
Pantau - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mendorong komunitas pegiat lingkungan untuk terus merawat kawasan pesisir dan hutan mangrove sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat yang tidak merusak lingkungan.
Hasto menegaskan bahwa gerakan merawat pertiwi yang dijalankan PDI Perjuangan tidak boleh berhenti pada kegiatan penanaman pohon, tetapi harus dilanjutkan melalui pembentukan komunitas yang mampu menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Menurutnya, kader PDI Perjuangan secara rutin melaksanakan kegiatan penghijauan dan penanaman mangrove dengan rata-rata mencapai 234.000 pohon setiap tahun.
"Bagi PDI Perjuangan, kami sudah setiap hampir setiap tahun itu kami mengadakan merawat pertiwi dengan menanam mangrove kemudian dengan penghijauan. Rata-rata per tahun itu ada 234.000 pohon yang ditanam oleh kader-kader PDI Perjuangan," kata Hasto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan saat Hasto menghadiri kegiatan Lokakarya UMKM Gotong Royong dan Deklarasi Komunitas Pegiat Lingkungan Mangrove di Malang Selatan, Jawa Timur.
Hasto Dorong Komunitas Mangrove Mandiri dan Bergotong Royong
Hasto mengatakan keberadaan komunitas pegiat lingkungan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program penghijauan.
Menurutnya, penanaman mangrove perlu diikuti dengan kegiatan perawatan dan pengelolaan lingkungan yang melibatkan masyarakat sekitar.
Ia menilai komunitas yang mampu bekerja secara mandiri dan bergotong royong berpeluang menciptakan manfaat ekonomi dari kegiatan pelestarian lingkungan.
"Tetapi yang paling penting dari cerita ini adalah ketika kita membangun suatu ide imajinasi bahwa kita bisa secara berdikari bergotong royong dengan komunitas yang ada di sekitar kita melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungan ternyata itu juga mendatangkan suatu rahmat bagi peningkatan taraf kehidupan itu," ujarnya.
Hasto menyebut gerakan berbasis komunitas dapat membuka peluang pekerjaan tanpa harus merusak kawasan pesisir dan hutan mangrove.
"Sehingga kami berimajinasi, kita bisa menciptakan pekerjaan secara massal bagi rakyat tanpa merusak lingkungan," imbuhnya.
Menurutnya, pengembangan ekonomi berbasis lingkungan dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
Nelayan, Perempuan, dan Anak Muda Ikuti Pelatihan Ekonomi Pesisir
Kegiatan PDI Perjuangan di Malang Selatan diawali dengan lokakarya UMKM Gotong Royong.
Setelah kegiatan pembukaan, Hasto bersama rombongan mengunjungi Pantai Teluk Asmara yang telah dihadiri ratusan warga, termasuk nelayan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Lokakarya tersebut melibatkan tiga kelompok masyarakat dengan materi pelatihan yang berbeda.
Kelompok anak muda mengikuti pelatihan persiapan perdagangan karbon, pengolahan sampah, dan pembuatan suvenir berbahan limbah kayu.
Sementara itu, kelompok perempuan mengikuti pelatihan pengolahan makanan berbasis hasil laut.
Kelompok nelayan mendapatkan pelatihan mengenai sistem silvofishery dan pengembangan keramba jaring apung.
Sistem silvofishery merupakan metode budidaya perikanan berkelanjutan yang menggabungkan kegiatan perikanan dengan pelestarian hutan mangrove dalam satu kawasan.
Melalui metode tersebut, kegiatan budidaya ikan, udang, atau kepiting dapat dikembangkan dengan tetap mempertahankan fungsi lingkungan pesisir.
PDIP Nilai Perdagangan Karbon Berpotensi Tingkatkan Pendapatan Warga
Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo menilai kegiatan pelestarian mangrove memiliki potensi ekonomi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat.
Salah satu peluang yang disorot adalah pengembangan perdagangan karbon berbasis komunitas.
Andreas menceritakan pembahasan dalam pertemuan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia di Washington pada April 2026 mengenai ketersediaan unit karbon berbasis komunitas di Indonesia.
"Mereka kemudian menanyakan itu adalah dari Nvidia, Nvidia itu salah satu perusahaan AI terbesar, dan Tencent mengatakan, apakah di Indonesia itu tidak ada yang berbasis komunitas?" ujarnya.
Menurut Andreas, komunitas kecil dapat digabungkan untuk membentuk skala kegiatan yang lebih besar sehingga memiliki peluang memasuki pasar karbon.
"Karena kalau hanya skala, ya, yang kecil-kecil ini kalau dikumpulkan kan jadi besar," katanya.
Ia menyebut potensi ekonomi dari serapan karbon kawasan mangrove selama ini belum memperoleh pembayaran.
"Karena satu ton CO2 paling rendah dinilai sekarang dengan 20 dolar," ujarnya.
Pengembangan perdagangan karbon tersebut dinilai dapat menjadi salah satu peluang ekonomi bagi komunitas yang aktif menjaga kawasan mangrove.
Komunitas Clungup Berhasil Pulihkan Kawasan Mangrove Seluas 81 Hektare
Penggerak Clungup Mangrove Conservation (CMC), Saptoyo, menjelaskan perjalanan pemulihan kawasan Pantai Clungup di Malang Selatan.
Menurutnya, kawasan tersebut pernah mengalami kerusakan parah akibat aktivitas pembalakan pada periode 1998–2003.
Upaya pemulihan lingkungan mulai dilakukan pada 2005 melalui keterlibatan masyarakat dan para simpatisan.
Saptoyo mengatakan kegiatan rehabilitasi yang awalnya hanya mengandalkan penanaman pohon kemudian berkembang dengan melibatkan generasi muda dan sektor ekowisata.
"Kalau kami rehabilitasi hanya nanam saja Pak, kami satu tahunnya itu dapat 5,5 hektar, nanam doang. Kemudian coba diintervensi oleh anak-anak muda dan akhirnya 10 tahun berikutnya kami bisa menyelesaikan tiap tahunnya 10,3 hektar dengan melibatkan pariwisata," katanya.
Keterlibatan kegiatan pariwisata tersebut membantu meningkatkan luas kawasan yang dapat direhabilitasi setiap tahun.
Saptoyo menyampaikan bahwa penanaman mangrove di kawasan seluas 81 hektare telah diselesaikan pada 2026.
"Kita tinggal menunggu besarnya saja, merawat. Konsennya merawat, penanaman sudah selesai," ujarnya.
Dengan selesainya tahap penanaman, kegiatan komunitas kini difokuskan pada perawatan mangrove agar dapat tumbuh dan berkembang.
Serapan Karbon Mangrove Clungup Capai Ribuan Ton
Selain rehabilitasi lahan, kawasan mangrove Clungup juga telah menjadi lokasi penghitungan serapan karbon bersama perguruan tinggi.
Berdasarkan penghitungan pada 2021 yang dilakukan bersama Universitas Gadjah Mada, serapan karbon dari bagian pohon di atas permukaan tanah tercatat sebesar 3.856 ton.
Sementara itu, kerja sama dengan Universitas Brawijaya mencatat kandungan karbon pada bagian bawah permukaan tanah mencapai 5.285,26 ton.
Data tersebut menjadi bagian dari informasi mengenai potensi kawasan mangrove dalam menyimpan karbon.
Andreas menilai potensi tersebut dapat dikembangkan melalui kerja sama antarkomunitas untuk memperluas peluang ekonomi berbasis lingkungan.
Deklarasi Komunitas Mangrove Dilanjutkan dengan Aksi Bersih Pantai
Rangkaian kegiatan PDI Perjuangan di Malang Selatan berlanjut pada Sabtu (17/10/2026).
Agenda tersebut mencakup Deklarasi Komunitas Pegiat Lingkungan Mangrove yang melibatkan masyarakat pesisir.
Selain deklarasi, kegiatan juga diisi dengan dialog terbuka bersama anak muda, nelayan, dan kelompok perempuan.
Penyelenggara turut mengadakan seminar daring bagi komunitas pegiat lingkungan.
Rangkaian kegiatan dilengkapi dengan aksi penanaman mangrove dan pemungutan sampah di sekitar kawasan Clungup Mangrove Conservation.
Melalui kegiatan tersebut, PDI Perjuangan mendorong komunitas masyarakat untuk melanjutkan perawatan lingkungan sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi yang mendukung kelestarian kawasan pesisir.
- Penulis :
- Aditya Yohan




