HOME  ⁄  Nasional

KNEKS Dorong Wisata Halal Indonesia Bertransformasi, Fokus pada Pengalaman Wisatawan dan Peningkatan Ekonomi Lokal

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

KNEKS Dorong Wisata Halal Indonesia Bertransformasi, Fokus pada Pengalaman Wisatawan dan Peningkatan Ekonomi Lokal
Foto: (Sumber :Para pembicara dalam talk show bertema “The Next Wave of Halal Tourism: From Policy to Lifestyle” yang diselenggarakan di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat (23/10/2026). (ANTARA/HO-IMTF 2027).)

Pantau - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mendorong pengembangan wisata halal Indonesia agar tidak hanya berfokus pada regulasi dan sertifikasi, tetapi juga meningkatkan pengalaman wisatawan serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.

Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah sekaligus Direktur Industri Produk Halal KNEKS Putu Rahwidhiyasa mengatakan pengembangan pariwisata ramah Muslim perlu menghubungkan produk halal, layanan wisata, dan kebutuhan wisatawan dalam satu ekosistem.

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat memperluas peluang usaha bagi masyarakat di sekitar destinasi wisata, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Keterhubungan ini diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal, termasuk UMKM yang bergerak di bidang kuliner, kerajinan, dan berbagai layanan pendukung perjalanan,” kata Putu dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Pernyataan tersebut berkaitan dengan pembahasan pengembangan pariwisata halal dalam diskusi bertajuk The Next Wave of Halal Tourism: From Policy to Lifestyle yang digelar di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Wisata Halal Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Sertifikasi

Putu menilai industri pariwisata halal Indonesia perlu dikembangkan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh.

Menurutnya, pemenuhan regulasi dan sertifikasi halal tetap menjadi bagian dari pengembangan sektor tersebut, tetapi bukan satu-satunya aspek yang harus diperhatikan.

Pelaku industri juga perlu memastikan layanan wisata sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup wisatawan Muslim modern.

Pengembangan tersebut mencakup keterhubungan antara produk halal, fasilitas pariwisata, serta berbagai layanan yang digunakan wisatawan selama perjalanan.

Dengan demikian, wisata halal diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih terintegrasi sekaligus memperluas peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

KNEKS menilai keterlibatan UMKM di bidang kuliner, kerajinan, dan layanan perjalanan menjadi bagian penting dalam membangun rantai nilai pariwisata halal.

Promosi Destinasi Harus Diikuti Dampak Ekonomi bagi Masyarakat

Sementara itu, CEO Meraya Coki Lubis menekankan bahwa pengembangan wisata halal tidak cukup dilakukan hanya dengan meningkatkan promosi destinasi.

Menurutnya, pengenalan suatu destinasi kepada masyarakat belum tentu membuat wisatawan datang atau memberikan manfaat ekonomi yang merata.

“Destinasi yang indah belum tentu dikenal, yang dikenal belum tentu dikunjungi, dan yang dikunjungi belum tentu memberikan dampak ekonomi yang merata. Karena itu, kita perlu menghubungkan potensi destinasi dengan pasar, sekaligus memastikan masyarakat lokal menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata,” ujar Coki.

Ia menilai strategi pengembangan pariwisata perlu menghubungkan daya tarik destinasi dengan kebutuhan pasar.

Selain meningkatkan kunjungan wisatawan, pengelolaan destinasi juga harus membuka peluang pendapatan bagi masyarakat setempat.

Coki menegaskan pentingnya memastikan pelaku usaha lokal menjadi bagian dari kegiatan ekonomi yang tumbuh melalui sektor pariwisata.

Masyarakat Lokal Perlu Dilibatkan Sejak Perencanaan

Coki juga mendorong penerapan pendekatan dari bawah ke atas atau bottom-up dalam pengembangan ekosistem wisata halal.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat di sekitar destinasi perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan kegiatan pariwisata.

Ia menilai warga tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat setelah program pengembangan destinasi berjalan.

“Ekosistem pariwisata yang kuat harus tumbuh bersama masyarakatnya. Ketika warga merasa memiliki destinasi, memahami peluang ekonominya, dan terlibat langsung dalam pengelolaannya, akan terbentuk sense of belonging yang penting bagi keberlanjutan industri,” katanya.

Menurut Coki, keterlibatan masyarakat dapat membangun rasa memiliki dan memperkuat keberlanjutan pengelolaan destinasi wisata.

Pendekatan tersebut dapat diterapkan dengan melibatkan UMKM, pengelola penginapan warga, pemandu wisata lokal, perajin, penyedia kuliner halal, serta komunitas setempat.

Berbagai pelaku usaha tersebut dapat dihubungkan dengan paket perjalanan dan jaringan pemasaran industri pariwisata.

“Dengan demikian, wisatawan tidak hanya memperoleh pengalaman yang lebih utuh, tetapi juga berkontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal,” kata dia.

Indonesia Muslim Travel Fair 2027 Dijadwalkan Digelar di Tangerang

Pengembangan wisata halal Indonesia juga akan didorong melalui penyelenggaraan Indonesia Muslim Travel Fair (IMTF) 2027.

Ajang tersebut dijadwalkan berlangsung pada 23–24 Januari 2027 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten.

Penyelenggaraan IMTF 2027 menjadi salah satu kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan industri perjalanan ramah Muslim di Indonesia.

Melalui penguatan layanan, keterlibatan masyarakat, dan hubungan antara destinasi dengan pasar, pengembangan wisata halal diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi wisatawan maupun perekonomian daerah.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026