempatan bagi wisatawan mancanegara untuk mengenal kebudayaan daerah di tengah berlangsungnya kompetisi balap motor dunia.
Ia menilai daya tarik Mandalika tidak hanya berasal dari pariwisata olahraga, tetapi juga kekayaan sejarah dan tradisi masyarakat setempat.
Pameran tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan identitas budaya NTB kepada pengunjung yang datang untuk menyaksikan MotoGP.
Kisah Sekardiu Diangkat dalam Pameran Budaya MotoGP
Museum NTB memilih Sekardiu sebagai tema utama pameran karena memiliki keterkaitan filosofis dengan kecepatan, energi, dan kekuatan.
Dalam tradisi wayang Sasak, Sekardiu merupakan hewan mitologi yang digambarkan sebagai kendaraan tokoh Jayengrana.
Kisah tersebut menceritakan perjalanan Jayengrana dalam mencari kebahagiaan tertinggi dan pengetahuan.
Sinta mengatakan nilai-nilai dalam mitologi Sekardiu dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan warisan budaya Sasak kepada masyarakat masa kini.
"Kita bisa tarik filosofi dari mitologi kuda Sekardiu yang sangat related dengan MotoGP karena terkait dengan kecepatan, energi, dan hubungan," kata dia.
Melalui pendekatan tersebut, penyelenggara pameran menghubungkan cerita tradisional dengan karakter MotoGP yang identik dengan kecepatan dan kekuatan.
Museum NTB Hubungkan Filosofi Sekardiu dengan Balap Motor
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan pameran dirancang untuk mempertemukan nilai budaya Sasak dengan semangat olahraga balap motor.
Menurutnya, Sekardiu memiliki karakter yang dapat dikaitkan dengan unsur kecepatan dan kekuatan dalam kompetisi MotoGP.
"Sekardiu adalah kendaraan dari Jayengrana, hewan mitologi yang memiliki keterkaitan dengan kecepatan dan kekuatan," ucap Nuralam.
Ia menjelaskan bahwa kisah Sekardiu tidak hanya berkaitan dengan gambaran kekuatan, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang dapat diperkenalkan kepada generasi sekarang.
Melalui pameran tersebut, pengunjung diajak memahami hubungan antara cerita tradisional masyarakat Sasak dan karakter olahraga modern.
Wisatawan Australia hingga Spanyol Kunjungi Pameran
Museum NTB mencatat pameran kebudayaan di kawasan Sirkuit Mandalika mendapat kunjungan dari wisatawan berbagai daerah di Indonesia.
Pengunjung mancanegara juga tercatat datang dari sejumlah negara, termasuk Australia, Prancis, Belanda, dan Spanyol.
Kehadiran wisatawan asing memberikan kesempatan bagi Museum NTB untuk memperkenalkan kisah Sekardiu dan tradisi wayang Sasak kepada masyarakat internasional.
Pameran tersebut menjadi bagian dari pemanfaatan ajang olahraga internasional sebagai sarana pengenalan warisan budaya daerah.
Melalui penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026, Dekranasda dan Museum NTB berharap kekayaan budaya Nusa Tenggara Barat semakin dikenal oleh pengunjung dari berbagai negara.
- Penulis :
- Gerry Eka




