
Pantau — Hadiah total Rp200 juta menanti peserta kompetisi film pendek nasional yang digelar Partai Golkar untuk memperingati HUT ke-62.
Lomba bertema ‘From Zero to Hero’ ini membuka pendaftaran bagi masyarakat umum hingga 15 November 2026, termasuk peserta yang ingin mengeksplorasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam produksi film.
Hingga Senin (26/10/2026), panitia mencatat lebih dari 60 peserta dari berbagai daerah telah mendaftar.
Jumlah itu diperkirakan terus bertambah menjelang penutupan pendaftaran. Panitia menjadwalkan pengumuman pemenang pada 19 November 2026 di Gedung Usmar Ismail, Jakarta.
Tahun ini, kompetisi tersebut memberi ruang bagi dua pendekatan produksi: pembuatan film konvensional dan pemanfaatan AI.
Namun, panitia masih mempertimbangkan pemisahan kategori penilaian jika jumlah peserta yang menggunakan AI cukup banyak.
Perjuangan Jadi Cerita
Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini (MPO) DPP Partai Golkar sekaligus juri lomba, Nurul Arifin, menjelaskan tema From Zero to Hero mengangkat perjuangan masyarakat menghadapi tantangan hidup hingga mencapai keberhasilan.
Tema ini menjadi pembeda dari kompetisi tahun sebelumnya, yang mengangkat kemajemukan dan toleransi.
"Kalau tahun lalu kita berbicara tentang kemajemukan dan toleransi, tahun ini tema kita tentang perjuangan yang dimaknai dengan judul From Zero to Hero," kata Nurul dalam konferensi pers di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Peserta bebas mengangkat berbagai persoalan sosial, mulai dari akses pendidikan dan lapangan kerja hingga ekonomi, lingkungan, serta perubahan iklim.
Cerita tidak harus menampilkan sosok pahlawan dengan kemampuan luar biasa. Aksi nyata seseorang dalam menghadapi kesulitan sehari-hari juga bisa menjadi inti cerita.
Nurul berharap film peserta tidak berhenti sebagai tontonan atau sekadar menyampaikan informasi.
Karya tersebut diharapkan mampu membangun empati dan meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.
"Namun, dalam waktu yang terbatas itu, kita diharapkan juga bisa menyajikan sesuatu yang sifatnya bukan cuma mengedukasi, tapi bisa memberikan rasa pemaknaan, menumbuhkan rasa empati, dan meninggalkan kesan mendalam. Kalau nanti yang ikut dalam produksi AI ini banyak, mungkin juri bisa bersepakat untuk dibedakan," ujar Nurul yang juga anggota Komisi I DPR RI itu.
AI Bukan Penentu
Di sisi lain, pegiat perfilman sekaligus juri lomba, Motulz, menilai penggunaan AI membuka ruang eksplorasi baru bagi anak muda.
Teknologi tersebut dapat menjadi sarana untuk mengembangkan visual dan cara bercerita dalam film pendek.
"Yang mungkin menarik bagi saya melihat perlombaan ini adalah bagaimana Golkar menangkap ekspresi anak muda hari ini dengan teknik teknologi kekinian, yaitu AI," tutur Motulz.
Meski teknologi AI menawarkan pilihan visual yang beragam, kecanggihan teknis bukan satu-satunya faktor penentu kemenangan.
Motulz menekankan kedalaman ide, struktur cerita, pesan, dan orisinalitas gagasan tetap menjadi pertimbangan utama dewan juri.
Pengalaman lokal dan penggunaan bahasa daerah juga dapat memperkuat karakter sebuah film.
Karena itu, peserta tidak cukup hanya mengandalkan visual yang menarik. Mereka perlu menyampaikan cerita yang kuat dan memiliki makna.
"Jadi, memang bagian-bagian ini yang akan jadi pertimbangan kami dengan juri bahwa tolong ini hanya teknik, hanya eksekusi, tapi tema, ide, dan cara bercerita kayaknya lebih penting juga," pungkasnya.
Pendaftaran Masih Dibuka
Dengan batas pendaftaran pada 15 November 2026, calon peserta masih memiliki waktu untuk menyiapkan karya dan mengikuti kompetisi nasional tersebut.
Panitia membuka kesempatan bagi masyarakat umum, sementara pengumuman pemenang akan berlangsung empat hari setelah batas pendaftaran berakhir.
Kompetisi ini menggabungkan tantangan bercerita, eksplorasi teknologi, dan isu kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, penilaian tidak hanya bertumpu pada cara peserta membuat film, tetapi juga pada kekuatan gagasan dan kemampuan cerita membangun empati penonton.
- Penulis :
- Khalied Malvino




