HOME  ⁄  Nasional

BPOM Gandeng Rusia Perkuat Industri Farmasi Nasional, Bidik Transfer Teknologi Insulin dan Obat Kanker

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

BPOM Gandeng Rusia Perkuat Industri Farmasi Nasional, Bidik Transfer Teknologi Insulin dan Obat Kanker
Foto: Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar bertemu dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia Alexey Vladimirovich Gruzdev, di Jakarta, Kamis 15/10/2026 (sumber: BPOM)

Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menjajaki penguatan kerja sama strategis dengan Federasi Rusia melalui transfer teknologi produksi obat, peningkatan kapasitas industri farmasi, serta pengembangan sistem pengawasan obat dan makanan untuk memperkuat kemandirian farmasi nasional.

Penjajakan kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan antara Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, dan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia, Alexey Vladimirovich Gruzdev.

Taruna Ikrar dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (24/10/2026), mengatakan bahwa kerja sama tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan produksi obat dalam negeri sekaligus memperkuat efektivitas pengawasan produk farmasi.

Salah satu fokus pembahasan adalah peluang transfer teknologi produksi obat diabetes, khususnya insulin dan obat berbasis glucagon-like peptide-1 (GLP-1), guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.

Selain itu, kedua negara membahas peningkatan kapasitas inspeksi Good Manufacturing Practices (GMP) atau Cara Pembuatan Obat yang Baik, pemanfaatan teknologi digital, serta percepatan finalisasi nota kesepahaman kerja sama.

BPOM dan Rusia Perluas Kerja Sama Farmasi yang Dirintis Sejak 2021

Taruna menjelaskan bahwa penguatan hubungan Indonesia dan Rusia merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah dijajaki BPOM bersama State Institute of Drugs and Good Practices (SID&GP) Rusia sejak 2021.

Kerja sama tersebut sebelumnya berfokus pada pertukaran informasi mengenai standar produksi obat, peningkatan kompetensi inspektur, serta pelaksanaan simulasi pemeriksaan fasilitas farmasi.

"Kerja sama ini merupakan pengembangan dari penjajakan yang telah berlangsung sejak 2021 antara BPOM dan State Institute of Drugs and Good Practices (SID&GP) Rusia, khususnya di bidang pertukaran informasi GMP, pelatihan inspektur, dan simulasi inspeksi (mock inspection)," kata Taruna Ikrar.

Dalam pengembangan kerja sama terbaru, kedua negara berupaya memperluas cakupan kolaborasi untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi, kualitas produk, dan penguasaan teknologi industri farmasi nasional.

Indonesia juga membuka peluang kerja sama pengembangan produk farmasi berteknologi tinggi atau advanced therapy medicinal products (ATMP).

Produk yang menjadi perhatian meliputi terapi seluler Chimeric Antigen Receptor T-cell (CAR-T), antibodi monoklonal, obat antivirus, serta produk hasil fraksionasi darah.

Pengembangan teknologi tersebut diharapkan dapat memperluas kemampuan industri farmasi Indonesia dalam menghasilkan obat dan terapi modern secara mandiri.

Rusia Siap Jajaki Transfer Teknologi Insulin dan Obat Kanker

Dalam pertemuan tersebut, delegasi Rusia menyampaikan kesiapan sejumlah perusahaan farmasinya untuk menjajaki transfer teknologi dan pembangunan fasilitas produksi obat di Indonesia.

Bidang produksi yang menjadi prioritas meliputi insulin, obat-obatan onkologi untuk penanganan kanker, serta berbagai produk bioteknologi.

Taruna menekankan pentingnya memperkuat kapasitas produksi insulin dan obat berbasis GLP-1 di Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketersediaan obat diabetes.

Penguatan produksi dalam negeri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan yang dibutuhkan.

Delegasi Rusia juga memaparkan pengalaman negaranya dalam membangun kemandirian industri farmasi melalui program Pharma 2020 dan Pharma 2030.

Kedua program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan Rusia dalam memproduksi bahan baku obat, obat-obatan esensial, dan vaksin secara mandiri.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu referensi dalam penjajakan pengembangan industri farmasi nasional melalui kerja sama teknologi dan peningkatan kapasitas produksi.

Pihak Rusia turut menyampaikan pengalaman kerja sama internasional melalui pembangunan Institut Bioteknologi Mechnikov di Nikaragua.

Proyek tersebut melibatkan transfer teknologi dan pelatihan tenaga teknis lokal untuk mendukung pengembangan kemampuan industri bioteknologi di negara mitra.

Model kerja sama tersebut menjadi salah satu contoh yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan fasilitas produksi farmasi di Indonesia.

BPOM Telah Inspeksi Pabrik Insulin Rusia pada Mei 2026

Kerja sama pengawasan obat antara Indonesia dan Rusia sebelumnya telah menunjukkan perkembangan melalui pelaksanaan inspeksi GMP oleh BPOM terhadap salah satu fasilitas produksi insulin di Rusia pada Mei 2026.

Inspeksi tersebut dilakukan untuk memastikan fasilitas produksi memenuhi persyaratan mutu dan keamanan yang berlaku sebelum produknya memperoleh akses ke pasar Indonesia.

Berdasarkan informasi delegasi Rusia, sekitar lima hingga enam perusahaan farmasi Rusia telah mengajukan dokumen registrasi produk kepada BPOM.

Pengajuan tersebut menunjukkan minat perusahaan farmasi Rusia untuk memasuki pasar Indonesia melalui mekanisme evaluasi dan pengawasan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam pertemuan itu, Direktur SID&GP, Vladislav Shestakov, turut memaparkan pengalaman lembaganya dalam melaksanakan inspeksi GMP terhadap fasilitas produksi obat di berbagai negara.

SID&GP merupakan lembaga di bawah Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Rusia yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap fasilitas produksi obat di luar negeri.

Pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan fasilitas produksi memenuhi persyaratan GMP yang berlaku di Rusia dan kawasan Eurasian Economic Union (EAEU).

Sejak 2016, SID&GP dilaporkan telah melaksanakan lebih dari 4.000 inspeksi terhadap fasilitas produksi obat yang tersebar di 75 negara.

Dalam menjalankan tugas tersebut, SID&GP didukung oleh 58 inspektur berkualifikasi, dengan sekitar separuh di antaranya memiliki sertifikasi inspektur dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Rusia Usulkan Pengakuan Timbal Balik Sertifikat GMP

Pemerintah Rusia juga mengusulkan penjajakan penyusunan peta jalan menuju pengakuan timbal balik atau Mutual Recognition Agreement (MRA) atas sertifikat GMP antara Indonesia dan Rusia.

Usulan tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi proses pengawasan sekaligus mendukung akses produk farmasi di pasar kedua negara.

Melalui mekanisme pengakuan timbal balik, sertifikasi fasilitas produksi berpotensi menjadi bagian dari sistem kerja sama pengawasan yang lebih terintegrasi.

Meski demikian, rencana tersebut masih memerlukan pembahasan lanjutan dengan mempertimbangkan ketentuan hukum, standar teknis, dan kewenangan masing-masing otoritas pengawas.

Selain penguatan regulasi, Rusia menawarkan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia bagi inspektur BPOM melalui Eurasian Academy of Good Practices.

Lembaga tersebut memiliki lebih dari 40 modul pelatihan teknis yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan inspektur dalam melakukan pemeriksaan fasilitas produksi obat.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah VR Factory, yakni fasilitas simulasi inspeksi berbasis realitas virtual.

Teknologi tersebut dirancang untuk membantu inspektur mempelajari prosedur pemeriksaan fasilitas produksi farmasi melalui lingkungan pelatihan virtual.

Pemanfaatan simulasi tersebut menjadi salah satu peluang kerja sama untuk memperkuat kompetensi pengawas obat Indonesia.

BPOM dan Rusia Bahas Pengawasan Digital hingga Penandatanganan MoU

Di luar pengembangan industri farmasi, Indonesia dan Rusia turut membahas pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efektivitas pengawasan obat dan makanan.

Teknologi tersebut diarahkan untuk memperkuat ketertelusuran produk di sepanjang rantai pasok, mulai dari proses produksi hingga distribusi.

Penguatan sistem digital diharapkan dapat mendukung kemampuan otoritas pengawas dalam memantau peredaran produk dan memastikan pemenuhan persyaratan keamanan serta mutu.

Sebagai tindak lanjut pertemuan, BPOM dan pihak Rusia membahas mekanisme finalisasi nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang akan menjadi dasar pelaksanaan berbagai program kerja sama.

Dokumen tersebut direncanakan ditandatangani oleh Kepala BPOM RI dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia.

Pada akhir pertemuan, Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Alexey Vladimirovich Gruzdev, mengundang Taruna Ikrar untuk melakukan kunjungan resmi ke Moskow.

Kunjungan tersebut direncanakan menjadi bagian dari penjajakan penandatanganan MoU sekaligus kesempatan untuk meninjau langsung fasilitas industri farmasi dan sistem pengawasan digital yang diterapkan Rusia.

Melalui penguatan kerja sama ini, BPOM berupaya membuka peluang transfer teknologi, pembangunan fasilitas produksi, peningkatan kompetensi pengawas, serta pengembangan sistem digital guna mendukung kemandirian industri farmasi dan memperkuat pengawasan obat serta makanan di Indonesia.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026