
Pantau - Sebanyak 261.602 siswa dari berbagai jenjang pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) terdampak kerusakan fasilitas pendidikan akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026, sementara sejumlah sekolah masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas darurat.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 22 Oktober 2026, siswa terdampak berasal dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, hingga sekolah luar biasa (SLB).
Salah satu sekolah yang terdampak adalah SD Negeri Inpres Nggorang di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT, yang terpaksa memanfaatkan bangunan darurat dari bilik bambu karena ruang kelas mengalami kerusakan berat.
Kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut sempat dihentikan selama dua pekan setelah gempa sebelum akhirnya dilanjutkan menggunakan fasilitas sementara.
Siswa SD Inpres Nggorang Belajar di Kelas Darurat
Sejak bangunan sekolah mengalami kerusakan, para siswa SD Negeri Inpres Nggorang mengikuti pembelajaran di ruang-ruang darurat yang didirikan di halaman sekolah.
Setiap ruang belajar digunakan oleh sekitar 32 hingga 40 siswa yang harus menghadapi udara panas, angin kencang, dan debu selama mengikuti pelajaran.
Kondisi tersebut telah menjadi keseharian para siswa dan guru selama kurang lebih dua bulan setelah gempa.
Seorang siswa bernama Tristan mengaku merindukan suasana sekolah sebelum bencana terjadi.
“Saya kangen dengan suasana sekolah dahulu sebelum gempa. Kami semua bersekolah dengan ceria, banyak tawa karena tempat bermain kami luas,” kata Tristan.
Halaman yang sebelumnya digunakan siswa untuk bermain kini menjadi lokasi pendirian ruang kelas darurat.
Tristan juga mengaku masih merasa khawatir terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
“Kami juga takut karena gempa masih sering terjadi,” kata Tristan.
Ia berharap sekolahnya segera dibangun kembali agar kegiatan belajar dapat berlangsung dengan aman dan nyaman.
Penggabungan Kelas Ganggu Konsentrasi Belajar
Kesulitan belajar juga dirasakan Nayya, siswa kelas 6 SD Negeri Inpres Nggorang, yang sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama.
Menurut Nayya, kondisi ruang belajar darurat membuat suasana pembelajaran berbeda dibandingkan sebelum gempa.
“Sekarang dua kelas harus digabung menjadi satu sehingga suasana menjadi lebih ramai dan kami susah untuk konsentrasi,” kata Nayya.
Penggabungan kelas tersebut membuat siswa harus mengikuti pelajaran dalam kondisi yang lebih padat dan ramai.
Nayya berharap dapat menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dengan baik dan diterima di SMP negeri yang diinginkannya.
Ia juga menginginkan pemulihan fasilitas pendidikan dan permukiman warga dapat segera dilakukan.
“Semoga pemerintah dapat lekas memulihkan sekolah dan rumah-rumah kami agar kami kembali hidup dengan tenang dan belajar dengan baik,” kata Nayya.
Lebih dari 261 Ribu Siswa NTT Terdampak Gempa
Dampak gempa bumi di Flores tidak hanya dirasakan siswa SD Negeri Inpres Nggorang, tetapi juga peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan di NTT.
Data BNPB hingga 22 Oktober 2026 mencatat sebanyak 261.602 siswa terdampak bencana yang merusak bangunan sekolah dan fasilitas lainnya.
Di tengah keterbatasan ruang belajar, para siswa SD Negeri Inpres Nggorang tetap mengikuti kegiatan pendidikan di kelas darurat.
Harapan mereka tertuju pada pemulihan bangunan sekolah agar proses pembelajaran dapat kembali berlangsung dalam kondisi yang lebih aman dan nyaman.
- Penulis :
- Aditya Yohan




