HOME  ⁄  Nasional

Kemenag Kerahkan 35 Penyuluh Agama untuk Pulihkan Trauma Korban Gempa Flores di Manggarai Timur

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Kemenag Kerahkan 35 Penyuluh Agama untuk Pulihkan Trauma Korban Gempa Flores di Manggarai Timur
Foto: Peserta mengikuti pelatihan dukungan psikososial dan keluarga tangguh bencana bagi penyuluh agama di Kabupaten Manggarai Timur, NTT (sumber: Kemenag NTT)

Pantau - Kementerian Agama (Kemenag) mengerahkan sebanyak 35 penyuluh agama Islam dan Katolik untuk mendampingi pemulihan korban gempa bumi Flores di tujuh kecamatan Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan fokus pada pemulihan psikososial, penguatan spiritual, dan ketahanan keluarga.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Timur, Anselmus Panggabean, menjelaskan bahwa puluhan penyuluh tersebut akan memberikan pendampingan kepada masyarakat terdampak gempa, terutama kelompok rentan yang masih menghadapi berbagai tantangan selama masa pemulihan.

"Sebanyak 35 penyuluh tersebut terdiri atas 16 penyuluh agama Islam dan 19 penyuluh agama Katolik," kata Anselmus dalam keterangannya yang diterima di Kupang, Senin (26/10/2026).

Sebelum diterjunkan ke wilayah terdampak, seluruh penyuluh agama mengikuti pembekalan khusus untuk meningkatkan kemampuan dalam memberikan pendampingan psikologis, spiritual, dan sosial kepada korban bencana.

Kegiatan pembekalan tersebut diselenggarakan melalui kerja sama antara Kemenag, Wahana Visi Indonesia (WVI), serta Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Manggarai Timur.

Sebanyak 35 Penyuluh Agama Diterjunkan ke Tujuh Kecamatan Terdampak Gempa

Kemenag menyiapkan pendampingan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di tujuh kecamatan, yakni Sambi Rampas, Lamba Leda Utara, Elar, Borong, Ranamese, Congkar, dan Kota Komba Utara.

Program tersebut diprioritaskan bagi kelompok masyarakat rentan, khususnya perempuan, anak-anak, lanjut usia, serta keluarga yang masih tinggal di tenda pengungsian.

Anselmus menjelaskan bahwa pemulihan masyarakat pascabencana tidak cukup hanya dilakukan melalui bantuan kebutuhan dasar, pemenuhan kebutuhan fisik, dan penyediaan tempat tinggal sementara.

Menurutnya, korban gempa juga membutuhkan dukungan psikologis, pendampingan spiritual, serta penguatan hubungan keluarga agar mampu menghadapi tekanan emosional dan tantangan selama masa pemulihan.

"Kolaborasi ini penting agar pendampingan kepada korban gempa tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh aspek psikologis, spiritual, dan ketahanan keluarga," ujar Anselmus.

Melalui pendampingan tersebut, para penyuluh diharapkan dapat membantu masyarakat membangun kembali ketahanan mental dan spiritual setelah mengalami bencana gempa bumi.

Penyuluh Agama Dibekali Penanganan Psikososial dan Kesehatan Mental

Dalam kegiatan pembekalan, sebanyak 35 penyuluh agama mendapatkan berbagai materi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mendampingi masyarakat terdampak bencana.

Materi tersebut mencakup pemahaman mengenai bencana dari perspektif agama, peran tokoh agama dalam situasi kebencanaan, serta kompetensi yang diperlukan untuk membantu masyarakat menghadapi kondisi darurat.

Para penyuluh juga memperoleh pelatihan dukungan psikososial awal melalui pendekatan keagamaan untuk membantu korban yang mengalami tekanan emosional setelah gempa bumi.

Selain itu, peserta mendapatkan pembekalan mengenai perancangan intervensi psikososial yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, terutama kelompok rentan yang memerlukan pendampingan lebih intensif.

Kemenag turut membekali para penyuluh dengan pengetahuan mengenai sistem rujukan gangguan kesehatan jiwa agar korban yang membutuhkan penanganan lanjutan dapat diarahkan kepada layanan profesional.

Materi lainnya meliputi keterampilan memfasilitasi kelompok masyarakat serta penguatan konsep keluarga tangguh bencana untuk meningkatkan kesiapan keluarga dalam menghadapi keadaan darurat.

Anselmus berharap kerja sama lintas lembaga tersebut dapat memperkuat peran penyuluh agama dalam membantu masyarakat memulihkan kondisi psikologis, spiritual, dan sosial setelah bencana.

"Melalui kolaborasi Kemenag, WVI, dan DP2KBP3A, para penyuluh diharapkan menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat dengan membantu memperkuat ketahanan mental, spiritual, dan keluarga pascagempa," ujarnya.

Perlindungan Perempuan dan Anak di Pengungsian Jadi Perhatian

Kepala DP2KBP3A Kabupaten Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas, menekankan pentingnya membangun keluarga tangguh bencana sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat terdampak gempa.

Menurut Pranata, penguatan ketahanan keluarga memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, terutama ketika masyarakat masih berada di lokasi pengungsian.

Situasi pengungsian pascabencana dinilai dapat menghadirkan berbagai risiko sosial yang perlu diantisipasi melalui peningkatan perlindungan kelompok rentan dan penguatan hubungan keluarga.

Karena itu, program pendampingan tidak hanya diarahkan untuk membantu pemulihan psikologis korban, tetapi juga memperkuat kemampuan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan masyarakat secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek perlindungan sosial selama masa tanggap darurat dan pascabencana.

Wahana Visi Indonesia Tekankan Pentingnya Pertolongan Pertama Psikologis

Sementara itu, Manager Respons Bencana Wahana Visi Indonesia, Lisa Hernawati, menilai penyuluh agama memiliki posisi strategis dalam mendukung pemulihan masyarakat terdampak gempa Flores.

Menurut Lisa, kedekatan penyuluh agama dengan masyarakat menjadi modal penting karena mereka kerap menjadi tempat warga mencari bantuan, pendampingan, dan arahan ketika menghadapi persoalan sosial maupun keagamaan.

Oleh sebab itu, kemampuan memberikan dukungan psikososial dan pertolongan pertama psikologis menjadi keterampilan penting agar penyuluh mampu mendampingi korban sesuai kebutuhan.

"Karena itu, kemampuan memberikan dukungan psikososial dan pertolongan pertama psikologis diperlukan agar pendampingan dapat dilakukan secara empatik dan tepat," ucap Lisa.

Pembekalan tersebut diharapkan dapat membantu para penyuluh mengenali kebutuhan psikologis masyarakat sekaligus memberikan dukungan awal sebelum korban memperoleh penanganan lanjutan apabila diperlukan.

Melalui pengerahan 35 penyuluh agama, Kemenag bersama WVI dan DP2KBP3A berupaya memperkuat pemulihan masyarakat terdampak gempa Flores dengan mengintegrasikan dukungan psikososial, pendampingan spiritual, perlindungan kelompok rentan, serta penguatan ketahanan keluarga.

Program pendampingan di tujuh kecamatan Kabupaten Manggarai Timur tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat menghadapi masa pemulihan sekaligus meningkatkan kesiapan keluarga dalam menghadapi risiko bencana pada masa mendatang. 

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026