HOME  ⁄  Nasional

Pemkot Pekalongan Dorong Batik Ramah Lingkungan, Kenalkan Teknologi IPAL Mini Hasil Kerja Sama dengan Belanda

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Pemkot Pekalongan Dorong Batik Ramah Lingkungan, Kenalkan Teknologi IPAL Mini Hasil Kerja Sama dengan Belanda
Foto: Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab (sumber: ANTARA/Kutnadi)

Pantau - Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, Jawa Tengah, mendorong para perajin batik untuk terus melestarikan tradisi membatik sekaligus mengembangkan industri batik ramah lingkungan melalui penerapan teknologi pengolahan limbah cair.

Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab mengatakan upaya tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan akibat aktivitas produksi batik.

Hal itu disampaikan Balgis dalam kegiatan Pameran Kolaborasi Museum Batik dengan Green Batik yang digelar di Kota Pekalongan, Selasa.

"Kami berharap tradisi batik tetap terjaga, inovasi terus berkembang, dan pencemaran akibat limbah batik dapat dikurangi," katanya.

Menurut Balgis, pengembangan industri batik tidak hanya perlu mempertahankan nilai tradisi dan budaya, tetapi juga harus diimbangi dengan inovasi teknologi yang mendukung keberlanjutan lingkungan.

Pameran Green Batik Libatkan 14 Pembatik di Pekalongan

Pameran bertajuk "Menjaga Tradisi, Merangkul Inovasi" tersebut diselenggarakan di Museum Batik Kota Pekalongan dan dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2026.

Kegiatan ini menghadirkan perpaduan karya batik tradisional, inovasi para perajin, serta teknologi pengolahan limbah cair yang dapat mendukung kegiatan produksi secara lebih ramah lingkungan.

Sebanyak 14 pembatik terlibat dalam pameran dengan mengusung konsep green batik atau batik ramah lingkungan.

Melalui konsep tersebut, para pembatik didorong untuk tetap mempertahankan teknik dan nilai budaya membatik sambil mengadopsi inovasi yang mampu mengurangi dampak negatif proses produksi terhadap lingkungan.

Balgis menilai pameran tersebut menjadi salah satu langkah inovatif dalam memperkenalkan praktik industri batik yang lebih memperhatikan aspek keberlanjutan.

Pemerintah daerah berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran para perajin mengenai pentingnya pengelolaan limbah dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Teknologi IPAL Mini Hasil Kerja Sama dengan Belanda Diperkenalkan

Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan dalam pameran tersebut adalah teknologi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mini yang dirancang untuk mengolah limbah cair hasil produksi batik.

Balgis menjelaskan bahwa teknologi tersebut memungkinkan limbah cair batik diolah terlebih dahulu sehingga air hasil pengolahannya dapat dimanfaatkan kembali sesuai dengan peruntukannya.

IPAL mini tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Pemerintah Belanda dalam pengembangan teknologi pengolahan limbah untuk mendukung industri batik di Pekalongan.

Kehadiran teknologi tersebut diharapkan dapat membantu para pembatik mengurangi dampak pencemaran lingkungan yang berpotensi muncul dari proses produksi.

Pemerintah Kota Pekalongan juga berharap teknologi IPAL mini dapat menjadi proyek percontohan untuk dikembangkan dan diterapkan secara lebih luas di kalangan perajin batik.

Balgis menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan melakukan kajian mengenai keberlanjutan penerapan teknologi tersebut, termasuk kemungkinan pengembangan dan penerapannya di berbagai lokasi produksi batik.

Kajian tersebut diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi para perajin untuk memperoleh fasilitas pengolahan limbah sesuai kebutuhan dan kondisi usaha masing-masing.

Pemkot Pekalongan Dorong Pembangunan IPAL Komunal untuk Kurangi Pencemaran Sungai

Selain memperkenalkan teknologi IPAL mini, Pemerintah Kota Pekalongan turut mendorong pengembangan fasilitas pengolahan limbah bersama atau IPAL komunal.

Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu para pembatik mengelola limbah cair produksi secara lebih efektif tanpa harus menyediakan instalasi pengolahan secara mandiri.

Pengembangan IPAL komunal juga diarahkan untuk mengurangi pencemaran sungai akibat pembuangan limbah cair dari kegiatan industri batik.

Balgis menegaskan bahwa upaya menjaga kebersihan lingkungan harus berjalan seiring dengan keberlangsungan usaha dan peningkatan kesejahteraan para perajin.

"Kami berharap teknologi ini bisa dikembangkan, sehingga para pembatik memiliki fasilitas pengolahan limbah minimal seperti IPAL komunal. Dengan begitu, sungai tetap bersih, sementara para pembatik tetap produktif dan mampu meningkatkan pendapatan ekonominya," kata Balgis.

Pemerintah daerah berharap penerapan teknologi pengolahan limbah dapat membantu para pembatik mempertahankan produktivitas sekaligus meningkatkan pendapatan dari kegiatan usaha mereka.

Pelestarian Batik dan Inovasi Lingkungan Didorong Berjalan Bersama

Melalui pameran tersebut, Pemerintah Kota Pekalongan berupaya mempertemukan pelestarian warisan budaya batik dengan pengembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Kolaborasi antara pembatik, pemerintah daerah, dan mitra internasional diharapkan dapat memperluas penerapan inovasi pengolahan limbah di sektor industri batik.

Pemerintah juga mendorong agar pengembangan teknologi lingkungan tidak menghambat kegiatan produksi, melainkan mendukung keberlanjutan usaha para perajin.

Dengan penerapan teknologi pengolahan limbah dan penguatan praktik produksi ramah lingkungan, industri batik Pekalongan diharapkan dapat terus berkembang tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026