
Pantau - Sekolah Dasar Negeri (SDN) 14 Dangin Puri, Denpasar, Bali, menerapkan uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan untuk melatih kemandirian dan tanggung jawab siswa melalui kegiatan melayani serta membagikan makanan kepada teman-temannya.
Program percontohan yang diselenggarakan Polda Bali tersebut mulai dilaksanakan pada 5 Oktober 2026 dan dijadwalkan berlangsung selama 10 hari kerja.
Kepala SDN 14 Dangin Puri, Ni Luh Sriwati, mengatakan sistem prasmanan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bertanggung jawab sekaligus meningkatkan kemampuan bekerja sama dengan teman sebaya.
"Untuk mandiri iya, kalau memang kita lihat untuk mengajar siswa itu memang betul mengajari anak-anak untuk bertanggung jawab, dia bisa mandiri, yaitu dengan saling melayani teman-temannya untuk pengambilan makanan prasmanan," kata Sriwati di Denpasar, Selasa (13/10/2026).
Pelaksanaan MBG prasmanan tersebut mendapat dukungan dari dapur pusat yang berlokasi di Jalan Plawa, Denpasar, sebagai bagian dari program percontohan yang dijalankan Polda Bali.
Sebanyak 63 Siswa Kelas 5 dan 6 Bergantian Melayani Makanan
SDN 14 Dangin Puri memiliki 205 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 yang menjadi penerima manfaat program MBG.
Namun, pelaksanaan uji coba prasmanan secara khusus melibatkan 63 siswa kelas 5 dan kelas 6 karena dinilai lebih siap menjalankan tugas pembagian makanan.
Dalam pelaksanaannya, sebanyak lima siswa ditugaskan secara bergantian untuk melayani dan membagikan makanan kepada teman-temannya.
"Untuk sementara ini karena anak kelas tinggi di kelas 5 dan kelas 6, kita gilirkan karena petugasnya kan lima orang biar tidak anak itu saja, bergilir dari siswa untuk siswa," ujar Sriwati.
Sistem tersebut memungkinkan setiap siswa mendapatkan pengalaman menjadi petugas pembagian makanan tanpa harus mengandalkan kelompok yang sama setiap hari.
Selain melatih kemandirian, kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam menjalankan tanggung jawab dan melayani orang lain.
Sementara itu, siswa kelas 1 hingga kelas 4 masih menerima makanan menggunakan wadah ompreng sebagaimana pelaksanaan MBG sebelumnya.
MBG Prasmanan Membutuhkan Waktu Lebih Lama hingga Kurangi Jam Istirahat
Meski memberikan manfaat dalam pembentukan karakter siswa, penerapan MBG prasmanan menghadapi kendala terkait waktu pembagian makanan.
Sriwati menjelaskan bahwa sistem prasmanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit lebih lama dibandingkan pembagian makanan menggunakan ompreng.
"Sejauh ini kondusif, cuma di sini memerlukan waktu lebih lama, 30 menit dari MBG yang sebelumnya karena anak yang lain selain kelas 5-6 langsung pakai ompreng," ujarnya.
Tambahan waktu tersebut berdampak pada berkurangnya kesempatan siswa untuk beristirahat sebelum kembali mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kondisi ini terjadi karena kegiatan belajar harus kembali dimulai pada pukul 10.00 Wita sehingga waktu makan dan istirahat menjadi terbatas.
"Iya, ngepas, kadang-kadang anak-anak ya tidak bisa istirahat, kurang jam istirahat jadinya karena waktu belajarnya sudah mulai jam 10,” ucapnya.
Pihak sekolah tetap menjalankan uji coba tersebut sambil memperhatikan tantangan teknis yang muncul selama pelaksanaan pembagian makanan.
Siswa Nilai MBG Prasmanan Lebih Segar dan Ingin Program Dilanjutkan
Di tengah kendala waktu pembagian, sejumlah siswa memberikan tanggapan positif terhadap penyajian MBG menggunakan sistem prasmanan.
Salah satunya adalah Made Bagus Canendra Widi Putra, siswa kelas 5 yang mendapatkan kesempatan menjadi petugas pembagian makanan.
Made Bagus menilai makanan yang disajikan melalui sistem prasmanan terasa lebih segar dibandingkan makanan yang langsung diterima menggunakan ompreng.
"Kalau mendapatkan MBG prasmanan itu rasanya lebih enak dibanding MBG yang langsung di ompreng karena masih baru matang banget gitu," kata Made Bagus.
Ia juga menceritakan pengalamannya saat pertama kali bertugas melayani makanan kepada teman-temannya.
Menurutnya, penggunaan alat penjepit makanan sempat menjadi tantangan karena dirinya belum terbiasa melakukan kegiatan tersebut.
"Kalau menurut saya sih gampang, tapi karena belum terbiasa bagian mencapit-capit itu jadinya agak jatuh-jatuh sering," tuturnya.
Meski sempat mengalami kesulitan, Made Bagus mengaku senang mendapatkan kesempatan menjadi petugas dan bersedia kembali menjalankan tugas serupa.
"Iya pertama, tapi mau lagi jadi petugas," ucapnya.
Para siswa juga berharap sistem MBG prasmanan dapat terus diterapkan karena makanan yang disajikan dinilai lebih segar dengan pilihan menu yang berganti setiap hari.
Uji coba selama 10 hari kerja tersebut menjadi bagian dari penerapan alternatif pembagian MBG yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar kemandirian dan tanggung jawab kepada siswa.
- Penulis :
- Aditya Yohan




