
Pantau - Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley menyerukan penghentian konflik antarkelompok masyarakat di Kabupaten Mimika setelah rangkaian pertikaian yang berlangsung sejak Oktober 2025 menewaskan sedikitnya 17 orang dan menyebabkan puluhan lainnya terluka.
Seruan tersebut disampaikan Deinas saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Kabupaten Mimika di Kantor Pusat Pemerintahan SP 3, Distrik Kuala Kencana, Papua Tengah, Senin (12/10/2026).
Deinas menegaskan konflik antarsesama masyarakat Papua harus dihentikan karena berpotensi menghambat pembangunan, merusak persatuan, dan mengganggu kemajuan daerah.
"Konflik yang terjadi ini bukan perang suku, tetapi itu perang saudara maka harus dihentikan. Kita masyarakat Papua harus jadi satu, kalau antarkita sesama Papua terus berkonflik, kapan Papua ini bisa maju dan berkembang," ujarnya.
Ia meminta seluruh masyarakat, khususnya warga asli Papua yang tinggal di Mimika, tidak kembali terlibat dalam pertikaian antarkelompok.
Konflik Kwamki Narama Tewaskan Sedikitnya 17 Orang
Seruan Wakil Gubernur Papua Tengah tersebut berkaitan dengan konflik berkepanjangan antara kelompok Dang dan Newegalen di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika.
Pertikaian kedua kelompok berlangsung sejak Oktober 2025 dan sempat mengalami beberapa kali proses penyelesaian melalui mediasi maupun kesepakatan perdamaian adat.
Pada Oktober 2025, kepolisian telah berupaya mempertemukan kedua kelompok untuk menyelesaikan konflik melalui mediasi.
Upaya perdamaian kemudian dilanjutkan melalui prosesi adat pada 12 Januari 2026, tetapi pertikaian kembali terjadi setelah kesepakatan tersebut.
Kedua kelompok kembali menyepakati perdamaian pada 24 Juni 2026 melalui ritual adat patah panah dan panah babi yang berlangsung di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama.
Berdasarkan laporan media setempat saat prosesi perdamaian tersebut, konflik yang berlangsung sekitar delapan bulan telah mengakibatkan sedikitnya 17 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Pada Juli 2026, kepolisian setempat menyatakan situasi keamanan di Kwamki Narama mulai berangsur kondusif setelah tercapainya perdamaian antara kedua kelompok.
Deinas berharap kesepakatan tersebut dapat terus dijaga agar pertikaian serupa tidak kembali terjadi di tengah masyarakat.
Wagub Tegaskan Mimika Milik Seluruh Masyarakat
Deinas mengingatkan bahwa perbedaan suku, budaya, maupun daerah asal tidak boleh menjadi penyebab perpecahan di Kabupaten Mimika.
Menurutnya, seluruh masyarakat yang tinggal di Mimika memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan dan mendukung pembangunan daerah.
"Mimika ini milik semua masyarakat yang ada di sini, dari Sabang sampai Merauke. Tidak memandang kamu dari suku mana, tetapi semua yang tinggal di Mimika sama-sama berpikir membangun Mimika di bawah pimpinan bupati dan wakil bupati Mimika," katanya.
Ia menegaskan pembangunan Kabupaten Mimika membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta lembaga perwakilan rakyat.
Deinas secara khusus menyoroti pentingnya dukungan TNI-Polri dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif.
Menurutnya, bupati dan wakil bupati Mimika telah mendapat kepercayaan masyarakat untuk membawa perubahan serta meningkatkan kesejahteraan daerah.
Karena itu, ia berharap masyarakat dapat mendukung kepemimpinan pemerintah daerah dengan menjaga persatuan dan menghindari konflik yang dapat menghambat pembangunan.
Generasi Muda Mimika Diminta Jauhi Minuman Keras
Selain menyoroti konflik antarkelompok, Deinas turut menyampaikan pesan kepada generasi muda agar menjauhi konsumsi minuman keras yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan.
Ia menilai peringatan tiga dekade Kabupaten Mimika harus menjadi momentum bagi anak muda untuk membangun masa depan yang lebih baik.
"Pada momen HUT ke-30 Mimika ini saya berpesan kepada generasi muda berhenti mengonsumsi minuman keras. Karena ketika miras dikonsumsi berlebihan akan menyebabkan kematian," ujarnya.
Deinas juga mengingatkan generasi muda untuk menghindari perilaku seksual berisiko sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran HIV/AIDS.
"Angka penyakit HIV/AIDS di wilayah Papua Tengah ini hampir setiap kabupaten ini ada. Saya sangat berharap agar kaum muda menjaga hal ini agar terhindar dari penyakit HIV/AIDS," katanya.
Sebanyak 199 Kasus Baru HIV/AIDS Ditemukan di Mimika
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, sebanyak 199 kasus baru HIV/AIDS ditemukan sepanjang Januari hingga Juni 2026 melalui pemeriksaan kesehatan masyarakat.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 134 kasus ditemukan pada kelompok usia 15 hingga 34 tahun.
Sementara itu, sepanjang 2025 Dinas Kesehatan Mimika mencatat 489 kasus baru HIV/AIDS dari total 59.737 orang yang menjalani pemeriksaan.
Data tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah dalam meningkatkan upaya pencegahan penularan HIV/AIDS, khususnya pada kelompok usia muda.
Deinas berharap momentum HUT ke-30 Kabupaten Mimika dapat memperkuat persatuan masyarakat sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap persoalan sosial dan kesehatan.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat menjaga situasi keamanan agar pembangunan Kabupaten Mimika dapat berjalan tanpa terganggu konflik antarkelompok.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




