HOME  ⁄  Nasional

Inalum Ungkap Hilirisasi Bauksit Bisa Tingkatkan Nilai Produk hingga 70 Kali Lipat dan Buka 130 Ribu Lapangan Kerja

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Inalum Ungkap Hilirisasi Bauksit Bisa Tingkatkan Nilai Produk hingga 70 Kali Lipat dan Buka 130 Ribu Lapangan Kerja
Foto: (Sumber :Pekerja PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). ANTARA/HO-Inalum.)

Pantau - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menyatakan hilirisasi bauksit menjadi aluminium mampu meningkatkan nilai ekonomi produk hingga 70 kali lipat sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja, penerimaan negara, dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra, mengatakan peningkatan nilai tersebut diperoleh melalui pengolahan bauksit menjadi alumina, kemudian aluminium dan berbagai produk turunannya.

Arif menyebut pengembangan industri pengolahan alumina di Mempawah, Kalimantan Barat, juga diproyeksikan membuka sekitar 130.000 lapangan kerja baru.

Harga Bauksit Naik dari 40 Dolar AS Menjadi 3.500 Dolar AS

Arif menjelaskan bahwa proses hilirisasi mampu meningkatkan nilai jual bahan tambang secara bertahap.

Menurutnya, bauksit yang memiliki harga sekitar 40 dolar AS per ton dapat diolah menjadi alumina dengan harga sekitar 400 dolar AS per ton.

"40 dolar AS harga bauksit ini, kalau menjadi alumina harganya sekitar 400-an (dolar AS). Artinya sudah 10 kali lipat naik," kata Arif sebagaimana dikutip di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Arif menyebut proses pengolahan bauksit menjadi alumina membutuhkan biaya sekitar 250–300 dolar AS per ton.

Dengan harga alumina sekitar 400 dolar AS per ton, terdapat selisih sekitar 100 dolar AS per ton sebelum memperhitungkan komponen biaya lainnya.

Nilai produk kembali meningkat ketika alumina diproses menjadi aluminium.

Arif menjelaskan harga aluminium dapat mencapai sekitar 3.200–3.500 dolar AS per ton, dibandingkan alumina yang berada pada kisaran 400 dolar AS per ton.

Menurutnya, peningkatan nilai tambah dari bauksit hingga menjadi aluminium dapat mencapai 70 kali lipat berdasarkan perhitungan yang disampaikan perusahaan.

Hilirisasi di Mempawah Diproyeksikan Serap 130 Ribu Tenaga Kerja

Selain meningkatkan nilai produk, Arif mengatakan hilirisasi juga memberikan dampak ekonomi melalui penerimaan pajak dan penyerapan tenaga kerja.

Aktivitas industri pengolahan turut mendorong kebutuhan transportasi, kegiatan pelabuhan, serta perkembangan usaha di sekitar kawasan industri.

Salah satu wilayah yang menjadi contoh pengembangan hilirisasi adalah Mempawah, Kalimantan Barat.

Daerah tersebut menjadi lokasi pengembangan industri pengolahan alumina yang diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri aluminium nasional.

Menurut Arif, kegiatan industri dan usaha pendukung telah mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Ia menyebut pengembangan industri di Mempawah diproyeksikan menciptakan sekitar 130.000 lapangan kerja baru.

Angka tersebut merupakan proyeksi penyerapan tenaga kerja, bukan jumlah pekerjaan yang telah terealisasi.

Inalum Dorong Pengolahan Aluminium hingga Produk Industri

Arif menegaskan pengembangan industri hilir tidak cukup berhenti pada produksi alumina dan aluminium.

Menurutnya, aluminium perlu diolah lebih lanjut menjadi produk dengan spesifikasi dan kegunaan yang beragam.

Salah satu bentuk pengolahan lanjutan adalah produksi billet aluminium yang dapat digunakan sebagai bahan baku proses ekstrusi.

Melalui proses tersebut, aluminium dapat dibentuk menjadi berbagai produk, termasuk profil aluminium untuk kebutuhan konstruksi bangunan.

Selain sektor konstruksi, aluminium juga digunakan dalam industri kabel listrik dan pembuatan komponen otomotif.

Material tersebut juga memiliki potensi pemanfaatan dalam industri baterai kendaraan listrik.

Hilirisasi Diharapkan Perkuat Ekonomi Daerah dan Industri Nasional

Inalum menilai peningkatan aktivitas pengolahan mineral di dalam negeri dapat memperluas manfaat ekonomi dari sumber daya alam Indonesia.

Manfaat tersebut mencakup peningkatan nilai produk, kegiatan industri pendukung, penerimaan pajak, dan kesempatan kerja.

Pengembangan industri aluminium dari tahap pengolahan bauksit hingga produk akhir juga diharapkan memperkuat rantai pasok manufaktur nasional.

Arif menekankan bahwa keberlanjutan hilirisasi perlu diarahkan pada pengembangan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi dan penggunaan yang semakin luas.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026