HOME  ⁄  Nasional

Badan Geologi Temukan Potensi Penyimpanan Karbon 6.435 Gigaton di 41 Akuifer Salin, Kalimantan Jadi Wilayah Terbesar

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Badan Geologi Temukan Potensi Penyimpanan Karbon 6.435 Gigaton di 41 Akuifer Salin, Kalimantan Jadi Wilayah Terbesar
Foto: (Sumber :Infografis rencana pelaksanaan proyek carbon capture and storage (CCS) di lapangan Arun Gas, Lhokseumawe, Aceh. ANTARA/HO-PT PEMA.)

Pantau - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengoptimalkan pemetaan akuifer salin bawah permukaan bumi sebagai lokasi penyimpanan karbon dioksida (CO2), dengan potensi kapasitas teoretis mencapai 6.435 gigaton yang tersebar di 41 area di Indonesia.

Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca melalui pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS).

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan pengembangan potensi penyimpanan karbon bawah tanah merupakan bagian dari strategi pemerintah menghadapi perubahan iklim.

"Badan Geologi senantiasa menyelaraskan langkah dengan komitmen. Salah satu strategi penting dalam dokumen LTS-LCCR 2050 tersebut adalah pengimplementasian teknologi Carbon Capture and Storage di Indonesia," kata Lana di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Menurutnya, pengembangan CCS sejalan dengan strategi jangka panjang Indonesia untuk pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim hingga 2050.

Badan Geologi Petakan 41 Area Penyimpanan Karbon Bawah Tanah

Badan Geologi melalui Pusat Survei Geologi (PSG) melakukan penyelidikan terhadap cekungan sedimen dan wilayah yang belum dikembangkan untuk mencari lokasi penyimpanan karbon.

Pemetaan tersebut difokuskan pada formasi batuan bawah permukaan yang dinilai berpotensi menjadi tempat penyimpanan CO2 secara geologis.

Berdasarkan hasil pemetaan dan penapisan regional hingga 2025, Badan Geologi mengidentifikasi 41 area akuifer salin dengan potensi kapasitas penyimpanan teoretis sekitar 6.435 gigaton CO2.

Akuifer salin merupakan lapisan batuan bawah permukaan bumi yang mengandung air asin atau air dengan kadar garam tinggi sehingga tidak layak digunakan sebagai air konsumsi.

Formasi tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai media penyimpanan CO2 melalui teknologi injeksi ke bawah permukaan bumi.

Namun, angka kapasitas teoretis tersebut masih merupakan hasil pemetaan regional, bukan kapasitas penyimpanan yang telah dipastikan siap digunakan.

"Secara spesifik, prioritas kerja kami dititikberatkan pada cekungan-cekungan sedimen yang belum berproduksi migas atau area frontier. Optimalisasi formasi akuifer salin atau saline aquifer sebagai media penyimpanan karbon yang berbasis survei geologi dan skrining regional," kata Lana.

Kalimantan Miliki Potensi Penyimpanan Karbon Terbesar

Badan Geologi mencatat Pulau Kalimantan sebagai wilayah dengan potensi kapasitas penyimpanan karbon terbesar berdasarkan hasil pemetaan hingga 2025.

Potensi kapasitas teoretis di Kalimantan mencapai sekitar 4.824 gigaton setara CO2 yang tersebar di 12 area.

Sejumlah lokasi yang masuk dalam pemetaan tersebut meliputi Bengkayang, Entikong, Tabang, dan Puruk Cahu.

Sementara itu, Pulau Jawa menempati urutan berikutnya dengan potensi kapasitas penyimpanan mencapai 1.225 gigaton setara CO2 di 15 area.

Wilayah yang dipetakan di Pulau Jawa antara lain Sragen, Banyumas, Kediri, dan Bogor.

Adapun Pulau Sumatera memiliki potensi kapasitas penyimpanan sekitar 386 gigaton setara CO2 yang tersebar di 14 area.

Beberapa lokasi yang teridentifikasi di Sumatera meliputi Padang Sidempuan, Muara Enim, dan Baturaja di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Secara keseluruhan, ketiga pulau tersebut mencakup 41 area yang telah masuk dalam hasil pemetaan potensi penyimpanan karbon Badan Geologi.

Pemetaan Diperluas ke Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua

Badan Geologi berencana memperluas wilayah penyelidikan potensi penyimpanan karbon secara bertahap dalam beberapa tahun mendatang.

Pada 2026, kajian lapangan difokuskan pada wilayah Bali hingga Nusa Tenggara.

Selanjutnya, kegiatan pemetaan akan diperluas ke Sulawesi dan Papua pada periode 2027–2028.

"Bali hingga Nusa Tenggara pada 2026. Selanjutnya, pada tahun 2027-2028 kajian akan diperluas ke wilayah Sulawesi hingga Papua," kata Lana.

Perluasan tersebut dilakukan untuk menambah basis data geologi mengenai potensi penyimpanan karbon di berbagai wilayah Indonesia.

Hasil penyelidikan diharapkan dapat mendukung identifikasi lokasi yang memiliki karakteristik geologi sesuai untuk pengembangan proyek CCS.

Badan Geologi juga akan melanjutkan kajian terhadap cekungan sedimen yang belum menjadi wilayah produksi minyak dan gas bumi.

Teknologi CCS Jadi Bagian dari Strategi Penurunan Emisi

Lana menjelaskan bahwa pengembangan teknologi CCS merupakan salah satu strategi dalam dokumen Indonesia Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 atau LTS-LCCR 2050.

Teknologi tersebut dirancang untuk menangkap CO2 dan menyimpannya di formasi geologi bawah permukaan agar tidak terlepas ke atmosfer.

Dalam pengembangannya, Badan Geologi berperan menyediakan informasi dan hasil survei mengenai potensi lokasi penyimpanan karbon.

Data tersebut menjadi dasar untuk mendukung kajian lanjutan terhadap kelayakan dan keamanan geologis lokasi penyimpanan.

Menurut Lana, penyediaan basis data penyimpanan CO2 diperlukan untuk mempercepat pengembangan proyek CCS di Indonesia.

Langkah tersebut juga diarahkan untuk mendukung komitmen nasional dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

Indonesia turut mendukung upaya global membatasi kenaikan suhu bumi hingga 1,5 derajat Celsius melalui kerja sama internasional di bidang perubahan iklim.

Dengan potensi teoretis mencapai 6.435 gigaton CO2 di 41 area, Badan Geologi melanjutkan pemetaan dan kajian untuk mendukung pengembangan penyimpanan karbon bawah tanah secara bertahap.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026