
Pantau - Tim Cepat Tanggap (TCT) Universitas Mataram (Unram) menyusun desain teknis dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk mendukung rekonstruksi Kampung Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan memadukan arsitektur tradisional dan sistem keselamatan kebakaran.
Langkah tersebut dilakukan untuk membangun kembali kawasan permukiman adat yang terdampak kebakaran sekaligus mempertahankan nilai budaya, tradisi, dan identitas arsitektur masyarakat Sade.
Ketua Tim Cepat Tanggap Unram, Rini Saptaningtyas, menegaskan bahwa proses rekonstruksi tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali bangunan yang mengalami kerusakan.
Dalam keterangannya di Mataram, Senin (19/10/2026), Rini menyampaikan bahwa pemulihan kawasan juga harus memperhatikan keberlanjutan kehidupan sosial dan budaya masyarakat adat.
"Rekonstruksi Sade bukan sekadar membangun kembali bangunan yang terbakar. Yang ingin kami pulihkan adalah ruang hidup masyarakat, sekaligus menjaga agar pengetahuan, tradisi, dan identitas arsitektur Sade tetap hidup," kata Rini.
Menurutnya, pembangunan kembali Kampung Adat Sade harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat sekaligus mempertahankan pengetahuan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Melalui pendekatan tersebut, rekonstruksi diharapkan mampu menghasilkan kawasan permukiman yang lebih aman tanpa menghilangkan karakter budaya masyarakat setempat.
Unram Siapkan Desain Teknis dan RAB untuk Bangunan Adat
Hingga awal Oktober 2026, Tim Cepat Tanggap Unram telah melaksanakan sejumlah tahapan persiapan rekonstruksi, termasuk survei dan pemetaan langsung di kawasan Kampung Adat Sade.
Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengumpulkan informasi teknis yang diperlukan dalam menyusun perencanaan pembangunan kembali kawasan permukiman adat.
Berdasarkan hasil survei dan pemetaan, tim telah menyusun desain teknis serta Rencana Anggaran Biaya untuk sejumlah bangunan adat dan fasilitas umum.
Bangunan yang masuk dalam perencanaan rekonstruksi meliputi masjid, museum, Bale Tani, Bale Bontar, Berugaq, Sekenem, dan toilet.
Penyusunan desain dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi masing-masing bangunan dalam mendukung kehidupan sosial, budaya, dan aktivitas sehari-hari masyarakat Kampung Adat Sade.
Selain bangunan adat, TCT Unram juga menyiapkan perencanaan infrastruktur pendukung untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kawasan.
Salah satu infrastruktur yang menjadi perhatian utama adalah sistem proteksi kebakaran guna membantu mengurangi risiko terjadinya peristiwa serupa pada masa mendatang.
Perencanaan tersebut menjadi penting karena bangunan tradisional di kawasan permukiman adat menggunakan sejumlah material alami yang memerlukan perhatian khusus terhadap risiko kebakaran.
Sistem Proteksi Kebakaran dan Infrastruktur Jadi Prioritas
Selain mempertahankan arsitektur tradisional, Tim Cepat Tanggap Unram mengintegrasikan berbagai aspek keselamatan dalam desain rekonstruksi Kampung Adat Sade.
Sistem proteksi kebakaran direncanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan keamanan kawasan permukiman masyarakat adat.
Tim juga menyusun perencanaan jaringan kelistrikan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta keselamatan penggunaan instalasi listrik.
Pengembangan jaringan listrik tersebut diarahkan untuk mendukung aktivitas masyarakat sekaligus mengurangi risiko yang dapat muncul dari penggunaan instalasi yang tidak sesuai standar keselamatan.
Selain kelistrikan, TCT Unram memasukkan sistem penyediaan air bersih dalam perencanaan pembangunan kembali kawasan.
Penyediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan dasar yang diperhatikan untuk menunjang aktivitas masyarakat setelah proses pemulihan.
Infrastruktur lain yang turut direncanakan adalah sistem pengelolaan air limbah guna mendukung sanitasi lingkungan permukiman.
Tim juga menyiapkan perencanaan drainase sebagai bagian dari pengelolaan air dan infrastruktur kawasan Kampung Adat Sade.
Seluruh perencanaan tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan permukiman yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Arsitektur Tradisional Sade Tetap Gunakan Kayu, Bambu, dan Alang-Alang
Dalam menyusun desain rekonstruksi, TCT Unram tetap mempertahankan karakter arsitektur tradisional yang menjadi ciri khas Kampung Adat Sade.
Salah satu upaya pelestarian dilakukan melalui penggunaan material lokal yang selama ini menjadi bagian dari konstruksi bangunan adat.
Material tersebut meliputi kayu, bambu, dan alang-alang yang memiliki keterkaitan erat dengan identitas arsitektur masyarakat Sade.
Penggunaan bahan tradisional dipertahankan agar bentuk dan karakter bangunan tetap sesuai dengan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Meski mempertahankan material dan bentuk bangunan tradisional, tim tetap mengintegrasikan aspek keselamatan untuk mengurangi risiko kebakaran.
Pendekatan tersebut dilakukan agar penerapan teknologi dan keahlian teknis tidak menghilangkan nilai budaya yang melekat pada bangunan adat.
Menurut Rini, proses rekonstruksi harus mampu mempertemukan pengetahuan tradisional masyarakat dengan pendekatan teknis yang dimiliki perguruan tinggi.
"Karena itu pendekatan yang kami gunakan harus mempertemukan pengetahuan lokal masyarakat dengan keahlian dan teknologi yang kami miliki," ungkap Rini.
Kolaborasi antara pengetahuan lokal dan teknologi menjadi dasar dalam merancang bangunan yang tetap mempertahankan identitas adat sekaligus memperhatikan keselamatan penghuninya.
Melalui pendekatan tersebut, rekonstruksi Kampung Adat Sade diharapkan dapat menjaga keberlanjutan tradisi arsitektur tanpa mengabaikan kebutuhan keselamatan masyarakat.
Pembangunan Masjid, Museum, dan Rumah Adat Mulai Berjalan
Berdasarkan laporan perkembangan Tim Cepat Tanggap Unram, proses pembangunan kembali sejumlah fasilitas di Kampung Adat Sade telah menunjukkan kemajuan.
Pembangunan masjid dilaporkan telah memasuki tahap pemasangan sloof, yakni bagian struktur bangunan yang berfungsi menghubungkan dan mendistribusikan beban pada bagian bawah konstruksi.
Sementara itu, pekerjaan pembangunan museum di kawasan Kampung Adat Sade juga telah dimulai.
Selain masjid dan museum, pembangunan sejumlah bangunan adat telah mencapai tahapan konstruksi yang lebih lanjut.
Pembangunan Sekenem dilaporkan telah memasuki tahap pengerjaan atap.
Tahapan serupa juga telah dicapai dalam pembangunan Bale Tani dan Bale Bontar yang menjadi bagian dari fasilitas tradisional masyarakat Sade.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa proses rekonstruksi telah berjalan pada sejumlah bangunan adat dan fasilitas umum.
Pelaksanaan pembangunan memperoleh dukungan pendanaan dari berbagai mitra yang terlibat dalam pemulihan kawasan.
MIM Foundation menjadi salah satu mitra yang memberikan bantuan pendanaan untuk pembangunan masjid.
Sementara itu, pembangunan museum memperoleh dukungan pendanaan dari Otsuka.
Pembangunan Sekenem mendapatkan dukungan dari Blue Bird sebagai salah satu mitra dalam proses rekonstruksi.
Selain dukungan dari berbagai lembaga, masyarakat Kampung Adat Sade turut berpartisipasi langsung dalam pembangunan kembali kawasan permukiman mereka.
Warga setempat secara mandiri melaksanakan pembangunan Bale Tani dan Bale Bontar sebagai bagian dari upaya pemulihan bangunan adat.
Keterlibatan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan rekonstruksi tetap memperhatikan kebutuhan dan identitas budaya setempat.
Rekonstruksi Libatkan Pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat Adat
Tim Cepat Tanggap Universitas Mataram untuk rekonstruksi Kampung Adat Sade dibentuk secara resmi melalui Surat Keputusan Rektor Universitas Mataram Nomor 13144/UN18/HK/2026.
Dalam menjalankan tugasnya, tim bekerja di bawah koordinasi satuan tugas Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk mendukung keterpaduan proses perencanaan dan pelaksanaan rekonstruksi kawasan.
TCT Unram berperan menyediakan dukungan keahlian teknis melalui kegiatan survei, pemetaan, penyusunan desain, serta perhitungan Rencana Anggaran Biaya.
Dokumen teknis yang disusun diharapkan dapat menjadi acuan bagi berbagai pihak dalam menentukan kebutuhan dan tahapan pembangunan kembali Kampung Adat Sade.
Rini berharap hasil survei, pemetaan, desain teknis, dan RAB dapat dimanfaatkan melalui kerja sama antara pemerintah, tenaga ahli, mitra pendukung, serta masyarakat adat.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memastikan pembangunan kembali kawasan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat tanpa menghilangkan karakter arsitektur tradisional.
Selain menjaga identitas budaya, proses rekonstruksi juga diharapkan mampu meningkatkan keselamatan permukiman melalui perencanaan infrastruktur dan sistem perlindungan kebakaran.
Keterlibatan Universitas Mataram dalam rekonstruksi Kampung Adat Sade menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam membantu penanganan dampak bencana melalui penerapan keahlian akademik dan teknologi.
Melalui perpaduan arsitektur tradisional, peningkatan keselamatan, pembangunan infrastruktur, dan partisipasi masyarakat, rekonstruksi Kampung Adat Sade diharapkan mampu memulihkan ruang hidup warga sekaligus mempertahankan warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.
- Penulis :
- Arian Mesa




