
Pantau - Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta mendorong Indonesia dan Singapura memperkuat kerja sama penegakan hukum terhadap kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama dalam mengungkap keterlibatan korporasi, kepemilikan perusahaan, serta aliran dana lintas negara.
Sukamta menilai pembentukan satuan tugas bersama kedua negara harus ditindaklanjuti dengan langkah konkret untuk menelusuri pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan di Hambalang, Bogor, Rabu (28/10/2026).
Menurut Sukamta, hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura dapat dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi dalam menangani persoalan lintas negara, termasuk karhutla.
DPR Minta Satgas Bersama Telusuri Korporasi Penyebab Karhutla
Sukamta menegaskan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak boleh hanya berfokus pada upaya pemadaman api.
Menurutnya, kerja sama kedua negara perlu mencakup penyelidikan terhadap perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran serta pihak yang memperoleh keuntungan dari aktivitas tersebut.
“Penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Harus ditelusuri siapa yang bertanggung jawab, siapa yang memperoleh keuntungan, dan bagaimana aliran dana perusahaan yang terlibat,” tegas Sukamta dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Politisi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu meminta pertukaran informasi antara Indonesia dan Singapura diperkuat untuk mendukung penegakan hukum.
Ia juga menyoroti pentingnya penelusuran transaksi keuangan dan pembuktian hukum apabila ditemukan hubungan kepemilikan perusahaan maupun pendanaan yang melibatkan kedua negara.
“Kerja sama ini harus menghormati kedaulatan hukum masing-masing negara, tetapi jangan sampai perbedaan yurisdiksi menjadi tempat berlindung bagi pelaku,” katanya.
Sukamta menilai koordinasi lintas negara diperlukan agar proses penegakan hukum tidak terhambat oleh perbedaan wilayah kewenangan.
Pertemuan Prabowo dan Menlu Singapura Dinilai Strategis
Sukamta menyebut pertemuan Presiden Prabowo dengan Menteri Luar Negeri Singapura sebagai bagian dari komunikasi strategis kedua negara.
Indonesia dan Singapura memiliki hubungan kerja sama yang erat dalam bidang ekonomi, investasi, pertahanan, serta stabilitas kawasan.
Namun, Sukamta mengingatkan agar masyarakat tidak berspekulasi mengenai agenda khusus pertemuan tersebut karena pembicaraan berlangsung secara tertutup.
“Tentu kita tidak bisa menyimpulkan agenda spesifik pertemuan karena pembicaraannya berlangsung tertutup. Namun, dalam hubungan diplomatik, pertemuan semacam ini dapat menjadi kesempatan untuk membahas persoalan yang membutuhkan perhatian dan arahan politik pada tingkat lebih tinggi,” ujar Sukamta.
Ia menilai komunikasi pada tingkat pemerintahan dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat penyelesaian persoalan yang membutuhkan koordinasi kedua negara.
Investasi Singapura Diharapkan Perkuat Industri Nasional
Selain penanganan karhutla, Sukamta meminta kerja sama ekonomi Indonesia dan Singapura memberikan manfaat lebih besar bagi pembangunan nasional.
Ia mendorong investasi Singapura diarahkan untuk memperkuat industri dalam negeri, mendorong alih teknologi, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Peningkatan kemampuan sumber daya manusia Indonesia juga menjadi salah satu aspek yang menurutnya perlu diperhatikan dalam kerja sama investasi.
“Kita tentu menyambut investasi, tetapi manfaatnya harus semakin besar bagi perekonomian dan masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
Sukamta menegaskan bahwa keberhasilan kerja sama ekonomi perlu diukur dari kontribusinya terhadap kepentingan masyarakat dan pembangunan nasional.
Indonesia-Singapura Didorong Jaga Stabilitas ASEAN
Dalam konteks regional, Sukamta turut menyoroti pentingnya kerja sama Indonesia dan Singapura untuk menjaga stabilitas Asia Tenggara menjelang keketuaan Singapura di ASEAN pada 2027.
Menurutnya, ASEAN harus mampu mempertahankan kemandirian kawasan di tengah persaingan kekuatan besar dunia.
Ia juga mendorong peningkatan kemampuan produksi, penguasaan teknologi, dan daya saing negara-negara ASEAN.
Sukamta menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Singapura perlu terus dikembangkan berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan keuntungan bersama.
“Bagi Indonesia, ukuran keberhasilan diplomasi bukan sekadar seberapa erat hubungan dengan negara lain, tetapi seberapa besar hubungan itu memberikan manfaat nyata bagi kepentingan nasional dan rakyat Indonesia,” pungkasnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




