
Pantau - Pemerintah membangun 66 unit hunian tetap (huntap) bagi masyarakat penyintas bencana hidrometeorologi di Kota Lhokseumawe, Aceh, dengan target penyelesaian pada Desember 2026.
Pembangunan tersebut dilakukan untuk menyediakan tempat tinggal yang lebih aman dan layak bagi warga yang kehilangan rumah atau mengalami kerusakan akibat bencana pada 25 November 2025.
Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Lhokseumawe, Furqan, menjelaskan bahwa pembangunan 66 unit huntap dilaksanakan di dua lokasi berbeda.
Sebanyak 56 unit dibangun di Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, sedangkan 10 unit lainnya berada di Gampong Cut Mamplam, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.
Hingga Sabtu (24/10/2026), progres keseluruhan pembangunan dilaporkan telah mencapai sekitar tujuh persen setelah pekerjaan berlangsung hampir satu bulan.
Pemerintah menargetkan seluruh unit hunian dapat segera dimanfaatkan masyarakat terdampak bencana setelah pembangunan selesai pada Desember 2026.
Sebanyak 56 Huntap Dibangun di Padang Sakti dan 10 Unit di Cut Mamplam
Furqan menjelaskan bahwa pembangunan hunian tetap di Padang Sakti memanfaatkan lahan seluas sekitar empat hektare yang telah disiapkan untuk kawasan permukiman penyintas bencana.
Sebanyak 56 unit huntap di lokasi tersebut diperuntukkan bagi masyarakat terdampak bencana dari tiga gampong, yakni Blang Naleng Mameh, Blang Panyang, dan Padang Sakti.
Sementara itu, 10 unit huntap yang dibangun di Gampong Cut Mamplam dialokasikan bagi warga terdampak bencana dari Gampong Jambo Timu, Kecamatan Blang Mangat, serta penyintas tanah longsor di Kecamatan Muara Dua.
Penentuan lokasi pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan, kondisi geografis, dan kelayakan lahan untuk mendukung keselamatan penghuni.
Menurut Furqan, kedua lokasi pembangunan telah memperoleh rekomendasi dari Badan Geologi Pusat terkait kelayakan lahan sebagai kawasan hunian bagi masyarakat penyintas bencana.
Rekomendasi tersebut menjadi salah satu dasar dalam pelaksanaan pembangunan agar rumah yang disediakan dapat digunakan secara aman oleh masyarakat penerima manfaat.
Progres Pembangunan Baru 7 Persen, Kontraktor Targetkan Rampung Desember
Manajer Proyek PT Sarjis Agung Indra Jaya, Syahril, mengungkapkan bahwa pembangunan 66 unit huntap di Kota Lhokseumawe telah berlangsung hampir satu bulan.
Hingga 24 Oktober 2026, progres pekerjaan secara keseluruhan baru mencapai sekitar tujuh persen.
Meski demikian, pihak kontraktor tetap menargetkan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan pada Desember 2026 sesuai jadwal yang telah direncanakan.
Syahril menjelaskan bahwa target penyelesaian paling cepat ditetapkan pada pertengahan Desember 2026, sedangkan batas waktu paling lambat pada akhir bulan tersebut.
Untuk mempercepat pekerjaan, pihak pelaksana menggunakan sistem konstruksi panel yang diproduksi terlebih dahulu di bengkel kerja di Binjai, Sumatera Utara.
Panel-panel bangunan yang telah selesai diproduksi kemudian dikirim menuju lokasi proyek di Kota Lhokseumawe untuk dipasang dan dilanjutkan dengan pekerjaan penyelesaian rumah.
Metode tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan konstruksi yang diterapkan untuk mendukung penyelesaian puluhan unit hunian dalam waktu yang telah ditentukan.
Huntap Tipe 36 Dirancang Lebih Tinggi untuk Antisipasi Genangan Air
Seluruh hunian tetap yang dibangun di Kota Lhokseumawe menggunakan desain rumah tipe 36 dengan penyesuaian konstruksi berdasarkan karakteristik lahan di masing-masing lokasi.
Syahril menjelaskan bahwa kondisi geografis kawasan pembangunan memiliki perbedaan kontur atau ketinggian tanah sehingga diperlukan penyesuaian teknis.
Salah satu langkah yang diterapkan adalah membuat elevasi bangunan lebih tinggi dibandingkan jalan lingkungan di sekitar kawasan permukiman.
Peninggian tersebut bertujuan mengurangi risiko masuknya air atau genangan ke dalam rumah ketika terjadi hujan maupun peningkatan aliran air di lingkungan sekitar.
Selain itu, pihak kontraktor menerapkan sistem pembangunan bertingkat atau trap untuk menyesuaikan posisi bangunan dengan perbedaan ketinggian tanah.
Pekerjaan konstruksi juga mencakup penimbunan tanah dan pembangunan pembatas antarunit agar penempatan rumah sesuai dengan kondisi lahan.
Penyesuaian desain tersebut dilakukan untuk mendukung keamanan dan kelayakan hunian bagi masyarakat yang sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi.
Sebanyak 85 Persen Pekerja Proyek Berasal dari Masyarakat Lokal
Selain menyediakan tempat tinggal bagi penyintas bencana, pembangunan 66 unit huntap di Lhokseumawe juga melibatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
Syahril menjelaskan bahwa sekitar 85 persen tenaga kerja yang terlibat dalam proyek merupakan warga lokal di sekitar wilayah pembangunan.
Saat ini, terdapat tiga tim pekerja yang bertugas di lokasi pembangunan huntap Padang Sakti dengan jumlah keseluruhan sekitar 30 orang.
Jumlah tenaga kerja tersebut direncanakan akan ditambah seiring perkembangan tahapan pembangunan, terutama ketika pekerjaan pemasangan panel memasuki tahap lanjutan.
Pelibatan masyarakat setempat memberikan kesempatan kerja bagi warga sekitar sekaligus mendukung aktivitas ekonomi selama proses pembangunan berlangsung.
Pihak kontraktor juga memperhatikan ketentuan adat dan kebiasaan masyarakat dalam menyusun jadwal pekerjaan konstruksi.
Syahril menjelaskan bahwa pelaksanaan proyek disesuaikan dengan ketentuan adat setempat yang membatasi aktivitas pekerjaan pada hari Jumat.
Untuk menjaga kelancaran pembangunan, pihak pelaksana dapat melanjutkan pekerjaan pada malam hari sebagai bagian dari penyesuaian jadwal proyek.
Pengaturan waktu tersebut dilakukan agar pekerjaan tetap dapat berjalan sesuai target penyelesaian tanpa mengabaikan ketentuan masyarakat setempat.
Pemerintah Harapkan Huntap Percepat Pemulihan Penyintas Bencana
Pembangunan 66 unit hunian tetap di Kota Lhokseumawe merupakan bagian dari upaya pemulihan kawasan permukiman setelah bencana hidrometeorologi yang terjadi pada 25 November 2025.
Pemerintah berharap penyediaan hunian tersebut dapat memberikan kepastian tempat tinggal bagi masyarakat yang kehilangan rumah atau mengalami kerusakan akibat bencana.
Dengan mempertimbangkan kelayakan lahan, keamanan lokasi, serta penyesuaian desain terhadap kondisi geografis, hunian tetap diharapkan mampu memberikan perlindungan yang lebih baik bagi para penyintas.
Pembangunan di Padang Sakti dan Cut Mamplam juga diarahkan untuk membantu masyarakat kembali menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari setelah terdampak bencana.
Selain pemulihan tempat tinggal, proyek tersebut memberikan manfaat ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja lokal selama pelaksanaan konstruksi.
Pemerintah bersama pihak pelaksana menargetkan seluruh 66 unit huntap dapat diselesaikan paling lambat akhir Desember 2026 agar segera dimanfaatkan masyarakat penerima manfaat.
- Penulis :
- Arian Mesa




