
Pantau - Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran generasi muda dalam kehidupan demokrasi di tengah tantangan ketidakpastian ekonomi, ketimpangan sosial, perkembangan teknologi digital, dan menurunnya kepercayaan terhadap institusi politik.
Guru besar Prof. Dr. Hufron menyoroti pentingnya menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda 1928 sebagai landasan bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.
Dalam tulisannya yang dipublikasikan pada Kamis (29/10/2026), Hufron mengaitkan semangat persatuan pemuda dengan dinamika gerakan masyarakat dan perubahan politik pada era digital.
Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa perubahan sosial dan politik tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan, tetapi juga dapat muncul dari kegelisahan masyarakat terhadap kondisi yang dianggap tidak adil.
Semangat Sumpah Pemuda 1928 Dinilai Tetap Relevan
Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pembentukan identitas kebangsaan Indonesia.
Pada masa itu, pemuda dari berbagai latar belakang suku, bahasa, dan daerah menyatukan tekad untuk membangun kesadaran sebagai satu bangsa.
Gerakan tersebut menjadi bagian dari proses panjang menuju kemerdekaan Indonesia.
Hufron menyoroti bahwa para pemuda pada masa itu tidak hanya menunggu perubahan, tetapi turut membangun persatuan dan menyiapkan fondasi sosial bagi lahirnya negara merdeka.
Hampir satu abad kemudian, semangat tersebut dinilai masih memiliki keterkaitan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda.
Tantangan itu meliputi ketidakpastian ekonomi, ketimpangan sosial, terbatasnya kesempatan kerja, serta perubahan teknologi yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini juga menjadi kesempatan untuk meninjau kembali posisi generasi muda dalam proses pengambilan keputusan publik.
Gerakan Pemuda di Berbagai Negara Soroti Persoalan Sosial
Hufron turut menyoroti meningkatnya gerakan pemuda di sejumlah negara dalam beberapa tahun terakhir.
Gerakan tersebut muncul sebagai respons terhadap berbagai persoalan, mulai dari korupsi, kenaikan biaya hidup, hingga keterbatasan lapangan pekerjaan.
Ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, dan kebijakan pemerintah yang dinilai tidak mewakili kepentingan masyarakat juga menjadi perhatian dalam berbagai aksi.
Menurut Hufron, fenomena tersebut menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kepentingan besar terhadap arah kebijakan yang menentukan masa depan mereka.
Namun, akses generasi muda terhadap proses pengambilan keputusan dinilai belum selalu sebanding dengan dampak kebijakan yang mereka rasakan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya kritik dan gerakan sosial dari kalangan pemuda.
Kritik Generasi Muda Menjadi Bagian dari Partisipasi Demokrasi
Hufron menempatkan keberanian menyampaikan kritik sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan demokrasi.
Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa "ketika kekuasaan cenderung tertutup terhadap kritik dan evaluasi, keberanian masyarakat untuk menyampaikan keberatan menjadi semakin penting".
Pandangan tersebut berkaitan dengan pentingnya ruang partisipasi publik dalam menanggapi kebijakan yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat.
Generasi muda dinilai memiliki posisi penting karena berada di antara idealisme dan pengalaman langsung menghadapi berbagai tantangan sosial.
Perkembangan teknologi digital juga menjadi bagian dari perubahan lingkungan politik dan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini.
Di tengah perubahan tersebut, semangat persatuan yang diwariskan melalui Sumpah Pemuda menjadi salah satu nilai yang dapat dijadikan landasan dalam kehidupan kebangsaan.
Peringatan Sumpah Pemuda Dorong Refleksi atas Masa Depan Demokrasi
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 berlangsung ketika masyarakat menghadapi berbagai perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan teknologi.
Hufron mengaitkan momentum tersebut dengan perlunya meninjau kembali peran generasi muda dalam menghadapi ketidakpastian masa depan.
Ia juga menyoroti pentingnya solidaritas masyarakat dalam merespons keadaan yang dinilai tidak adil.
Pengalaman sejarah Sumpah Pemuda menunjukkan bahwa persatuan lintas latar belakang dapat menjadi dasar bagi gerakan perubahan.
Dalam konteks demokrasi masa kini, refleksi tersebut menempatkan generasi muda sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap kebijakan publik dan arah pembangunan bangsa.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




