
Pantau - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penyusunan zona konservasi pada seluruh 421 Cekungan Air Tanah (CAT) di Indonesia rampung secara bertahap hingga 2045 untuk memperkuat ketahanan sumber daya air menghadapi perubahan iklim.
Penyusunan zona konservasi tersebut akan diprioritaskan pada wilayah yang mengalami tekanan pemanfaatan air tanah, termasuk kawasan perkotaan, pusat industri, dan daerah dengan penurunan muka air tanah yang signifikan.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan program tersebut menjadi salah satu prioritas lembaganya dalam meningkatkan pengelolaan sumber daya geologi berbasis data dan mitigasi risiko.
"Dalam arah kebijakan jangka menengah, penyusunan zona konservasi air tanah tersebut diprioritaskan rampung pada CAT yang dinilai paling mendesak hingga tahun 2029," kata Lana saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Program tersebut merupakan bagian dari arah kebijakan Badan Geologi pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Zona Konservasi 421 Cekungan Air Tanah Ditargetkan Rampung pada 2045
Badan Geologi menetapkan target jangka panjang untuk menyelesaikan penyusunan zona konservasi pada 421 cekungan air tanah yang tersebar di Indonesia.
Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.
Dalam jangka menengah hingga 2029, pemerintah akan mendahulukan cekungan air tanah yang dinilai memiliki tingkat urgensi tinggi.
Penentuan prioritas tersebut mempertimbangkan tekanan terhadap ketersediaan air tanah, aktivitas pemanfaatan sumber daya air, serta kondisi geologi wilayah.
Badan Geologi juga menempatkan perubahan iklim sebagai salah satu tantangan yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan sumber daya air tanah.
Penyusunan zona konservasi diharapkan menjadi dasar pengaturan pemanfaatan air tanah agar keberlanjutan sumber daya tersebut tetap terjaga.
Jakarta, Bandung, Semarang hingga Banjarmasin Masuk Wilayah Prioritas
Lana menjelaskan bahwa penyusunan zona konservasi akan difokuskan pada kawasan aglomerasi, wilayah industri padat, dan daerah yang mengalami penurunan muka air tanah secara drastis.
Sejumlah cekungan air tanah yang menjadi perhatian meliputi CAT Jakarta, Bandung-Soreang, Semarang, dan Pekalongan-Pemalang.
Selain itu, Badan Geologi juga memprioritaskan CAT Karawang-Bekasi dan Serang-Tangerang yang mencakup kawasan dengan aktivitas perkotaan dan industri.
Wilayah lainnya yang masuk dalam daftar prioritas adalah CAT Palangka Raya-Banjarmasin.
Penataan zona konservasi pada kawasan tersebut dilakukan untuk mendukung pengelolaan air tanah di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat dan kegiatan ekonomi.
Badan Geologi menilai kawasan dengan tekanan pemanfaatan air tanah memerlukan perhatian khusus dalam penyusunan kebijakan konservasi.
Melalui penetapan zona konservasi, pemerintah dapat memiliki dasar informasi untuk mengatur dan mengawasi pemanfaatan air tanah sesuai kondisi masing-masing cekungan.
Pengawasan Pemanfaatan Air Tanah Akan Diperketat
Menurut Lana, penyusunan zona konservasi tidak cukup hanya dilakukan melalui pemetaan dan penetapan wilayah.
Pelaksanaan program tersebut juga harus disertai pengawasan lapangan yang ketat untuk memastikan pemanfaatan air tanah berjalan sesuai ketentuan.
Badan Geologi menekankan pentingnya peningkatan kepatuhan dalam penggunaan sumber daya air tanah, terutama pada wilayah yang menghadapi tekanan pemanfaatan tinggi.
Koordinasi lintas instansi bersama pemerintah daerah juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kebijakan konservasi.
Kerja sama tersebut diperlukan agar hasil penyusunan zona konservasi dapat digunakan dalam pengelolaan sumber daya air di tingkat daerah.
Badan Geologi juga mendorong agar pengawasan dan penataan pemanfaatan air tanah berjalan seiring dengan upaya menjaga ketersediaan air bagi masyarakat.
Badan Geologi Perkuat Pemetaan dan Mitigasi Bencana
Selain konservasi air tanah, Badan Geologi menetapkan sejumlah program prioritas untuk meningkatkan kualitas layanan informasi geologi.
Salah satu fokusnya adalah peningkatan kualitas pemetaan dan pemutakhiran data geologi di berbagai wilayah Indonesia.
Badan Geologi juga akan memperkuat mitigasi bahaya geologi sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana.
Program lainnya mencakup penyediaan dukungan informasi geologi lingkungan untuk penyusunan tata ruang dan pembangunan infrastruktur yang tangguh.
Lana menekankan pentingnya penggunaan data geologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pembangunan dan pengelolaan lingkungan.
Informasi tersebut akan dipadukan dengan berbagai data pendukung agar dapat digunakan secara lebih menyeluruh.
Data Geologi Akan Diintegrasikan dengan Hidrologi dan Tata Ruang
Badan Geologi berencana mengintegrasikan informasi geologi dengan data hidrologi, tata ruang, kependudukan, dan infrastruktur.
Penggabungan berbagai sumber data tersebut ditujukan untuk meningkatkan ketepatan analisis kondisi wilayah dan potensi risiko yang dihadapi masyarakat.
Data hidrologi akan menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung pengelolaan cekungan air tanah.
Sementara itu, informasi tata ruang, kependudukan, dan infrastruktur akan digunakan untuk melengkapi analisis kebutuhan serta kondisi wilayah.
Menurut Lana, integrasi data tersebut diperlukan agar informasi geologi dapat menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi yang efektif.
Melalui penyusunan zona konservasi pada 421 cekungan air tanah hingga 2045, Badan Geologi menargetkan penguatan pengelolaan sumber daya air sekaligus peningkatan kesiapan menghadapi perubahan iklim dan dinamika geologi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




