HOME  ⁄  Nasional

Kemendukbangga Hadirkan Akademi Keluarga Indonesia untuk Remaja Usia 10–24 Tahun, Fokus pada Karakter dan Kesiapan Hidup

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kemendukbangga Hadirkan Akademi Keluarga Indonesia untuk Remaja Usia 10–24 Tahun, Fokus pada Karakter dan Kesiapan Hidup
Foto: (Sumber :Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji di Jakarta Pusat pada Rabu (28/10/2026) memaparkan mengenai Akademi Keluarga Indonesia yang membentuk karakter dan nilai kehidupan kelompok remaja. (ANTARA/HO-Humas Kemendukbangga).)

Pantau - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menghadirkan Akademi Keluarga Indonesia sebagai wadah pembelajaran bagi remaja usia 10–24 tahun yang belum menikah untuk memperkuat karakter, literasi digital, dan kesiapan menghadapi tantangan kehidupan.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji mengatakan program tersebut bertujuan mempersiapkan generasi muda agar tidak hanya memiliki kemampuan akademis dan keterampilan bekerja, tetapi juga mampu menghadapi perubahan sosial serta membangun kehidupan yang berkualitas.

Akademi Keluarga Indonesia mengintegrasikan sejumlah program pembinaan remaja melalui empat pilar pembelajaran yang mencakup karakter, kependudukan, literasi digital, dan pemanfaatan bonus demografi.

“Bagi Kemendukbangga/BKKBN, keluarga adalah unit terkecil dan terendah di sebuah negara. Maka kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarganya,” ujar Wihaji dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Akademi Keluarga Indonesia Sasar Remaja Usia 10–24 Tahun

Wihaji menjelaskan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia sejak usia muda.

Atas dasar tersebut, Kemendukbangga mengembangkan Akademi Keluarga Indonesia sebagai sarana pembelajaran bagi remaja yang belum menikah.

Program ini ditujukan kepada kelompok usia 10 hingga 24 tahun untuk membantu mereka memahami berbagai aspek kehidupan sebelum memasuki masa dewasa.

Akademi Keluarga Indonesia menggabungkan tiga program pembinaan remaja yang telah dikembangkan Kemendukbangga/BKKBN.

Ketiga program tersebut adalah Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), Sekolah Siaga Kependudukan, serta Generasi Berencana (Genre).

Melalui penggabungan tersebut, pembelajaran bagi remaja diarahkan agar lebih terintegrasi dalam membentuk karakter dan kesiapan menghadapi masa depan.

Empat Pilar Akademi Keluarga Indonesia

Akademi Keluarga Indonesia mengusung empat pilar utama yang menjadi dasar pembelajaran bagi para peserta.

Pilar pertama adalah Karakter dan Kesiapan Berkeluarga yang berfokus pada pembentukan nilai kehidupan serta pemahaman mengenai tanggung jawab dalam keluarga.

Pilar kedua adalah Ekologi Kependudukan yang berkaitan dengan pemahaman terhadap dinamika kependudukan dan lingkungan kehidupan masyarakat.

Pilar ketiga mencakup Literasi dan Etika Digital untuk membekali remaja menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan perilaku di ruang digital.

Sementara itu, pilar keempat adalah Optimalisasi Bonus Demografi yang diarahkan untuk mempersiapkan generasi muda agar mampu berkontribusi terhadap pembangunan nasional.

Keempat pilar tersebut menjadi landasan Kemendukbangga dalam membangun karakter remaja sekaligus meningkatkan kesiapan mereka menghadapi kehidupan.

Wihaji Soroti Penggunaan Ponsel hingga 10 Jam Sehari

Wihaji juga menyoroti perubahan perilaku generasi muda akibat perkembangan teknologi digital.

Menurutnya, penggunaan telepon seluler selama delapan hingga 10 jam sehari dapat memengaruhi pola pikir, perilaku, dan kesehatan mental remaja.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pembinaan generasi muda perlu mencakup literasi dan etika digital.

Wihaji menilai pendidikan dan persiapan karier saja tidak lagi cukup untuk menghadapi perubahan kehidupan saat ini.

Remaja juga perlu dibekali kemampuan memahami diri sendiri, menghadapi perubahan, dan menentukan arah masa depan.

“Tatanan kita sekarang sudah beda. Sekarang bukan lagi siap kerja, lebih dari itu, yakni siap hidup,” tegas Wihaji.

Melalui Akademi Keluarga Indonesia, pemerintah ingin mendorong remaja memiliki ketahanan karakter dan kemampuan menghadapi tantangan kehidupan.

Ketahanan Keluarga Dinilai Penting untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi

Selain pembentukan karakter remaja, Wihaji menekankan pentingnya ketahanan keluarga dalam pembangunan sumber daya manusia nasional.

Menurutnya, keluarga yang kuat menjadi salah satu fondasi untuk menciptakan generasi berkualitas.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga dinilai penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen.

Karena itu, Kemendukbangga mendorong pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan individu, tetapi juga pada pemahaman mengenai kehidupan keluarga dan masyarakat.

Wihaji berharap peserta Akademi Keluarga Indonesia dapat membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada teman sebaya.

Penyebaran pengetahuan tersebut diharapkan memperluas manfaat program kepada lebih banyak remaja.

Kemendukbangga juga mendorong kerja sama pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan dunia usaha dalam pelaksanaan program.

Melalui kolaborasi tersebut, Akademi Keluarga Indonesia diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama untuk menyiapkan generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan berkualitas.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026