HOME  ⁄  Nasional

NEXT Indonesia Ingatkan Danantara Sumberdaya Indonesia Fokus Awasi Ekspor SDA, Bukan Sekadar Jadi Perusahaan Eksportir

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

NEXT Indonesia Ingatkan Danantara Sumberdaya Indonesia Fokus Awasi Ekspor SDA, Bukan Sekadar Jadi Perusahaan Eksportir
Foto: Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan.

Pantau - Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan meminta PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memprioritaskan pengawasan dan transparansi transaksi ekspor sumber daya alam (SDA) untuk mencegah kebocoran penerimaan negara, bukan sekadar mengembangkan kegiatan bisnis sebagai perusahaan eksportir.

Herry menilai keberhasilan DSI harus ditentukan oleh kemampuannya memperkuat tata kelola perdagangan komoditas, memastikan pencatatan nilai ekspor yang akurat, serta mendeteksi potensi penyimpangan transaksi.

"Keberhasilan DSI harus diukur dari kemampuannya memperkuat pengawasan, meningkatkan transparansi transaksi, dan memastikan nilai ekspor tercatat secara akurat,” ujar Herry dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (25/10/2026).

Menurutnya, DSI perlu menjaga tujuan awal pembentukannya sebagai instrumen pengawasan perdagangan komoditas strategis Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa orientasi bisnis yang terlalu dominan berpotensi mengalihkan perhatian perusahaan dari upaya menekan kebocoran ekspor.

NEXT Indonesia Minta DSI Prioritaskan Pengawasan Ekspor

Herry mengatakan DSI perlu berfokus pada penguatan sistem pengawasan perdagangan sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomi besar.

Saat ini, cakupan komoditas yang menjadi perhatian DSI meliputi batu bara, minyak sawit, dan ferro alloy atau paduan logam berbasis besi.

Ketiga komoditas tersebut memiliki nilai perdagangan yang besar sehingga memerlukan sistem pengawasan transaksi yang memadai.

Menurut Herry, DSI seharusnya menjadi instrumen untuk memperbaiki tata kelola ekspor, bukan hanya menambah jumlah perusahaan yang bergerak dalam perdagangan internasional.

Ia menilai penguatan pengawasan harus menjadi prioritas agar tujuan pembentukan DSI dapat tercapai.

“Jangan sampai DSI sibuk membangun diri sebagai perusahaan eksportir, sementara kebocoran dan lemahnya pengawasan transaksi tidak selesai. DSI perlu fokus pada penegakan tata kelola ekspor, bukan berlomba menjadi pelaku usaha di pasar internasional,” ujar Herry.

Pernyataan tersebut menegaskan pandangan NEXT Indonesia Center bahwa keberhasilan DSI perlu dinilai berdasarkan perbaikan sistem pengawasan, bukan semata-mata aktivitas bisnis perusahaan.

Sistem Ekspor Satu Pintu Perlu Didukung Integrasi Data

Herry menilai penerapan mekanisme ekspor satu pintu perlu disertai sistem pengawasan yang terintegrasi.

Menurutnya, pemusatan transaksi ekspor saja belum cukup apabila tidak didukung kemampuan untuk memeriksa kesesuaian data perdagangan.

DSI perlu menghubungkan informasi mengenai transaksi ekspor, nilai penjualan, volume komoditas, dan harga pasar internasional.

Integrasi tersebut diperlukan agar perbedaan data yang tidak wajar dapat teridentifikasi melalui sistem pengawasan.

Dengan membandingkan nilai transaksi dan harga komoditas di pasar internasional, DSI diharapkan mampu mendeteksi potensi penyimpangan dalam perdagangan ekspor.

Herry menekankan pentingnya pencatatan data yang akurat untuk mendukung transparansi dan pengawasan perdagangan sumber daya alam.

DSI Diminta Deteksi Praktik Manipulasi Nilai Ekspor

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian NEXT Indonesia Center adalah potensi penyimpangan nilai transaksi ekspor.

Herry menyebut sistem pengawasan terintegrasi perlu mampu mengidentifikasi anomali harga dan volume komoditas.

Anomali tersebut dapat menjadi petunjuk awal adanya ketidaksesuaian antara nilai transaksi yang dilaporkan dan kondisi perdagangan sebenarnya.

Ia juga menyoroti potensi praktik under-invoicing, yakni pelaporan nilai transaksi yang lebih rendah daripada nilai sebenarnya.

Selain itu, pengawasan diperlukan untuk mendeteksi indikasi transfer pricing yang dapat berdampak pada berkurangnya penerimaan negara.

Menurut Herry, kemampuan mengidentifikasi indikasi penyimpangan tersebut menjadi salah satu ukuran penting efektivitas DSI.

Meski demikian, indikasi ketidakwajaran transaksi tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum dapat dinyatakan sebagai pelanggaran.

Batu Bara dan Minyak Sawit Jadi Komoditas Strategis yang Diawasi

Cakupan pengawasan DSI saat ini meliputi tiga kelompok komoditas, yaitu batu bara, minyak sawit, dan ferro alloy.

Besarnya nilai perdagangan komoditas tersebut menjadi alasan perlunya penguatan sistem pencatatan dan pengawasan ekspor.

Herry menilai pengawasan harus mampu menghubungkan data volume barang yang diekspor dengan nilai penjualan yang dilaporkan.

Informasi tersebut kemudian perlu dibandingkan dengan harga pasar internasional untuk mengetahui kemungkinan adanya ketidaksesuaian.

Dengan sistem yang terintegrasi, DSI diharapkan dapat menjalankan fungsi pengawasan secara lebih terarah.

Keberhasilan DSI Harus Diukur dari Perbaikan Tata Kelola

NEXT Indonesia Center menegaskan bahwa ukuran keberhasilan DSI tidak seharusnya hanya berfokus pada perkembangan kegiatan bisnis perusahaan.

Herry meminta penguatan transparansi transaksi dan ketepatan pencatatan nilai ekspor menjadi indikator utama dalam menilai kinerja DSI.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga orientasi pembentukan perusahaan agar tetap berkaitan dengan pencegahan kebocoran ekspor.

Menurutnya, pengawasan yang efektif terhadap transaksi perdagangan sumber daya alam diperlukan untuk memastikan nilai ekspor tercatat secara akurat.

Dengan demikian, DSI diharapkan dapat berperan dalam memperkuat tata kelola perdagangan komoditas strategis sekaligus mendukung upaya menjaga penerimaan negara.

Penulis :
Gerry Eka
Editor :
Gerry Eka
FLOII 2026