
Pantau - Presiden Prabowo Subianto menargetkan pengembangan campuran bioetanol hingga 50 persen atau E50 sekitar 2030 sebagai bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Target tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa pengembangan energi berbasis sumber daya domestik menjadi salah satu capaian sekaligus agenda strategis pemerintahannya dalam dua tahun terakhir.
Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia menjadi tantangan yang harus diantisipasi melalui peningkatan pemanfaatan sumber energi alternatif yang tersedia di dalam negeri.
"Harga minyak dunia naik dan akan naik. Kita bersyukur kita punya sumber-sumber energi lain yang cukup banyak. Batubara kita masih banyak, geotermal kita banyak yang terutama kita bisa buat diesel solar dari tanaman," kata Presiden Prabowo.
Kepala Negara menilai Indonesia memiliki beragam sumber energi yang dapat dikembangkan, mulai dari batu bara, panas bumi atau geotermal, hingga bahan bakar nabati yang dihasilkan dari pengolahan tanaman.
Pemanfaatan sumber energi domestik tersebut diharapkan mampu mengurangi kebutuhan impor BBM sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Prabowo Sebut Indonesia Sudah Capai Biodiesel B50
Presiden Prabowo secara khusus menyoroti pengembangan biodiesel sebagai salah satu langkah pemerintah meningkatkan penggunaan bahan bakar berbasis sumber daya dalam negeri.
Biodiesel merupakan bahan bakar nabati yang dapat diproduksi dari minyak nabati, termasuk minyak kelapa sawit.
Presiden Prabowo menyebut Indonesia telah mencapai implementasi biodiesel B50 sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan solar berbasis fosil.
Biodiesel B50 merupakan bahan bakar dengan komposisi campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dan 50 persen solar berbasis fosil.
Melalui peningkatan kadar campuran biodiesel, pemerintah berupaya menekan kebutuhan solar fosil yang selama ini sebagian dipenuhi melalui impor.
Pengembangan biodiesel tersebut juga menjadi bagian dari strategi pemanfaatan komoditas perkebunan nasional untuk mendukung kebutuhan energi dalam negeri.
Selain biodiesel, pemerintah menyiapkan peningkatan penggunaan bioetanol sebagai campuran bensin untuk mengurangi konsumsi bahan bakar berbasis fosil.
"Kita sudah mencapai B50 dan kita sekarang akan berjuang untuk etanol menjadi E-50," katanya.
Pemerintah Targetkan Bioetanol E10 pada 2026 dan E20 pada 2028
Presiden Prabowo menjelaskan bahwa peningkatan penggunaan bioetanol akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan target pengembangan dalam beberapa tahun mendatang.
Untuk tahap awal, pemerintah menargetkan penggunaan campuran bioetanol sebesar 10 persen atau E10 pada 2026.
E10 merupakan bahan bakar dengan komposisi 10 persen etanol dan 90 persen bensin yang menjadi tahap awal peningkatan pemanfaatan bioetanol dalam sektor transportasi.
Setelah target tersebut, pemerintah berharap dapat meningkatkan campuran bioetanol menjadi 20 persen atau E20 dalam dua tahun berikutnya, yakni sekitar 2028.
E20 merupakan bahan bakar yang terdiri atas 20 persen etanol dan 80 persen bensin sehingga penggunaan komponen bahan bakar fosil lebih rendah dibandingkan campuran E10.
Selanjutnya, pemerintah menargetkan peningkatan kadar bioetanol hingga 50 persen atau E50 sekitar 2030.
E50 merupakan bahan bakar dengan komposisi 50 persen etanol dan 50 persen bensin yang menjadi sasaran lanjutan pengembangan bahan bakar nabati nasional.
"Mungkin tahun ini kita baru bisa mencapai E10. Mungkin dua tahun lagi kita akan berharap mencapai E20 dan dua tahun sesudah itu kita berharap kita akan mencapai E-50," terang Presiden Prabowo.
Dengan tahapan tersebut, pemerintah menargetkan pengembangan bioetanol dimulai dari E10 pada 2026, meningkat menjadi E20 sekitar 2028, kemudian mencapai E50 sekitar 2030.
Prabowo Berharap B50 dan E50 Bisa Hentikan Ketergantungan Impor BBM
Presiden Prabowo menilai pengembangan biodiesel dan bioetanol secara bersamaan dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi kebutuhan impor bahan bakar minyak Indonesia.
Menurutnya, penggunaan biodiesel B50 dapat membantu menekan konsumsi solar berbasis fosil, sedangkan pengembangan bioetanol E50 diarahkan untuk mengurangi kebutuhan bensin fosil.
Pemerintah berharap pemanfaatan kedua jenis bahan bakar nabati tersebut dapat meningkatkan kontribusi sumber energi domestik dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional.
Presiden Prabowo menyampaikan keyakinannya bahwa apabila Indonesia mampu mencapai penggunaan biodiesel B50 dan bioetanol E50, kebutuhan impor BBM dari luar negeri berpeluang berkurang secara signifikan.
Bahkan, Kepala Negara berharap pencapaian kedua target tersebut pada akhirnya dapat membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor BBM untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
"Pada saat kita E-50 dan B-50, kita insya Allah tidak perlu impor BBM lagi dari luar," katanya.
Pernyataan tersebut merupakan harapan Presiden Prabowo mengenai dampak pengembangan bahan bakar nabati terhadap kebutuhan impor BBM, bukan kepastian bahwa impor akan sepenuhnya berhenti setelah target campuran tercapai.
Pengembangan Energi Domestik Jadi Strategi Hadapi Kenaikan Harga Minyak
Presiden Prabowo menegaskan pentingnya memanfaatkan berbagai sumber energi dalam negeri untuk menghadapi tantangan kenaikan harga minyak dunia.
Pengembangan bahan bakar nabati dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi internasional.
Selain meningkatkan penggunaan biodiesel dan bioetanol, pemerintah juga menaruh perhatian pada potensi batu bara dan panas bumi sebagai bagian dari sumber energi domestik.
Pemanfaatan berbagai sumber energi tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan nasional ketika terjadi gejolak harga minyak maupun gangguan pasokan energi global.
Melalui pengembangan biodiesel B50 dan bioetanol E50, pemerintah berupaya memperbesar penggunaan energi berbasis sumber daya dalam negeri sekaligus mengurangi kebutuhan bahan bakar fosil impor.
Presiden Prabowo menempatkan pengembangan energi domestik sebagai bagian dari agenda strategis pemerintahannya untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
- Penulis :
- Shila Glorya




