
Pantau - Sebanyak 260 penari laki-laki dari 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, mengikuti Festival Hudoq Pekayang 2026 yang digelar pada 20–22 Oktober sebagai upaya melestarikan tradisi masyarakat Dayak Bahau sekaligus memperkuat hubungan manusia dengan alam.
Festival yang dipusatkan di Kampung Long Pahangai II tersebut melibatkan ratusan penari pengiring dan masyarakat dari berbagai kampung di wilayah hulu Sungai Mahakam.
Bupati Mahakam Ulu, Angela Idang Belawan, membuka kegiatan tersebut pada Selasa (20/10/2026) dan turut menari bersama para peserta.
Angela menegaskan bahwa Hudoq Pekayang bukan sekadar pertunjukan kesenian, melainkan tradisi yang memiliki peran penting dalam menjaga persaudaraan, identitas budaya, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan.
Festival tahun ini mengusung semangat pelestarian budaya melalui tema “Hudoq Pekayang: Antara Manusia, Alam, dan Tradisi sebagai Penjaga Warisan Budaya Leluhur”.
Sebanyak 260 Penari Hudoq dari 13 Kampung Berkumpul di Long Pahangai
Festival Hudoq Pekayang 2026 menghadirkan sekitar 260 penari laki-laki yang mewakili 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai.
Para peserta mengenakan busana tradisional yang dihiasi daun pisang serta topeng kayu berukir dengan makna spiritual dalam kebudayaan Dayak Bahau.
Persiapan dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan orang tua, anak-anak, dan pemuda yang membantu pemasangan perlengkapan tari.
Setelah seluruh busana dikenakan, para penari bergerak menuju lapangan utama untuk mengikuti rangkaian kegiatan festival.
Ratusan penari pengiring turut meramaikan perayaan yang berlangsung selama tiga hari tersebut.
Sebanyak 13 kampung yang berpartisipasi meliputi Delang Kerohong, Long Pakaq, Long Lunuk, Long Isun, Naha Aruq, Datah Naha, dan Lirung Ubing.
Peserta lainnya berasal dari Long Pahangai I, Long Pahangai II, Long Tuyoq, Liu Mulang, Long Pakaq Baru, serta Long Lunuk Baru.
Kampung Long Pahangai II dipercaya menjadi tuan rumah setelah melalui proses musyawarah adat masyarakat setempat.
Penyelenggaraan festival juga membawa semangat “Melestarikan budaya, menguatkan identitas, menuju Mahulu Melaju”.
Tradisi Hudoq Pekayang Berakar dari Kebiasaan Masyarakat Dayak Bahau
Hudoq Pekayang merupakan tradisi masyarakat Dayak Bahau yang telah berkembang sejak sekitar 1960 hingga 1970-an.
Tradisi tersebut berawal dari kebiasaan masyarakat saling mengunjungi kampung untuk mempererat hubungan kekeluargaan.
Dalam pertemuan antarkampung, warga juga saling berbagi cerita, bertukar benih padi, dan menjaga hubungan persaudaraan.
Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi bersama yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui Festival Hudoq Pekayang, masyarakat dari berbagai kampung kembali dipertemukan dalam rangkaian kegiatan adat dan kesenian.
Keikutsertaan anak-anak hingga orang tua menjadi bagian dari proses pewarisan budaya dalam kehidupan masyarakat Dayak Bahau.
Bupati Angela Idang Belawan Tekankan Harmoni Manusia dan Alam
Bupati Mahakam Ulu, Angela Idang Belawan, mengatakan Hudoq Pekayang memiliki makna yang lebih luas daripada pelestarian kesenian tradisional.
Menurutnya, perayaan tersebut menjadi sarana untuk menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan warisan budaya leluhur.
Angela menjelaskan bahwa tradisi saling mengunjungi kampung dapat mempererat hubungan keluarga dan memperkuat kepedulian antarmasyarakat.
"Melalui perjumpaan inilah rasa saling mengenal dan kepedulian terhadap sesama akan terus dipelihara," kata Angela.
Ia juga menekankan bahwa keberlanjutan tradisi tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat yang menjalankannya.
Dalam pandangannya, pelestarian budaya perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Mahakam Ulu.
Angela berharap perayaan Hudoq Pekayang terus memperkuat komitmen masyarakat dalam melindungi warisan budaya dan lingkungan daerah.
Festival Hudoq Pekayang Perkuat Identitas Budaya Mahakam Ulu
Penyelenggaraan Festival Hudoq Pekayang menjadi salah satu kegiatan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai kampung di Kecamatan Long Pahangai.
Kegiatan ini tidak hanya menampilkan tarian tradisional, tetapi juga mempertahankan kebiasaan masyarakat untuk saling mengunjungi dan mempererat hubungan sosial.
Keterlibatan generasi muda dalam festival menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi Dayak Bahau.
Melalui perayaan yang berlangsung pada 20–22 Oktober 2026, masyarakat Mahakam Ulu kembali menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
Festival tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan antarkampung untuk merawat hubungan persaudaraan serta nilai-nilai adat yang diwariskan para leluhur.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




