HOME  ⁄  Nasional

Kemenkes Integrasikan Posyandu dan Kebun Pangan Perempuan di Sleman untuk Cegah Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kemenkes Integrasikan Posyandu dan Kebun Pangan Perempuan di Sleman untuk Cegah Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Kegiatan posyandu di salah satu lingkungan di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. ANTARA/Nirkomala./.)

Pantau - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat upaya pencegahan stunting melalui integrasi pelayanan posyandu dan Kebun Pangan Perempuan di Hargobinangun, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, guna meningkatkan pemenuhan gizi ibu hamil dan balita pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, dr. Lovely Daisy, mengatakan pengembangan kebun pangan tersebut melengkapi pelayanan posyandu terintegrasi yang mencakup seluruh siklus kehidupan.

Keterangan tersebut disampaikan Lovely di Jakarta, Jumat (23/10/2026), terkait penguatan layanan kesehatan dan pemenuhan gizi masyarakat di tingkat desa.

Kemenkes Tekankan Pentingnya Gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Lovely menjelaskan bahwa periode 1.000 HPK merupakan masa penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.

Menurutnya, sekitar 85 persen perkembangan otak anak terjadi pada rentang usia tersebut sehingga pemenuhan gizi perlu diperhatikan sejak masa kehamilan.

Kemenkes mendorong pemantauan kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak secara rutin melalui pelayanan posyandu.

“Oleh karena itu, kesehatan ibu dan pemenuhan gizi anak perlu dijaga sejak masa kehamilan. Pemantauan tumbuh kembang rutin tiap bulan melalui buku KIA dan penyuluhan kepada orang tua menjadi sangat krusial,” katanya.

Lovely menambahkan bahwa konsep posyandu integrasi siklus hidup tidak hanya melayani ibu hamil dan balita, tetapi juga bayi, remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia.

Posyandu Lili Dilengkapi Gedung Baru dan Kebun Pangan Terpadu

Penguatan layanan kesehatan di Hargobinangun dilaksanakan melalui program Desa BRILiaN 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Program tersebut mencakup peresmian gedung baru Posyandu Lili dan pengembangan area Kebun Pangan Perempuan.

Kebun pangan tersebut disiapkan untuk mendukung ketersediaan bahan makanan bergizi yang dapat dimanfaatkan dalam penyediaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Pemanfaatan hasil pertanian lokal diharapkan dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan anak secara berkelanjutan.

Integrasi pelayanan kesehatan dan sumber pangan lokal juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pencegahan stunting di tingkat masyarakat.

Wamen PPPA Dorong Pemberdayaan Perempuan Melalui Kebun Pangan

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan menilai perempuan memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan keluarga.

Menurutnya, Kebun Pangan Perempuan tidak hanya berfungsi sebagai sumber bahan makanan, tetapi juga dapat menjadi sarana pengembangan keterampilan dan kegiatan ekonomi.

“Perempuan memiliki peran penting dalam membangun ketahanan pangan sekaligus memastikan kebutuhan gizi ibu dan anak terpenuhi. Kebun Pangan Perempuan ini perlu dikembangkan bukan hanya sebagai sumber pangan lokal, tetapi juga ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi, saling menguatkan, mengembangkan keterampilan, dan membuka peluang ekonomi,” katanya Veronica.

Veronica berharap program tersebut dapat memperluas keterlibatan perempuan dalam kegiatan produktif sekaligus meningkatkan akses keluarga terhadap bahan pangan bergizi.

Komisi IV DPR Dukung Pemanfaatan Pangan Lokal untuk PMT

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto menekankan pentingnya pelayanan kesehatan yang berkelanjutan dan ketersediaan bahan pangan sehat bagi ibu serta anak.

Ia menilai penguatan posyandu dan program 1.000 HPK perlu didukung dengan pemanfaatan sumber pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat.

“Penguatan program 1.000 HPK dan posyandu menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Dukungan terhadap Kebun Pangan Perempuan juga diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan pangan lokal untuk pemenuhan gizi masyarakat melalui PMT, sekaligus memberdayakan kader posyandu dan kelompok wanita tani,” ujarnya.

Menurutnya, kerja sama antara kader posyandu dan kelompok wanita tani dapat memperkuat penyediaan makanan tambahan berbasis bahan pangan lokal.

Kader Posyandu Harapkan Peningkatan Kualitas Pelayanan

Kehadiran gedung baru Posyandu Lili dan fasilitas kebun pangan mendapat sambutan positif dari kader kesehatan setempat.

Fatimah, salah seorang kader posyandu, mengatakan fasilitas tersebut memberikan semangat tambahan bagi para kader dalam menjalankan pelayanan kesehatan masyarakat.

“Kami sangat senang dan bahagia, terlebih kami mendapatkan gedung baru untuk pelayanan posyandu. Ini tentu menambah semangat kader-kader kami dan meningkatkan kualitas pelayanan posyandu yang ada,” ungkap Fatimah.

Ia berharap program Desa BRILiaN 1.000 HPK dapat terus berjalan untuk mendukung pemantauan kesehatan ibu dan anak.

Penguatan layanan posyandu dan pemanfaatan kebun pangan lokal diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026