HOME  ⁄  Nasional

BPBD DKI dan Pemkot Jakarta Timur Gelar Simulasi Gempa Serentak, Uji Evakuasi Delapan Lantai dan Sistem Peringatan Dini

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BPBD DKI dan Pemkot Jakarta Timur Gelar Simulasi Gempa Serentak, Uji Evakuasi Delapan Lantai dan Sistem Peringatan Dini
Foto: (Sumber :Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Jakarta Timur menggelar simulasi gempa bumi untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana di Ruang Serbaguna Blok A, Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Rabu (21/10/2026). (ANTARA/HO-Pemerintah Kota Jakarta Timur).)

Pantau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta bersama Pemerintah Kota Jakarta Timur menggelar simulasi gempa bumi di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Rabu (21/10/2026), untuk meningkatkan kesiapsiagaan petugas dan pegawai dalam menghadapi potensi bencana.

Simulasi tersebut melibatkan 20 petugas gabungan dan menguji prosedur evakuasi dari lantai satu hingga lantai delapan gedung pemerintahan.

Sekretaris BPBD DKI Jakarta Ali Mansur Siregar mengatakan kegiatan itu merupakan langkah antisipasi untuk mengurangi risiko apabila gempa bumi terjadi.

"Simulasi dilakukan sebagai langkah kesiapsiagaan seluruh elemen, petugas, dan masyarakat untuk meminimalisir risiko bencana di masa mendatang," kata Ali di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan simulasi gempa secara serentak di wilayah DKI Jakarta.

Simulasi Gempa Dilaksanakan Berdasarkan Instruksi Sekda DKI

Ali menjelaskan bahwa simulasi diselenggarakan sebagai tindak lanjut Instruksi Sekretaris Daerah Nomor 44 Tahun 2026 tentang pelaksanaan simulasi gempa bumi secara serentak di Provinsi DKI Jakarta.

Gedung-gedung pemerintahan menjadi lokasi prioritas dalam kegiatan tersebut sebagai proyek percontohan.

Kantor Wali Kota Jakarta Timur dipilih sebagai salah satu tempat pelaksanaan untuk menguji kesiapan prosedur penyelamatan dan koordinasi petugas.

Simulasi dilakukan dengan melibatkan pegawai serta petugas yang bertanggung jawab mengarahkan proses evakuasi.

Menurut Ali, pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman seluruh unsur pemerintahan terhadap prosedur penanganan keadaan darurat.

Evakuasi Delapan Lantai Libatkan 20 Petugas Gabungan

Berdasarkan hasil pemantauan BPBD DKI Jakarta, seluruh tahapan simulasi evakuasi dari lantai satu hingga lantai delapan berlangsung lancar.

Sebanyak 20 petugas gabungan dikerahkan, termasuk 10 personel BPBD Jakarta Timur dan petugas lain yang disiagakan di lokasi.

Petugas mengarahkan para pegawai untuk mengikuti prosedur evakuasi sesuai ketentuan kebencanaan yang berlaku.

"Para petugas serta pegawai di lokasi melaksanakan evakuasi dan prosedur tetap (protap) kebencanaan, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan prosedur diakhiri dengan pelaporan kondisi keamanan di setiap lantai kepada Komandan Peleton (Danton) yang bertugas," terang Ali.

Ia mengatakan sejumlah peserta sempat terkejut karena simulasi dilaksanakan secara mendadak.

Meski demikian, para peserta dinilai mampu menyesuaikan diri dengan cepat dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

BPBD Perkenalkan Sistem Peringatan Dini Gempa InaEEWS

Selain menguji proses evakuasi, kegiatan tersebut juga memperkenalkan aplikasi Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS) milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

InaEEWS merupakan sistem peringatan dini yang dirancang untuk mendeteksi gelombang seismik awal sebelum getaran utama gempa mencapai wilayah terdampak.

Teknologi tersebut bertujuan memberikan waktu tambahan bagi masyarakat untuk melakukan tindakan perlindungan diri.

Pengenalan sistem ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan petugas dalam menerima dan menindaklanjuti informasi peringatan gempa.

Evaluasi Temukan Perlunya Perbaikan Sirene dan Respons Petugas

Meskipun simulasi berjalan lancar, BPBD DKI Jakarta mencatat sejumlah aspek yang masih perlu ditingkatkan.

Salah satu perhatian utama adalah kecepatan penyampaian tanda bahaya melalui sirene.

Selain itu, kesiapan personel dalam menyampaikan informasi darurat kepada masyarakat juga menjadi bagian dari evaluasi.

"Dalam evaluasi pascasimulasi, dinilai perlunya peningkatan pada respons penyampaian tanda bahaya (sirine) dan kesiapsiagaan personel agar penyampaian informasi darurat kepada masyarakat dapat berlangsung lebih cepat dan tepat," ujar Ali.

Ali berharap hasil evaluasi tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki prosedur kesiapsiagaan bencana di lingkungan pemerintahan.

Ia menekankan bahwa kesiapan petugas dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko korban serta dampak kerusakan ketika bencana terjadi.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026