
Pantau - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, mengimbau seluruh pekerja migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi agar tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan menyusul meningkatnya ketegangan keamanan akibat konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.
Imbauan tersebut disampaikan setelah dua serangan terhadap Bandar Udara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu, 10 Oktober, dan Minggu, 11 Oktober, yang diklaim dilakukan oleh kelompok Houthi.
Berdasarkan laporan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang diterima hingga Senin pagi, belum terdapat warga negara Indonesia (WNI), termasuk pekerja migran, yang dilaporkan menjadi korban kedua serangan tersebut.
Mukhtarudin meminta para pekerja migran tidak panik serta memastikan setiap informasi mengenai perkembangan konflik berasal dari sumber resmi.
"Imbauan untuk PMI, jangan panik. Yang kedua, tetap harus mendapatkan informasi dari kanal yang resmi, dari KBRI kita. Jangan termakan hoaks," kata Menteri Mukhtarudin ditemui di Kantor Kementerian P2MI di Jakarta, Senin.
Menteri P2MI Ingatkan Pekerja Migran Tidak Terpengaruh Hoaks
Mukhtarudin menekankan pentingnya kewaspadaan dalam menerima maupun menyebarluaskan informasi mengenai perkembangan situasi keamanan di Arab Saudi.
Menurutnya, informasi yang belum terverifikasi berpotensi memperburuk keadaan dan menimbulkan kekhawatiran tambahan di kalangan pekerja migran serta keluarga mereka.
Karena itu, para pekerja migran diminta memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain.
Mukhtarudin menyarankan pekerja migran Indonesia untuk menjadikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh sebagai salah satu sumber informasi utama.
Selain mengikuti informasi dari KBRI, para pekerja migran juga diminta memperhatikan perkembangan situasi melalui pengumuman resmi otoritas Arab Saudi.
Saluran komunikasi perwakilan diplomatik Indonesia diharapkan menjadi rujukan bagi WNI yang membutuhkan informasi mengenai kondisi keamanan di negara tersebut.
Mukhtarudin mengingatkan bahwa kabar yang beredar tanpa sumber jelas tidak seharusnya dijadikan dasar untuk mengambil keputusan.
"Jangan juga termakan isu-isu yang memperburuk keadaan. Jadi percayakan dan cari saluran resmi informasi, dari perwakilan kita yang ada di luar negeri KBRI khususnya" ucapnya.
Pemerintah berharap para pekerja migran tetap mengikuti perkembangan situasi dengan tenang tanpa mengabaikan langkah-langkah kewaspadaan.
Pemerintah Pastikan Belum Ada Laporan WNI Jadi Korban Serangan
Dalam kesempatan yang sama, Mukhtarudin menyampaikan perkembangan kondisi WNI di Arab Saudi setelah dua serangan terhadap Bandar Udara Internasional King Khalid.
Informasi tersebut mengacu pada laporan Kementerian Luar Negeri yang diterima pemerintah hingga Senin pagi.
Berdasarkan laporan tersebut, belum terdapat WNI yang dilaporkan menjadi korban maupun terdampak langsung oleh kedua serangan.
Mukhtarudin menegaskan bahwa informasi itu juga mencakup pekerja migran Indonesia yang berada di Arab Saudi.
Meski belum ada laporan korban dari Indonesia, ia menyebut serangan tersebut telah berdampak terhadap warga negara lain.
Kewarganegaraan yang disebutkan meliputi Amerika Serikat, Suriah, Palestina, dan Arab Saudi.
"Belum ada warga Indonesia yang terdampak termasuk pekerja migran, jadi belum ada. Sampai pagi tadi dari Kemlu mengatakan tidak ada warga Indonesia yang terdampak. Memang ada warga Amerika, ada warga Syria, ada warga Palestina, orang Arab Saudinya sendiri, tapi warga Indonesia tidak ada," ucap Mukhtarudin.
Mukhtarudin menegaskan bahwa ketiadaan laporan korban dari Indonesia merupakan informasi sementara berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan pemerintah.
Pemerintah tetap memperhatikan perkembangan keamanan karena situasi konflik dapat berubah sewaktu-waktu.
Melalui perwakilan diplomatik di Arab Saudi, pemerintah terus memantau kondisi geopolitik dan keamanan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak terhadap keselamatan WNI.
"Jadi sementara tetap belum ada korban dari pihak Indonesia. Namun, pihak KBRI terus-menerus memantau kondisi geopolitik yang ada di Arab Saudi," ujar perwakilan pemerintah tersebut.
Dua Serangan Bandara Riyadh Dilaporkan Tewaskan Sedikitnya 14 Orang
Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi meningkat setelah dua serangan dilaporkan terjadi di Bandar Udara Internasional King Khalid, Riyadh.
Serangan pertama terjadi pada Sabtu, 10 Oktober, dan menyasar fasilitas penerbangan sipil tersebut.
Berdasarkan pernyataan Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi, serangan pertama menyebabkan 13 orang meninggal dunia.
Selain korban meninggal dunia, lebih dari 300 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Peristiwa itu juga menyebabkan penangguhan pengoperasian bandara sehingga aktivitas penerbangan mengalami gangguan.
Sehari kemudian, pada Minggu, 11 Oktober, Bandar Udara Internasional King Khalid kembali dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Serangan kedua tersebut menyebabkan seorang warga negara Pakistan meninggal dunia.
Sebanyak 11 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat kejadian pada Minggu.
Berdasarkan jumlah korban yang dilaporkan dalam kedua peristiwa tersebut, sedikitnya 14 orang meninggal dunia.
Sementara itu, jumlah korban luka dari dua serangan tersebut tercatat lebih dari 311 orang.
Rangkaian serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil itu menjadi salah satu perkembangan keamanan yang mendapat perhatian pemerintah Indonesia karena terdapat WNI dan pekerja migran yang berada di Arab Saudi.
Koalisi Arab Saudi Klaim Cegat Rudal Balistik Houthi
Setelah dua serangan terhadap bandara di Riyadh, ketegangan keamanan kembali dilaporkan terjadi pada Senin pagi waktu setempat.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang beroperasi di Yaman menyatakan berhasil mencegat sebuah rudal balistik yang diluncurkan oleh kelompok Houthi.
Rudal tersebut dilaporkan diarahkan menuju Khamis Mushait, wilayah di bagian barat daya Arab Saudi.
Menurut pernyataan koalisi, rudal berhasil dicegat dan dihancurkan sebelum mencapai sasaran.
Peristiwa tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam rangkaian ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi setelah serangan terhadap bandara di Riyadh.
Meningkatnya ancaman keamanan tersebut membuat warga negara asing, termasuk pekerja migran Indonesia, perlu terus memperhatikan informasi resmi mengenai situasi setempat.
KBRI Riyadh Terus Pantau Keamanan WNI dan Pekerja Migran
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian P2MI dan perwakilan diplomatik di Arab Saudi menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan.
KBRI Riyadh terus mengikuti perkembangan situasi keamanan dan geopolitik untuk memperbarui informasi mengenai kondisi WNI, termasuk pekerja migran.
Pemantauan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan perubahan kondisi yang dapat memengaruhi keselamatan warga Indonesia.
Para pekerja migran diharapkan tetap mengikuti arahan otoritas setempat serta memanfaatkan saluran komunikasi resmi KBRI untuk mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mukhtarudin kembali mengingatkan agar pekerja migran tidak mempercayai hoaks maupun menyebarluaskan kabar yang belum terverifikasi.
Hingga Senin pagi, pemerintah Indonesia menyatakan belum menerima laporan mengenai WNI atau PMI yang menjadi korban dari dua serangan terhadap Bandar Udara Internasional King Khalid.
Pemerintah melalui KBRI Riyadh akan terus memantau perkembangan keamanan di Arab Saudi untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan situasi yang berdampak terhadap warga negara Indonesia.
- Penulis :
- Leon Weldrick




