
Pantau - Gubernur Bali Wayan Koster memastikan sektor pariwisata di Bali masih berjalan aman meskipun antrean kendaraan terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) akibat terganggunya distribusi bahan bakar minyak (BBM).
Koster menyampaikan hal tersebut saat memberikan keterangan mengenai kondisi pariwisata dan persoalan distribusi BBM di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, gangguan distribusi BBM yang menyebabkan antrean kendaraan di sejumlah SPBU belum menimbulkan dampak serius terhadap aktivitas pariwisata di Pulau Dewata.
"Sejauh ini pariwisata aman," kata Koster saat dimintai keterangan mengenai kondisi sektor pariwisata di tengah persoalan distribusi BBM.
Meski demikian, Koster mengakui bahwa ketidaklancaran distribusi BBM telah memengaruhi mobilitas dan aktivitas masyarakat yang harus menghadapi antrean kendaraan ketika hendak mengisi bahan bakar.
Pemerintah Provinsi Bali bersama Pertamina kini memprioritaskan pemulihan distribusi dan pelayanan BBM agar aktivitas masyarakat maupun wisatawan tidak mengalami gangguan lebih jauh.
Kapal Pengangkut 18 Juta Liter BBM Terlambat Bersandar
Koster mengungkapkan bahwa salah satu penyebab terganggunya distribusi BBM di Bali adalah keterlambatan kedatangan kapal pengangkut bahan bakar yang membawa pasokan sebanyak 18 juta liter.
Kapal tersebut sebelumnya dijadwalkan bersandar pada Minggu (11/10/2026) pukul 06.30 WITA, tetapi baru tiba sekitar pukul 22.00 WITA pada hari yang sama.
Keterlambatan tersebut menyebabkan proses penyaluran BBM menuju depo tidak berjalan sesuai jadwal sehingga berdampak pada kelancaran distribusi bahan bakar ke sejumlah SPBU.
"Kapal tersebut seharusnya bersandar pada Minggu (11/10/2026) pukul 06.30 WITA, tetapi baru dapat bersandar sekitar pukul 22.00 WITA. Keterlambatan itu menyebabkan penyaluran BBM ke depo tidak berjalan sesuai jadwal," katanya.
Menurut Koster, kuota BBM yang dialokasikan untuk Provinsi Bali sebenarnya berada dalam kondisi normal dan mencukupi kebutuhan masyarakat apabila proses distribusi berlangsung sesuai jadwal.
Namun, keterlambatan penyaluran selama satu hari menyebabkan pasokan yang seharusnya diterima SPBU menjadi tertunda dan memengaruhi ketersediaan bahan bakar di lapangan.
Akibatnya, distribusi pada hari berikutnya harus menangani pasokan yang tertunda sekaligus memenuhi kebutuhan penyaluran BBM harian.
"Ketika penyaluran tertunda selama satu hari, maka akibatnya besoknya itu harus diatasi dua kali," kata dia.
Koster menjelaskan bahwa pemulihan distribusi tidak dapat dilakukan secara sekaligus karena terdapat keterbatasan jumlah armada mobil tangki dan tenaga kerja yang bertugas mengangkut BBM dari depo menuju SPBU.
Kondisi tersebut membuat proses pengiriman bahan bakar harus dilakukan secara bertahap hingga pelayanan di seluruh SPBU kembali normal.
Koster Tegaskan Kuota BBM Bali Tidak Dikurangi
Di tengah antrean kendaraan yang masih terjadi, Koster memastikan tidak ada pengurangan kuota BBM untuk Provinsi Bali.
Berdasarkan perhitungan pemerintah daerah, jumlah bahan bakar yang dialokasikan masih mencukupi kebutuhan masyarakat sehingga persoalan yang terjadi bukan disebabkan oleh kekurangan kuota.
Gangguan yang dihadapi saat ini lebih berkaitan dengan keterlambatan pasokan dan keterbatasan kapasitas penyaluran BBM menuju SPBU.
Pemerintah Provinsi Bali bersama Pertamina terus berupaya memperlancar distribusi agar kebutuhan bahan bakar masyarakat dapat terpenuhi dan antrean kendaraan segera berkurang.
Koster juga mengakui bahwa pemerintah daerah belum menghitung secara pasti besarnya dampak gangguan distribusi BBM terhadap aktivitas masyarakat maupun sektor ekonomi lainnya.
"Belum dihitung ya, tentu saja ada dampak. Ya, karena mengurangi aktivitas. Jadi, mari kita fokus mengatasi agar distribusi dan layanan BBM ini lancar dulu," katanya saat ditanyai terkait dampak ketidakstabilan BBM.
Menurutnya, prioritas pemerintah saat ini adalah memastikan distribusi kembali lancar sebelum melakukan penghitungan lebih lanjut terhadap dampak yang ditimbulkan.
Warga Diimbau Tidak Terburu-buru Mengisi BBM
Untuk membantu mengurangi kepadatan antrean di sejumlah SPBU, Koster mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru membeli bahan bakar apabila persediaan di kendaraan mereka masih mencukupi.
Imbauan tersebut disampaikan agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan BBM dapat memperoleh pelayanan lebih dahulu tanpa harus menghadapi antrean yang semakin panjang.
"Kalau masih ada isi mobilnya cukup, jangan dulu ke SPBU, supaya mengurangi antrean. Yang pasti pada saat butuh, minyak itu ada, karena pasokannya ada," ujarnya.
Koster menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan BBM karena pasokan untuk Bali tetap tersedia dan tidak mengalami pengurangan kuota.
Pemerintah daerah berharap masyarakat dapat menyesuaikan waktu pengisian bahan bakar sesuai kebutuhan sehingga proses pelayanan di SPBU dapat berlangsung lebih tertib.
Sementara itu, koordinasi antara Pemerintah Provinsi Bali dan Pertamina terus dilakukan untuk mempercepat pemulihan distribusi serta mengatasi keterlambatan pengiriman bahan bakar.
Kelancaran pasokan BBM diharapkan dapat segera mengurangi antrean kendaraan, menjaga mobilitas masyarakat dan wisatawan, serta memastikan kegiatan pariwisata Bali tetap berjalan normal.
- Penulis :
- Shila Glorya




