
Pantau - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Moh Jumhur Hidayat mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk mempercepat pemulihan lingkungan di Sumatera Utara melalui pendidikan, penelitian, serta tindakan nyata di lapangan.
Jumhur menegaskan bahwa perlindungan ekosistem harus menjadi tanggung jawab bersama dan diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan untuk mengurangi risiko bencana.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah kegiatan kuliah umum bersama sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dan Universitas HKBP Nommensen di Medan, Selasa (27/10/2026).
"Pembangunan tetap diperlukan untuk membuka lapangan kerja, menyediakan energi, dan memperbaiki pelayanan publik. Namun, lokasi, skala, dan metode pembangunan wajib memperhitungkan kapasitas alam serta keselamatan manusia sejak tahap perencanaan," kata Jumhur dalam keterangan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menteri LH Soroti Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera Utara
Jumhur menyoroti rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Utara pada akhir 2025.
Bencana tersebut meliputi banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang menjadi perhatian dalam upaya memperbaiki pengelolaan lingkungan.
Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi peringatan untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap tata ruang dan tata kelola lingkungan.
Ia menekankan bahwa pembangunan ekonomi harus mempertimbangkan daya dukung alam agar tidak meningkatkan risiko terhadap keselamatan masyarakat.
Pemulihan lingkungan juga perlu menjadi bagian dari kebijakan pembangunan sehingga peningkatan kesejahteraan dapat berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem.
Hutan Bukit Barisan Berperan Penting dalam Pencegahan Bencana
Jumhur menjelaskan bahwa kawasan hutan di bentang alam Bukit Barisan memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan Sumatera Utara.
Kawasan hutan tersebut berperan sebagai pengatur tata air sekaligus membantu menjaga kestabilan lereng.
Namun, menurutnya, keberadaan hutan perlu didukung pengendalian pemanfaatan ruang yang ketat, terutama ketika wilayah menghadapi cuaca ekstrem.
Ia mendorong penerapan mitigasi bencana berbasis ilmu pengetahuan untuk memperkuat pengelolaan kawasan yang memiliki risiko hidrometeorologi.
Langkah tersebut mencakup evaluasi tutupan vegetasi, analisis daerah tangkapan air, pengujian stabilitas lereng, serta pemeriksaan kapasitas aliran sungai.
Selain itu, penataan zona permukiman perlu mempertimbangkan tingkat kerawanan bencana agar keselamatan masyarakat menjadi prioritas.
Perguruan Tinggi Didorong Jadi Pusat Riset Lingkungan
Dalam kegiatan kuliah umum di Medan, Jumhur juga menekankan peran perguruan tinggi dalam mendukung pemulihan lingkungan melalui penelitian dan pengembangan solusi berbasis sains.
Menurutnya, kampus dapat menjadi pusat pendidikan ekologis sekaligus menghasilkan inovasi untuk menjawab berbagai persoalan lingkungan.
Kolaborasi antara akademisi dan pemerintah diharapkan dapat memperkuat dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan pengelolaan lingkungan.
Jumhur menegaskan bahwa upaya pemulihan ekosistem perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap perlindungan lingkungan, pembangunan ekonomi, dan keselamatan masyarakat dapat berjalan secara seimbang di Sumatera Utara.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




