HOME  ⁄  Nasional

Tanggul Jebol Picu Banjir di Aceh Tamiang, Ratusan Petani Terpaksa Panen Padi dengan Sabit dan Perahu

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Tanggul Jebol Picu Banjir di Aceh Tamiang, Ratusan Petani Terpaksa Panen Padi dengan Sabit dan Perahu
Foto: Petani mendorong perahu terpal yang memuat padi dari hasil panen manual di tengah kepungan banjir di areal persawahan Desa Teluk Halban, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, Sabtu (24/10/2026).

Pantau - Petani di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, terpaksa memanen padi secara manual menggunakan sabit dan perahu di tengah genangan banjir akibat jebolnya tanggul sungai di Desa Marlempang.

Banjir yang telah berlangsung lebih dari sepekan tersebut merendam areal persawahan di Desa Teluk Halban ketika tanaman padi memasuki masa panen.

Kondisi tersebut menyebabkan petani kesulitan menyelamatkan hasil pertanian karena mesin pemanen tidak dapat digunakan di tengah genangan air.

Salah seorang petani Desa Teluk Halban, Sugiono (36), mengatakan ketinggian air pada awal banjir mencapai lebih dari satu meter sehingga aktivitas panen tidak dapat dilakukan.

"Sudah lebih dari sepekan sawah terendam. Awalnya ketinggian air sekitar satu meter lebih sehingga kami belum bisa memanen padi,” kata Sugiono, Minggu (25/10/2026).

Petani Mulai Panen pada Hari Kesembilan Banjir

Sugiono menjelaskan bahwa petani baru dapat memulai proses panen secara bertahap pada hari kesembilan setelah banjir merendam persawahan.

Namun, tanaman padi yang terlalu lama terendam mulai mengalami kerusakan karena batangnya membusuk dan bulir padi berguguran.

Untuk menyelamatkan hasil panen yang tersisa, petani harus memotong tanaman menggunakan sabit.

Padi yang telah dipanen kemudian diangkut menggunakan perahu karet atau perahu berbahan terpal menuju daratan.

Cara tersebut dilakukan karena mesin pemanen padi tidak dapat beroperasi dalam kondisi sawah yang masih tergenang.

Selain keterbatasan peralatan, petani menghadapi kesulitan mendapatkan tenaga kerja untuk membantu proses panen.

Sugiono mengatakan kondisi sawah yang berat, air berbau, serta menimbulkan rasa gatal membuat pekerja enggan turun ke lokasi.

Akibatnya, proses panen yang biasanya dapat dilakukan lebih cepat kini diperkirakan membutuhkan waktu hingga beberapa pekan.

Biaya Panen Berubah Jadi Sistem Bagi Hasil 50 Persen

Banjir juga memaksa petani mengubah sistem pembayaran tenaga kerja untuk menyelamatkan hasil panen.

Sebelum banjir, biaya panen padi mencapai Rp150 ribu per rantai.

Namun, dalam kondisi saat ini, petani dan pekerja menggunakan sistem bagi hasil dengan pembagian masing-masing 50 persen.

“Kalau tidak menggunakan sistem bagi hasil, padi kami terancam membusuk begitu saja karena tidak ada yang sanggup memanennya,” ujarnya.

Sugiono yang juga menjabat Koordinator Kecamatan Kelompok Tani Merdeka menyebutkan bahwa persawahan terdampak dikelola oleh empat kelompok tani.

Masing-masing kelompok mengelola lahan sekitar 25 hektare dengan jumlah keseluruhan petani lebih dari 100 orang.

Sebelum banjir mencapai kawasan persawahan, petani telah berkoordinasi dengan petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk mengupayakan ketersediaan alat panen.

Warga juga sempat bergotong royong memperkuat tanggul menggunakan peralatan seadanya, tetapi derasnya aliran air tidak berhasil dibendung.

Sebanyak 70 Persen Sawah Desa Teluk Halban Terdampak Banjir

Datok Penghulu Desa Teluk Halban, Abdullah Boyak, mengatakan genangan banjir mulai berangsur surut.

Meski demikian, sebagian besar kawasan persawahan masih terendam karena air belum dapat mengalir keluar secara optimal.

Abdullah menyebutkan luas lahan persawahan produktif di Desa Teluk Halban mencapai 62 hektare dengan pola tanam dua kali dalam setahun.

Sekitar 70 persen dari total lahan tersebut terdampak banjir ketika tanaman padi hampir memasuki masa panen.

Sektor pertanian menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian besar masyarakat Desa Teluk Halban.

Selain persawahan warga, banjir juga mengancam lahan percontohan penerapan teknologi pertanian atau PMAAS seluas sekitar satu hektare.

Lahan percontohan yang ditanami sejak Juli 2026 tersebut belum dapat dipanen meskipun tanaman padinya telah menguning.

"Percepatan penanganan tanggul sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian petani, terutama ketika banjir terjadi menjelang masa panen," ujarnya.

Dinas Pertanian Aceh Tamiang Masih Mendata Luas Sawah Terdampak

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan (Distanakbun) Aceh Tamiang, Irwan Hadi, membenarkan bahwa jebolnya tanggul berdampak pada ratusan hektare persawahan di wilayah pesisir Aceh Tamiang.

Namun, pemerintah daerah belum dapat memastikan luas keseluruhan lahan pertanian yang terdampak karena proses pengumpulan data masih berlangsung.

"Iya, banyak sawah yang terimbas banjir. Tapi kami belum dapat update infonya berapa hektare. Ini sedang tunggu data masuk," demikian Irwan Hadi.

Sementara itu, petani Desa Teluk Halban masih berupaya menyelamatkan tanaman padi yang tersisa di tengah genangan banjir.

Penanganan tanggul menjadi perhatian karena kerusakan infrastruktur tersebut menyebabkan air merendam kawasan pertanian ketika petani memasuki masa panen.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026