HOME  ⁄  Nasional

PGE Manfaatkan Energi Panas Bumi untuk Pangkas Pengeringan Pupuk dari 14 Hari Jadi 12 Jam

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

PGE Manfaatkan Energi Panas Bumi untuk Pangkas Pengeringan Pupuk dari 14 Hari Jadi 12 Jam
Foto: (Sumber :Pengukuran kandungan unsur hara makro pada pupuk organik Geofert setelah diaktivasi menggunakan air di Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026). ANTARA/Aditya Ramadhan.)

Pantau - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang berhasil mempercepat proses pengeringan pupuk organik dari 14 hari menjadi hanya 12 jam melalui pemanfaatan energi panas bumi menggunakan teknologi Dry Cube dalam program pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui program Geofert (Geothermal Fertilizer) yang menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat Kanyaah untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung perekonomian warga sekitar wilayah operasional perusahaan.

Perwakilan fungsi Kehumasan PGE Kamojang, Erwandi, menjelaskan bahwa teknologi tersebut memanfaatkan panas bumi sebagai sumber energi untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik yang sebelumnya mengandalkan sinar matahari.

Teknologi Dry Cube Percepat Pengeringan Pupuk Organik

Erwandi mengatakan penggunaan energi panas bumi memberikan perbedaan signifikan terhadap waktu yang dibutuhkan dalam proses pengeringan pupuk organik.

"Dari yang awal kalau kita pakai matahari biasanya kita bisa membutuhkan 14 hari, ternyata dengan panas bumi namanya Dry Cube itu cuman butuh 12 jam," ujar Erwandi di Kamojang, Kabupaten Bandung, Selasa (20/10/2026).

Melalui inovasi Geofert, limbah organik yang berasal dari rumah tangga dan kegiatan pertanian diolah menjadi pupuk organik untuk dimanfaatkan kembali oleh petani setempat.

Pupuk yang telah melalui proses pengeringan kemudian digunakan dalam ekosistem Geofarm untuk mendukung kegiatan pembibitan dan budidaya tanaman.

Sementara itu, hasil pertanian yang diperoleh dapat diolah lebih lanjut melalui ekosistem Geofood yang juga dikembangkan dalam program pemberdayaan masyarakat tersebut.

Salah seorang petani muda binaan PGE Kamojang, Hendro, menjelaskan bahwa pupuk organik Geofert yang telah dikeringkan memiliki daya simpan hingga satu tahun.

Kemampuan penyimpanan tersebut memungkinkan pupuk digunakan sesuai kebutuhan kegiatan pertanian warga.

PGE Gunakan Panas Bumi untuk Tingkatkan Bobot Ikan Budidaya

Selain pengolahan pupuk organik, PGE Kamojang juga memanfaatkan energi panas bumi untuk mendukung kegiatan perikanan melalui program Geofishery.

Program tersebut menggunakan panas bumi untuk menghangatkan air kolam budidaya ikan di kawasan Kamojang yang berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.

Erwandi menjelaskan bahwa penggunaan penghangat air berbasis panas bumi menghasilkan perbedaan pertumbuhan ikan dibandingkan dengan kolam yang tidak menggunakan teknologi tersebut.

"Ternyata ikan di kolam A dan ikan di kolam B dengan berat yang sama di awal bibitnya, setelah sekian bulan itu ternyata memiliki perbedaan dari segi berat. Jadi, lebih berat 85 sampai 90 persen," katanya.

Sebelumnya, dalam publikasi program Kanyaah pada April 2026, PGE melaporkan hasil perbandingan bobot ikan sebesar 200 gram dan 330 gram per ekor.

Perbedaan tersebut menunjukkan selisih bobot sekitar 65 persen antara ikan yang dibudidayakan menggunakan teknologi penghangat panas bumi dan ikan pada kolam pembanding.

Selain peningkatan bobot, penggunaan teknologi tersebut juga dilaporkan mampu mempercepat masa panen ikan hingga 25 persen.

Energi Panas Bumi Dimanfaatkan untuk Pengeringan Bahan Pangan

Pemanfaatan langsung energi panas bumi di Kamojang tidak hanya diterapkan pada sektor pertanian dan perikanan, tetapi juga digunakan dalam pengolahan berbagai produk pangan.

Sejumlah komoditas yang dapat dikeringkan menggunakan teknologi tersebut antara lain ubi, singkong, kentang, dan kopi.

Erwandi menjelaskan bahwa proses pengeringan dilakukan melalui sistem perpindahan panas menggunakan pipa yang dipasang di dalam ruang pengering.

Dengan mekanisme tersebut, bahan pangan maupun pakan ikan tidak bersentuhan langsung dengan fluida panas bumi.

"Jadi, dia modelnya seperti oven, si panas bumi ini hanya dilewatkan ke dalam pipa tubing di dalam sebuah 'chamber' (bilik/ruang). Jadi semuanya ini tidak bersentuhan langsung dengan panas bumi," ujarnya.

Sistem tersebut memungkinkan energi panas bumi dimanfaatkan sebagai sumber panas dalam proses pengeringan tanpa mengalirkan fluida panas bumi secara langsung ke bahan yang diolah.

Program Kanyaah Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Kamojang

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menyampaikan bahwa pengembangan pemanfaatan langsung energi panas bumi merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Melalui program Kanyaah, PGE berupaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat dengan mengembangkan kegiatan produktif berbasis pemanfaatan energi panas bumi.

Program tersebut mencakup berbagai kegiatan yang saling terhubung, mulai dari pengolahan limbah organik menjadi pupuk, budidaya tanaman, pengolahan hasil pertanian, hingga pengembangan perikanan.

Pelaksanaan program Kanyaah juga turut mendukung capaian PGE Area Kamojang dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Hingga 2026, PGE Area Kamojang tercatat telah meraih penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) Emas sebanyak 15 kali berturut-turut.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026