
Pantau - Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, mengedukasi 50 peserta untuk mengolah sampah bambu di kawasan pesisir Pulau Panggang menjadi instalasi seni bawah laut yang dirancang mendukung konservasi ekosistem laut sekaligus pengembangan pariwisata bahari.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Sampah Pesisir di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Achmad Hariadi, mengatakan pelatihan melibatkan petugas kebersihan dan komunitas lingkungan untuk meningkatkan pemanfaatan sampah pesisir.
“Kami menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Sampah Pesisir melibatkan lima puluh peserta dari Sudin LH, PPSU dan komunitas lingkungan,” kata Achmad di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Sampah Bambu Diolah Menjadi Gerbang Seni Bawah Laut
Achmad menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah yang ditemukan di kawasan pesisir.
Material yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan kembali menjadi karya yang mendukung kegiatan lingkungan.
“Bambu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kami olah melalui lokakarya perakitan menjadi instalasi seni bawah laut,” kata dia.
Dalam kegiatan tersebut, peserta berhasil membuat instalasi berbentuk gerbang bambu dengan konsep living underwater art atau seni bawah laut yang hidup.
Instalasi tersebut tidak hanya dirancang sebagai karya seni, tetapi juga sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya biota laut.
Pemanfaatan bambu bekas diharapkan dapat mengurangi sampah pesisir sekaligus menghadirkan daya tarik tambahan bagi wisata bahari Kepulauan Seribu.
Material Bambu Dibersihkan agar Tidak Merusak Ekosistem
Achmad menegaskan bahwa penggunaan sampah bambu untuk instalasi bawah laut tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan.
Sebelum dirakit, bambu dipilah dan dibersihkan dari paku, kawat, serta residu anorganik yang masih menempel.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko pencemaran maupun gangguan terhadap kehidupan biota laut.
Penempatan instalasi juga harus melalui kajian teknis dan pengujian keamanan material.
“Kami juga melakukan pemantauan ekologis secara berkala, untuk memastikan instalasi aman dan tidak mengganggu ekosistem perairan,” katanya.
Pengawasan tersebut dilakukan agar pemanfaatan sampah menjadi karya seni tetap sejalan dengan tujuan konservasi laut.
Pemkab Dorong Pengembangan Wisata Bahari dan Ekonomi Biru
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu berharap inovasi pengolahan sampah bambu dapat dikembangkan di wilayah lain dengan konsep yang berbeda.
Selain membantu penanganan sampah pesisir, kegiatan tersebut diharapkan mendukung pengembangan ekonomi biru melalui pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Achmad mengajak masyarakat berpartisipasi menjaga kebersihan pesisir dan memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna.
"Mari bersama-sama menjaga kebersihan pesisir dan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat demi kelestarian ekosistem laut dan pariwisata berkelanjutan,” kata dia.
Lurah Pulau Panggang Apresiasi Kolaborasi Warga dan Petugas Kebersihan
Lurah Pulau Panggang, Jamaluddin, mengapresiasi kegiatan pengolahan sampah bambu menjadi instalasi seni bawah laut.
Menurutnya, kerja sama antara pemerintah, petugas kebersihan, dan komunitas lingkungan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan wilayah pesisir.
Kegiatan tersebut juga dinilai dapat menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan perlindungan lingkungan laut.
“Kami berharap kegiatan ini meningkatkan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang pengembangan wisata bahari di Pulau Panggang,” kata dia.
Pemerintah daerah berharap pemanfaatan sampah pesisir menjadi instalasi seni dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem laut dan mendukung pariwisata berkelanjutan.
- Penulis :
- Aditya Yohan




