HOME  ⁄  Nasional

Polisi Redam Bentrokan Dua Kelompok Warga di Nabire, 11 Orang Luka dan 8 Kendaraan Rusak

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Polisi Redam Bentrokan Dua Kelompok Warga di Nabire, 11 Orang Luka dan 8 Kendaraan Rusak
Foto: Pihak Polres Nabire bersama kepala suku dan tokoh masyarakat saat mendamaikan dua kelompok yang berkonflik di Nabire, Sabtu 17/10/2026 (sumber: ANTARA/Ali Nur Ichsan)

Pantau - Kepolisian Resor (Polres) Nabire, Papua Tengah, berhasil meredam bentrokan antara dua kelompok warga yang nyaris memicu perang suku setelah mengakibatkan 11 orang luka-luka dan delapan kendaraan mengalami kerusakan.

Bentrokan yang terjadi di kawasan Jalan Perintis, tepatnya di depan SMP Negeri 2 Nabire dan SD Inpres Bumiwonorejo, Kabupaten Nabire, berlangsung sejak Jumat (16/10/2026) malam hingga Sabtu (17/10/2026) pagi.

Wakil Kepala Polres Nabire, Komisaris Polisi Henri Alfredo Korwa, mengatakan konflik berhasil diredam setelah kepolisian mempertemukan perwakilan kedua kelompok bersama para kepala suku untuk mencari penyelesaian secara damai.

"Kami sudah mempertemukan kedua kelompok bersama kepala suku dan akhirnya mereka sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dengan tidak memperpanjang kejadian kemarin," katanya.

Kesepakatan tersebut dicapai melalui proses mediasi yang melibatkan aparat kepolisian, tokoh masyarakat, dan perwakilan kedua kelompok yang bertikai.

Meski kedua kelompok telah berdamai, kepolisian tetap meningkatkan pengamanan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bentrokan susulan.

Bentrokan di Nabire Lukai 11 Orang dan Rusak Delapan Kendaraan

Berdasarkan laporan kepolisian, bentrokan dua kelompok warga di kawasan Bumiwonorejo mengakibatkan sedikitnya 11 orang mengalami luka-luka.

Selain menimbulkan korban, keributan tersebut menyebabkan kerusakan delapan kendaraan yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Dari jumlah tersebut, satu kendaraan merupakan milik petugas kepolisian, sedangkan tujuh kendaraan lainnya merupakan kendaraan umum yang terdampak bentrokan.

Untuk mencegah konflik kembali meluas, Polres Nabire mengerahkan 100 personel gabungan bersama Brimob Batalyon A Polda Papua Tengah pada Sabtu (17/10/2026) sore.

Henri menjelaskan bahwa pengamanan sebenarnya telah dilakukan sejak Sabtu pagi dan dilanjutkan hingga malam hari guna memastikan situasi keamanan tetap kondusif.

Personel gabungan ditempatkan di sekitar lokasi bentrokan untuk mengantisipasi tindakan provokatif maupun kemungkinan adanya kelompok yang berupaya memicu keributan kembali.

Kehadiran aparat keamanan juga bertujuan memberikan rasa aman kepada masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan Bumiwonorejo.

Setelah tercapai kesepakatan damai, kepolisian bersama tokoh masyarakat menyampaikan hasil mediasi kepada masing-masing kelompok agar seluruh pihak memahami dan menjalankan keputusan yang telah disepakati.

Polisi Selidiki Dugaan Konflik Dipicu Persoalan Sampah Rumah Tangga

Terkait penyebab bentrokan, Polres Nabire masih melakukan penyelidikan untuk memastikan pemicu utama perselisihan antara kedua kelompok warga.

Berdasarkan informasi awal yang diterima kepolisian, keributan diduga bermula dari kesalahpahaman mengenai sampah rumah tangga yang dibuang ke halaman.

Namun, kepolisian belum dapat memastikan bahwa persoalan sampah tersebut menjadi penyebab utama bentrokan karena masih diperlukan pemeriksaan dan pengumpulan informasi lebih lanjut.

"Untuk penyebab pastinya masih kami dalami. Informasi awal memang ada miskomunikasi terkait sampah rumah tangga yang dibuang ke halaman. Namun, prinsipnya kami masih melakukan pengecekan di lapangan," ujarnya.

Henri menegaskan bahwa kepolisian terus mendalami informasi yang berkembang agar penyebab kejadian dapat diketahui secara jelas.

Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat Nabire agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan informasi mengenai bentrokan yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Penyebaran kabar yang tidak terverifikasi dikhawatirkan dapat menimbulkan kesalahpahaman baru dan memperkeruh hubungan kedua kelompok yang telah sepakat berdamai.

Masyarakat diminta menyerahkan penanganan persoalan kepada aparat keamanan serta menunggu informasi resmi mengenai perkembangan penyelidikan.

Dua Kelompok Warga Tandatangani Empat Poin Kesepakatan Damai

Dalam proses mediasi yang difasilitasi kepolisian bersama para kepala suku, kedua kelompok warga telah menandatangani surat pernyataan damai yang memuat empat poin kesepakatan.

Poin pertama menyatakan bahwa kedua kelompok sepakat menyelesaikan seluruh persoalan yang terjadi melalui pendekatan kekeluargaan tanpa memperpanjang perselisihan.

Poin kedua mengatur kesediaan kedua kelompok untuk saling meminta maaf atas kejadian yang telah berlangsung sebagai langkah memperbaiki hubungan dan memulihkan perdamaian.

Poin ketiga menyebutkan bahwa masing-masing kelompok bertanggung jawab terhadap korban maupun kerusakan barang yang dialami oleh pihaknya sendiri akibat bentrokan tersebut.

Sementara itu, poin keempat menyepakati bahwa apabila terjadi insiden baru setelah penandatanganan kesepakatan damai, kejadian tersebut akan dianggap sebagai persoalan terpisah dan tidak dikaitkan dengan konflik sebelumnya.

Keempat poin tersebut menjadi dasar penyelesaian konflik yang diharapkan dapat dipatuhi seluruh pihak untuk mencegah perselisihan kembali terjadi.

Kepolisian bersama tokoh masyarakat juga telah menyampaikan isi kesepakatan kepada masing-masing kelompok agar tidak terjadi perbedaan pemahaman mengenai hasil mediasi.

Henri meminta kedua kelompok warga menahan diri, menghindari tindakan provokatif, serta tidak melakukan perbuatan yang berpotensi memicu bentrokan susulan.

Sebanyak 100 Personel Gabungan Tetap Disiagakan di Lokasi Bentrokan

Meskipun kedua kelompok telah mencapai kesepakatan damai, aparat keamanan tetap disiagakan di sekitar kawasan Jalan Perintis dan Bumiwonorejo untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Sebanyak 100 personel gabungan Polres Nabire dan Brimob Batalyon A Polda Papua Tengah dikerahkan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya gangguan keamanan setelah bentrokan.

Pengamanan dilakukan sebagai langkah pencegahan agar kesepakatan damai yang telah dicapai tidak terganggu oleh tindakan pihak-pihak yang berpotensi memperkeruh situasi.

Polres Nabire juga terus memantau perkembangan kondisi di lapangan serta berkoordinasi dengan para kepala suku dan tokoh masyarakat untuk mempertahankan perdamaian.

Kepolisian berharap seluruh warga menghormati hasil mediasi dan menyelesaikan setiap persoalan melalui komunikasi serta pendekatan kekeluargaan.

Dengan adanya kesepakatan damai dan pengamanan aparat gabungan, situasi di kawasan Bumiwonorejo diharapkan kembali aman dan tertib sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kekhawatiran terhadap konflik susulan.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026