
Pantau - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie meminta perguruan tinggi di Indonesia memahami pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) serta mengevaluasi sistem pendidikan untuk mempersiapkan lulusan menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.
Stella menilai perkembangan teknologi AI yang berlangsung sangat cepat menuntut universitas untuk menyesuaikan strategi pendidikan, pengembangan pengetahuan, dan kompetensi mahasiswa agar tetap relevan dengan kebutuhan industri.
"Artificial Intelligence (AI) tidak bertumbuh secara linear, tetapi bertumbuh secara eksponensial. Pada awalnya, perkembangannya mungkin terlihat pelan, tetapi kemudian dapat berubah dengan sangat cepat," kata Stella saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, karakteristik perkembangan AI yang eksponensial harus menjadi perhatian perguruan tinggi agar mampu mengantisipasi perubahan teknologi yang berpotensi memengaruhi berbagai sektor kehidupan.
Stella Christie Dorong Universitas Evaluasi Peran Pendidikan di Era AI
Stella menegaskan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan karena institusi pendidikan merupakan salah satu tempat lahirnya teknologi tersebut.
Ia mengingatkan bahwa sejarah perkembangan AI bermula dari pertemuan ilmiah di Dartmouth University pada 1956 yang menjadi salah satu tonggak penting penelitian kecerdasan buatan.
"Menurut saya, yang paling mampu untuk menghadapi ini sebenarnya adalah universitas. Kenapa? AI ini lahir dari pertemuan di Dartmouth University pada 1956. Jadi, kalau AI lahir dari universitas, saya rasa universitas akan mampu menghadapi itu dengan strategi yang sama," ujarnya.
Stella meminta perguruan tinggi kembali mengevaluasi perannya dalam menciptakan, menyampaikan, dan mengurasi pengetahuan di tengah kemudahan akses informasi melalui teknologi AI.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan memperoleh informasi menggunakan AI, tetapi juga harus mampu memahami, menghubungkan, dan memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
"Kita harus bersama-sama memikirkan peran bersama waktu kita menciptakan pengetahuan, tujuan kita mentransmisikan pengetahuan dan masih mampukah kita mengurasi pengetahuan. Itulah hal yang sangat penting yang harus kita siapkan," ucap dia.
Evaluasi tersebut diperlukan agar perguruan tinggi mampu mempertahankan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menghasilkan lulusan yang siap menghadapi perubahan teknologi.
Perkembangan AI Berpotensi Mengurangi Pekerjaan Tingkat Pemula
Selain menyoroti perubahan dalam dunia pendidikan, Stella juga mengingatkan adanya potensi berkurangnya lapangan pekerjaan tingkat pemula atau entry-level jobs akibat penggunaan teknologi kecerdasan buatan.
Menurutnya, sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan tenaga kerja baru berpotensi digantikan oleh sistem AI yang mampu menjalankan tugas dengan biaya lebih rendah.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perguruan tinggi dalam mempersiapkan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja.
Stella menilai pemetaan kebutuhan tenaga kerja dan kompetensi lulusan semakin penting untuk memastikan kesesuaian antara kemampuan sumber daya manusia dengan kebutuhan industri.
Pemetaan tersebut juga diperlukan untuk mengidentifikasi keterampilan yang harus diperkuat serta mengetahui potensi ketimpangan antara jumlah lulusan dan ketersediaan pekerjaan.
Melalui langkah tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat memperoleh gambaran mengenai perubahan kebutuhan kompetensi akibat perkembangan teknologi AI.
Wamendiktisaintek Usulkan Survei Nasional untuk Petakan Kompetensi Lulusan
Sebagai langkah menghadapi perubahan dunia kerja, Stella mengusulkan penyusunan survei dengan pertanyaan seragam yang dapat digunakan seluruh perguruan tinggi di Indonesia.
Survei tersebut bertujuan memetakan kondisi sumber daya manusia (SDM), termasuk kompetensi lulusan dan kesesuaiannya dengan kebutuhan tenaga kerja.
Menurut Stella, pelaksanaan pemetaan perlu melibatkan perguruan tinggi dengan memanfaatkan struktur dan sistem yang sudah tersedia agar pengumpulan data berlangsung lebih efisien.
Ia juga mengusulkan agar penyusunan pertanyaan survei mempertimbangkan hasil berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.
"Tujuan jangka pendek kita adalah membuat satu survei yang seragam untuk seluruh perguruan tinggi untuk memetakan kondisi SDM. Pertanyaan-pertanyaannya bisa disusun oleh kementerian dengan masukan dari studi-studi yang sudah dilakukan. Dengan pertanyaan yang seragam, kita bisa memetakan kondisi SDM kita saat ini," tutur Stella Christie.
Melalui survei tersebut, pemerintah diharapkan memperoleh data yang lebih menyeluruh mengenai kondisi kompetensi lulusan perguruan tinggi di Indonesia.
Data hasil pemetaan dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi kebutuhan penguatan kompetensi mahasiswa sekaligus mendukung penyesuaian pendidikan tinggi terhadap perkembangan AI.
Stella menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam proses tersebut agar pendidikan tinggi tetap mampu menjalankan perannya dalam menciptakan pengetahuan dan mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi perubahan dunia kerja.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




