HOME  ⁄  Nasional

Kemenbud Gelar Trauma Healing untuk 300 Anak Korban Gempa Flores Lewat Permainan Tradisional Sikka

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kemenbud Gelar Trauma Healing untuk 300 Anak Korban Gempa Flores Lewat Permainan Tradisional Sikka
Foto: Seremoni pembukaan trauma healing “Laba Limang” yang digelar di Halaman Kantor Bupati Sikka, NTT, Jumat 23/10/2026 (sumber: ANTARA/Sinta Ambar)

Pantau - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) berkolaborasi dengan Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar kegiatan trauma healing bagi 300 pelajar SD hingga SMP yang terdampak gempa Flores pada 15 Agustus 2026.

Kegiatan pemulihan psikososial yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Sikka, NTT, tersebut mengusung tema Laba Limang, salah satu permainan tradisional masyarakat Sikka berupa permainan membuat tandu.

Program ini menghadirkan berbagai aktivitas berbasis budaya lokal untuk membantu anak-anak memulihkan semangat, membangun kebersamaan, dan kembali percaya diri setelah mengalami bencana gempa bumi.

Sejumlah kegiatan yang diselenggarakan meliputi permainan tradisional, olahraga rakyat, mendongeng, mewarnai, pelayanan kesehatan, hingga pembagian bingkisan kepada anak-anak terdampak bencana.

Kemenbud Manfaatkan Permainan Tradisional untuk Pemulihan Trauma Anak

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, Judi Wahjudin, menjelaskan bahwa permainan rakyat dan olahraga tradisional merupakan bagian dari 10 objek pemajuan kebudayaan yang perlu terus dilestarikan.

Menurutnya, pemanfaatan permainan tradisional dalam kegiatan pemulihan psikologis menjadi salah satu cara untuk memberikan dukungan kepada anak-anak sekaligus memperkenalkan kembali kekayaan budaya daerah.

“Melalui berbagai ragam sajian olahraga tradisional ini merupakan salah satu dari 10 objek pemajuan kebudayaan. Jadi harapan kami dengan sajian bertemakan Laba Limang ini mudah-mudahan adik bisa semangat kembali, bergotong royong bisa saling menguatkan kembali,” ujar Judi Wahjudin di Sikka, NTT, Jumat.

Kemenbud berharap kegiatan bertema Laba Limang tersebut dapat membantu anak-anak terdampak gempa untuk kembali bersemangat melalui aktivitas yang menyenangkan dan melibatkan interaksi sosial.

Selain menjadi sarana pemulihan psikososial, kegiatan ini juga bertujuan mendorong pemanfaatan permainan dan olahraga tradisional sebagai aset budaya yang memiliki manfaat sosial dan pendidikan.

Permainan rakyat dinilai mengandung berbagai nilai positif, mulai dari sportivitas, keseimbangan, semangat berkompetisi, kerja sama, hingga kegembiraan yang dapat membantu anak-anak kembali beraktivitas bersama.

Aktivitas tersebut juga dapat melatih ketangkasan, keberanian, kehati-hatian, kesabaran, keseimbangan tubuh, serta kecepatan anak-anak melalui permainan yang telah dikenal secara turun-temurun.

Bupati Sikka Dorong Permainan Tradisional Kembali Dihidupkan di Sekolah

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menyampaikan dukungannya terhadap penyelenggaraan kegiatan pemulihan psikososial yang memanfaatkan permainan tradisional masyarakat setempat.

Ia menilai permainan rakyat dan olahraga tradisional perlu kembali diperkenalkan kepada anak-anak melalui kegiatan di lingkungan sekolah dengan melibatkan KPOTI sebagai salah satu pihak pendukung.

“Olahraga atau permainan rakyat seperti ini perlu kita hidupkan kembali mulai dari sekolah-sekolah,” kata Juventus Prima Yoris Kago.

Menurut Juventus, pengembangan permainan tradisional di sekolah juga menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui permainan rakyat, anak-anak diharapkan lebih banyak melakukan aktivitas bersama teman sebaya sehingga interaksi sosial dan kebersamaan dapat terus terbangun.

Selain itu, pengenalan permainan tradisional sejak usia sekolah diharapkan dapat meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap warisan budaya daerah yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Pemerintah daerah bersama komunitas masyarakat juga diharapkan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan permainan rakyat agar tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi berikutnya.

Beragam Permainan Tradisional Sikka Diperkenalkan kepada Anak Korban Gempa

Dalam kegiatan Laba Limang, ratusan pelajar diajak mengenal dan memainkan berbagai permainan tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Sikka.

Sejumlah permainan yang diperkenalkan antara lain Se’su Kikuk atau Se’su Kae yang dikenal sebagai permainan petak umpet, Ogor Ge’lo/Kalimat/Kelentur, serta Wetok Tali Merdeka.

Anak-anak juga mengikuti permainan Sese, Kotir atau gasing, Jarang Kumak, Te’u Meong, Wain Gahar, Hadang, Laba Limang, serta sejumlah permainan tradisional lainnya.

Berbagai permainan tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Sikka yang telah dikenal dan dimainkan oleh anak-anak secara turun-temurun.

Melalui aktivitas bersama, permainan tradisional dimanfaatkan sebagai sarana hiburan sekaligus media untuk menumbuhkan kembali rasa percaya diri, semangat, dan kebersamaan anak-anak setelah mengalami bencana.

Kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan nilai gotong royong, kerja sama, dan sportivitas melalui aktivitas yang melibatkan interaksi langsung antarpeserta.

Kemenbud Harapkan Pemulihan Psikososial dan Pelestarian Budaya Berjalan Bersama

Penyelenggaraan kegiatan Laba Limang diharapkan memberikan manfaat ganda, yakni membantu pemulihan kondisi psikososial anak-anak terdampak gempa Flores sekaligus memperkuat pelestarian budaya lokal Kabupaten Sikka.

Kementerian Kebudayaan juga mendorong agar permainan tradisional tidak hanya dihadirkan dalam kegiatan khusus, tetapi dapat terus dimanfaatkan dalam aktivitas pendidikan dan kehidupan masyarakat.

Kolaborasi Kemenbud, KPOTI NTT, pemerintah daerah, dan komunitas masyarakat diharapkan dapat memperluas pemanfaatan permainan rakyat sebagai sarana pembelajaran, pelestarian budaya, serta dukungan sosial bagi masyarakat terdampak bencana.

Melalui keterlibatan berbagai pihak, permainan tradisional masyarakat Sikka diharapkan tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya sekaligus memberikan manfaat bagi perkembangan sosial anak-anak.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026