
Pantau - Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan meminta percepatan pemeliharaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bengkayang agar dapat kembali beroperasi pada pertengahan November 2026 untuk membantu mengatasi gangguan pasokan listrik dan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Permintaan tersebut disampaikan Ria Norsan saat meninjau langsung PLTU Bengkayang di Desa Karimunting, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Jumat.
Ria Norsan meminta manajemen pembangkit mempercepat penyelesaian pekerjaan pemeliharaan yang sebelumnya ditargetkan rampung pada 5 Desember 2026.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berharap pekerjaan tersebut dapat diselesaikan sekitar 25 hari lebih cepat sehingga pembangkit dapat kembali memasok listrik sebelum jadwal semula.
"Kita minta manajemen bekerja lebih cepat agar pemeliharaan yang semula ditargetkan selesai 5 Desember bisa dipercepat sekitar 25 hari, sehingga pada pertengahan November pembangkit sudah bisa kembali beroperasi," kata Ria Norsan saat meninjau PLTU Bengkayang di Desa Karimunting, Kabupaten Bengkayang, Jumat.
Menurut Ria Norsan, percepatan pemeliharaan diperlukan untuk memulihkan keandalan sistem kelistrikan Kalimantan Barat yang saat ini masih mengalami gangguan pasokan.
Gangguan tersebut telah berdampak terhadap masyarakat karena menyebabkan pelaksanaan pemadaman listrik secara bergilir di sejumlah wilayah.
Pemulihan pasokan listrik dinilai mendesak untuk memastikan aktivitas rumah tangga, kegiatan ekonomi, dan operasional dunia usaha dapat berjalan tanpa terganggu pemadaman.
Progres Pemeliharaan PLTU Bengkayang Capai 35,46 Persen
Dalam kunjungan tersebut, Ria Norsan melakukan peninjauan bersama jajaran PT PLN Indonesia Power dan PLN Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Barat.
Peninjauan dilakukan untuk memastikan perkembangan pekerjaan pemeliharaan menyeluruh atau serious inspection pada PLTU Bengkayang Unit 3.
Berdasarkan laporan harian yang diterima, progres pekerjaan pemeliharaan pembangkit telah mencapai 35,46 persen.
Realisasi tersebut melampaui target progres yang sebelumnya ditetapkan sebesar 34,49 persen atau lebih tinggi 0,97 poin persentase.
Pekerjaan pemeliharaan PLTU Bengkayang semula dijadwalkan berlangsung selama 54 hari dengan target penyelesaian pada 5 Desember 2026.
Ria Norsan mengapresiasi perkembangan pekerjaan yang telah melampaui target, tetapi tetap meminta manajemen meningkatkan upaya percepatan.
Menurutnya, seluruh sumber daya yang tersedia perlu dioptimalkan agar pekerjaan dapat diselesaikan lebih awal dari jadwal.
Meski demikian, Gubernur Kalimantan Barat menegaskan bahwa percepatan pemeliharaan harus tetap mengutamakan keselamatan kerja dan kualitas hasil pekerjaan.
Hal tersebut diperlukan untuk memastikan seluruh peralatan pembangkit berada dalam kondisi baik sebelum kembali dioperasikan.
PLN Diminta Transparan soal Kondisi Kelistrikan Kalbar
Selain mendorong percepatan pemeliharaan, Ria Norsan meminta PLN menyampaikan informasi secara terbuka kepada masyarakat mengenai perkembangan pekerjaan di PLTU Bengkayang.
Informasi tersebut juga harus mencakup kondisi sistem kelistrikan Kalimantan Barat serta langkah-langkah yang dilakukan untuk memulihkan keandalan pasokan listrik.
Menurutnya, keterbukaan informasi diperlukan agar masyarakat mendapatkan kepastian mengenai penanganan gangguan listrik yang masih berlangsung.
"Kita ingin memberikan informasi secara terbuka kepada masyarakat mengenai kondisi kelistrikan saat ini. Harapannya, pekerjaan dapat segera diselesaikan sehingga keandalan pasokan listrik semakin baik," ujarnya.
Ria Norsan juga menekankan pentingnya pemulihan pasokan listrik menjelang perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru).
Pada periode tersebut, kebutuhan listrik berpotensi meningkat seiring bertambahnya aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi menjelang akhir tahun.
Karena itu, pengoperasian kembali PLTU Bengkayang diharapkan dapat memperkuat pasokan listrik sekaligus mengurangi risiko pemadaman bergilir.
PLN Indonesia Power Percepat Perbaikan Turbin dan Generator
Sementara itu, Manager PT PLN Indonesia Power PLTU Bengkayang Fritz Daniel Pardomuan menyampaikan bahwa pihaknya akan mengoptimalkan seluruh sumber daya untuk mempercepat penyelesaian pemeliharaan.
Fritz menjelaskan bahwa sejumlah pekerjaan teknis sedang dilakukan untuk memastikan kesiapan dan keandalan operasional pembangkit.
Pekerjaan tersebut mencakup pembersihan komponen Main Stop Valve (MSV) dan lower casing yang menjadi bagian dari sistem pembangkit.
Selain itu, tim pemeliharaan melakukan perbaikan sistem udara untuk mendukung kesiapan operasional PLTU Bengkayang.
Pengujian sistem kelistrikan pada turbin dan generator juga dilakukan guna memastikan seluruh peralatan berfungsi dengan baik sebelum pembangkit kembali beroperasi.
Pemeriksaan dan perbaikan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pemeliharaan agar pembangkit dapat kembali memasok listrik secara andal.
PLTU Bengkayang Pasok 12 Persen Kebutuhan Listrik Kalbar
Fritz menjelaskan bahwa PLTU Bengkayang memiliki daya mampu netto sebesar 80 megawatt (MW).
Dengan kapasitas tersebut, pembangkit menjadi salah satu penopang utama sistem kelistrikan interkoneksi Khatulistiwa di Kalimantan Barat.
"PLTU Bengkayang memiliki daya mampu netto sebesar 80 megawatt (MW) dan menjadi salah satu penopang sistem kelistrikan interkoneksi Khatulistiwa di Kalimantan Barat," ujarnya.
PLTU Bengkayang berkontribusi sekitar 12 persen terhadap kebutuhan beban puncak sistem kelistrikan Kalimantan Barat.
Adapun kebutuhan beban puncak listrik di Kalimantan Barat mencapai sekitar 650 MW.
Besarnya kontribusi tersebut menjadikan keberadaan PLTU Bengkayang penting dalam menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di wilayah Kalimantan Barat.
Dengan kembali beroperasinya pembangkit berkapasitas 80 MW tersebut, pasokan listrik pada sistem interkoneksi Khatulistiwa diharapkan semakin kuat.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan PLN menempatkan percepatan pemeliharaan PLTU Bengkayang sebagai salah satu langkah untuk memulihkan keandalan kelistrikan daerah.
Pengoperasian kembali pembangkit pada pertengahan November 2026 diharapkan dapat membantu mengurangi pemadaman bergilir serta mendukung kebutuhan listrik masyarakat dan dunia usaha menjelang Natal dan Tahun Baru.
Namun, seluruh proses percepatan tetap harus memperhatikan keselamatan kerja dan kualitas pemeliharaan agar PLTU Bengkayang dapat beroperasi secara optimal setelah kembali terhubung dengan sistem kelistrikan Kalimantan Barat.
- Penulis :
- Arian Mesa




