HOME  ⁄  Nasional

Dua Siswa Sekolah Rakyat Pimpin Ikrar Sumpah Pemuda di Makassar, Ribuan Peserta Ikut Bergema

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Dua Siswa Sekolah Rakyat Pimpin Ikrar Sumpah Pemuda di Makassar, Ribuan Peserta Ikut Bergema
Foto: Suasana Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026 di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 28/10/2026

Pantau - Dua siswa Sekolah Rakyat, Linggar Ardiansyah dan Muhammad Yusuf, memimpin pembacaan ikrar Sumpah Pemuda di hadapan ribuan peserta yang memadati Gedung Olahraga (GOR) Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026).

Linggar Ardiansyah merupakan siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 9 Jakarta, sedangkan Muhammad Yusuf berasal dari SRMA 27 Takalar, Sulawesi Selatan.

Keduanya memimpin pembacaan teks Sumpah Pemuda dalam rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang berlangsung bersamaan dengan peringatan satu tahun penyelenggaraan program Sekolah Rakyat.

Ribuan peserta yang terdiri atas siswa, orang tua, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta berbagai unsur pilar sosial mengikuti pembacaan ikrar secara serentak.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.

Dua Siswa Sekolah Rakyat Pimpin Ribuan Peserta Membaca Sumpah Pemuda

Linggar Ardiansyah dan Muhammad Yusuf tampil di hadapan ribuan peserta untuk memimpin pembacaan teks Sumpah Pemuda secara bergantian.

Kedua siswa tersebut melafalkan setiap bagian ikrar dengan suara lantang yang kemudian diikuti seluruh peserta di dalam GOR Sudiang.

“Sumpah pemuda! Kami putra dan putri Indonesia mengaku, bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia,” demikian penggalan ikrar yang dibacakan dalam kegiatan tersebut.

Suara ribuan peserta yang mengikuti pembacaan ikrar menggema di seluruh area gedung olahraga.

Pembacaan Sumpah Pemuda menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian peringatan nasional yang melibatkan siswa Sekolah Rakyat dari berbagai wilayah Indonesia.

Keterlibatan Linggar dan Muhammad Yusuf sebagai pemimpin pembacaan ikrar juga memperlihatkan partisipasi langsung siswa Sekolah Rakyat dalam kegiatan kebangsaan.

Selain mengikuti pembacaan Sumpah Pemuda, para siswa mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka melalui berbagai pertunjukan seni dan keterampilan.

Sebanyak 741 Siswa Sekolah Rakyat Tampilkan Seni dan Budaya Nusantara

Peringatan Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang turut dimeriahkan penampilan 741 siswa Sekolah Rakyat dari berbagai daerah di Indonesia.

Para siswa membawakan sejumlah pertunjukan seni tradisional yang menggambarkan keberagaman budaya Nusantara.

Tarian dari Aceh, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi bagian dari rangkaian penampilan budaya dalam kegiatan tersebut.

Selain tarian tradisional, siswa Sekolah Rakyat menampilkan drama teatrikal, pembacaan puisi, dan pertunjukan menyanyi.

Kegiatan juga diisi dengan demonstrasi kemampuan olahraga bela diri, seperti karate dan pencak silat.

Penampilan kepramukaan dan baris-berbaris variasi turut memeriahkan acara dengan memperlihatkan keterampilan, kekompakan, serta kedisiplinan siswa.

Berbagai pertunjukan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa Sekolah Rakyat untuk menunjukkan bakat dan kemampuan yang dikembangkan selama mengikuti pendidikan.

Gus Ipul Sebut Sumpah Pemuda Bertepatan dengan Setahun Sekolah Rakyat

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 memiliki makna khusus karena bertepatan dengan satu tahun perjalanan program Sekolah Rakyat.

“Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda, sekaligus satu tahun perjalanan Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul dalam sambutannya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul menyampaikan tiga hal penting yang menjadi perhatian pemerintah dalam mengevaluasi pelaksanaan program Sekolah Rakyat.

Hal pertama berkaitan dengan latar belakang dan dasar pemikiran pembentukan Sekolah Rakyat sebagai program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Hal kedua mencakup berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah bersama tenaga pendidik, pengasuh, dan pihak terkait dalam menjalankan program tersebut.

Sementara itu, hal ketiga berkaitan dengan perubahan yang mulai terlihat pada diri siswa setelah memperoleh kesempatan pendidikan dan pengasuhan.

Gus Ipul menegaskan bahwa penyelenggaraan Sekolah Rakyat merupakan bagian dari pelaksanaan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Ketentuan yang menjadi dasar program tersebut meliputi Pasal 31 tentang hak memperoleh pendidikan, Pasal 34 ayat (1) mengenai tanggung jawab negara terhadap fakir miskin dan anak terlantar, serta Pasal 33 tentang perekonomian nasional.

“Di Sekolah Rakyat, ketiga pasal itu bertemu dalam satu tubuh: seorang anak,” tegas Gus Ipul.

Menurutnya, Sekolah Rakyat menjadi bagian dari pendekatan negara dalam memberikan perlindungan dan jaminan sosial, rehabilitasi sosial, serta pemberdayaan sosial bagi masyarakat kurang mampu.

Kemensos Ungkap Lebih dari Empat Juta Keluarga Kini Terjangkau Bantuan

Gus Ipul juga menjelaskan tiga mandat utama Presiden Prabowo Subianto kepada Kementerian Sosial dalam menjalankan program kesejahteraan masyarakat.

Ketiga mandat tersebut meliputi penyediaan data yang akurat, penyaluran bantuan yang tepat sasaran, serta penyelenggaraan program Sekolah Rakyat.

Untuk menjalankan mandat tersebut, Kemensos melakukan pembenahan data bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan pemerintah daerah.

Pembenahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan ketepatan sasaran bantuan sosial sekaligus menjangkau keluarga yang sebelumnya belum mendapatkan pelayanan pemerintah.

“Karena itu, Bapak Presiden memandatkan tiga hal kepada kami, pertama, Data Akurat, kedua, Sasaran Tepat, dan ketiga, Sekolah Rakyat. Data kami benahi bersama BPS dan pemerintah daerah. Hasilnya, bantuan semakin tepat sasaran, lebih dari empat juta keluarga yang dulu terlewat, kini terjangkau. Inilah yang kami sebut Kerja Cepat Pasal 34,” ungkap Gus Ipul.

Menurut Gus Ipul, hasil pembenahan data tersebut telah memungkinkan lebih dari empat juta keluarga yang sebelumnya terlewat memperoleh akses terhadap program bantuan pemerintah.

Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan pelayanan sosial yang dilakukan Kemensos bersama pemerintah daerah.

Sekolah Rakyat Layani 44 Ribu Siswa di 182 Lokasi

Dalam satu tahun penyelenggaraan, program Sekolah Rakyat telah menjangkau sekitar 44.000 siswa di 182 lokasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Pemerintah juga terus memperluas fasilitas pendidikan melalui pembangunan 100 titik Sekolah Rakyat Permanen.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 93 titik telah beroperasi, sedangkan tujuh titik lainnya masih dalam proses pembangunan.

Selain sekolah permanen, pemerintah menyelenggarakan Sekolah Rakyat Rintisan untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Dari sisi pencapaian siswa, Sekolah Rakyat telah membukukan 11 prestasi internasional dan lebih dari 200 prestasi nasional.

Lebih dari 1.100 siswa juga tercatat memiliki prestasi dalam berbagai bidang, termasuk olahraga, seni, dan sains.

Capaian tersebut menjadi salah satu perkembangan yang disampaikan Kemensos dalam evaluasi satu tahun pelaksanaan program Sekolah Rakyat.

Hampir 5 Ribu Guru dan 9 Ribu Pengasuh Dampingi Siswa

Pelaksanaan pendidikan dan pengasuhan Sekolah Rakyat saat ini didukung hampir 5.000 guru yang menjalankan kegiatan pembelajaran.

Selain itu, terdapat sekitar 7.000 wali asuh dan lebih dari 2.000 wali asrama yang bertugas mendampingi kehidupan sehari-hari siswa.

Sistem pendidikan Sekolah Rakyat dirancang untuk mendorong perubahan pada tiga aspek utama, yakni fisik, mental, dan akademik.

Perubahan fisik dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan gizi dan perhatian terhadap kesehatan siswa.

Sementara itu, perubahan mental diarahkan pada peningkatan kepercayaan diri, pembentukan karakter, serta kedisiplinan.

Adapun pengembangan akademik difokuskan pada peningkatan kemampuan belajar dan penguasaan pengetahuan untuk mendukung masa depan siswa.

Gus Ipul menilai keberadaan guru, wali asuh, dan wali asrama memiliki peran penting karena tidak hanya menjalankan kegiatan pendidikan, tetapi juga mendampingi perkembangan siswa.

“Mereka bukan sekedar pendidik dan pengasuh. Mereka adalah ayah dan ibu kedua bagi anak-anak,” ujar Gus Ipul.

Sejumlah Pejabat Nasional Hadiri Peringatan Sumpah Pemuda di Makassar

Peringatan Hari Sumpah Pemuda sekaligus satu tahun Sekolah Rakyat di GOR Sudiang turut dihadiri sejumlah pejabat negara dan tokoh nasional.

Di antaranya Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Ketua Ombudsman RI Nuzran Joher, serta Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan.

Hadir pula Rektor Universitas Pertahanan Letjen TNI (Purn) Anton Nugroho, pendiri ESQ Corporation Ary Ginanjar Agustian, serta Ketua Umum Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Meutia Farida Hatta Swasono.

Dari jajaran Kemensos, kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal Hasan Chabibie, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Supomo, dan Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Mira Riyati Kurniasih.

Sejumlah pejabat tinggi madya dan pratama Kemensos, staf khusus Menteri Sosial, serta tenaga ahli Menteri Sosial juga mengikuti kegiatan tersebut.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Makassar menjadi bagian dari kegiatan kebangsaan yang melibatkan siswa Sekolah Rakyat sekaligus momentum pemerintah menyampaikan perkembangan program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026