
Pantau - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menilai kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) tidak hanya berperan dalam mengurangi polusi udara, tetapi juga menjadi sarana edukasi untuk mendorong masyarakat membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah.
Perwakilan DLH DKI Jakarta, Triyana, mengatakan kegiatan CFD yang berlangsung di berbagai wilayah administrasi Jakarta dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki potensi besar sebagai sarana pendidikan lingkungan karena masyarakat mengikuti CFD secara sukarela.
"CFD adalah momen edukasi lingkungan yang paling efektif karena masyarakat hadir dengan sukarela. Di sinilah kami menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah," kata Triyana di Jakarta, Minggu (1/11/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk "Perjalanan 24 tahun Car Free Day (CFD)" yang membahas peran kegiatan bebas kendaraan bermotor dalam membentuk kebiasaan masyarakat perkotaan.
Selain pengelolaan sampah, diskusi tersebut menyoroti pengembangan transportasi publik, pengurangan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, dan penyediaan ruang publik yang inklusif.
DLH Jakarta Jadikan CFD Sarana Edukasi Pemilahan Sampah
Triyana menjelaskan bahwa peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat perkotaan perlu dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh.
Menurutnya, kampanye lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui informasi atau imbauan, tetapi juga perlu didukung keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan CFD dinilai dapat menjadi salah satu ruang publik untuk memperkenalkan kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Salah satu kebiasaan yang didorong adalah memilah sampah langsung dari sumbernya, termasuk dari lingkungan rumah tangga.
Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya pemilahan sampah sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan.
Triyana menilai keterlibatan sukarela masyarakat dalam kegiatan CFD menjadi peluang untuk memperluas penyampaian pesan lingkungan.
Kegiatan tersebut juga memungkinkan masyarakat memperoleh pemahaman mengenai perilaku ramah lingkungan melalui aktivitas langsung di ruang publik.
Menurut DLH DKI Jakarta, pembentukan kesadaran ekologis perlu dilakukan secara berkelanjutan agar dapat menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat perkotaan.
Dishub DKI Dorong Integrasi MRT, LRT, dan TransJakarta untuk Kurangi Emisi
Selain penguatan edukasi lingkungan, kegiatan CFD juga dikaitkan dengan upaya mengurangi emisi kendaraan bermotor melalui pengembangan transportasi publik.
Sekretaris Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Renny Dwi Astuti, menekankan pentingnya percepatan integrasi layanan transportasi umum di ibu kota.
Menurutnya, keterhubungan antara MRT, LRT, TransJakarta, dan angkutan pengumpan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Integrasi tersebut diarahkan agar masyarakat memiliki pilihan transportasi yang lebih mudah diakses dan nyaman digunakan.
"Integrasi antarmoda bukan hanya soal kenyamanan, tetapi strategi jangka panjang menurunkan ketergantungan pada kendaraan pribadi. Setiap perjalanan yang beralih ke transportasi publik adalah kontribusi nyata bagi kualitas udara Jakarta," ujar Renny.
Ia menilai peningkatan penggunaan transportasi publik dapat mendukung upaya pengendalian emisi kendaraan di Jakarta.
Pengembangan layanan angkutan umum juga menjadi bagian dari perubahan pola mobilitas masyarakat menuju penggunaan transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Dalam konteks tersebut, CFD tidak hanya dipandang sebagai kegiatan pembatasan kendaraan bermotor pada waktu tertentu, tetapi juga sebagai sarana mendorong perubahan kebiasaan perjalanan masyarakat.
CFD Jakarta Didorong Jadi Ruang Publik Ramah Lansia dan Disabilitas
Renny juga menyoroti pentingnya penyediaan fasilitas yang dapat digunakan seluruh kelompok masyarakat selama kegiatan CFD berlangsung.
Menurutnya, ruang publik perlu memperhatikan kebutuhan kelompok lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Ia menyampaikan bahwa layanan dan fasilitas khusus bagi lansia selama CFD telah mendapatkan sambutan positif.
Program ramah lanjut usia tersebut dinilai berjalan efektif dalam mendukung keterlibatan berbagai lapisan masyarakat.
"CFD harus menjadi ruang yang ramah bagi semua, termasuk lansia dan penyandang disabilitas. Inklusivitas adalah ukuran keberhasilan sebuah ruang publik," tutur Renny.
Penyediaan fasilitas yang inklusif menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan kegiatan CFD di Jakarta.
Dengan akses yang lebih baik, kegiatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat dari berbagai kelompok usia dan kondisi fisik.
KPBB Sebut CFD Selama 24 Tahun Dorong Perubahan Gaya Hidup Masyarakat
Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin, menilai kegiatan CFD telah mengalami perkembangan selama lebih dari dua dekade pelaksanaannya.
Sebagai salah satu penggagas CFD, Ahmad menyebut kegiatan tersebut telah bertransformasi menjadi salah satu pendorong pembentukan gaya hidup masyarakat perkotaan.
Menurutnya, perubahan pola mobilitas menuju kebiasaan yang lebih ramah lingkungan membutuhkan proses panjang.
Perubahan tersebut tidak dapat terjadi secara langsung, melainkan perlu dibangun melalui kegiatan yang dilakukan secara konsisten.
Ahmad menilai penyelenggaraan CFD selama 24 tahun telah menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan dan transportasi.
Ia juga menekankan pentingnya keteladanan dalam membangun kebiasaan baru yang lebih memperhatikan dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan.
Melalui kegiatan CFD, masyarakat diperkenalkan dengan pemanfaatan ruang jalan untuk aktivitas selain penggunaan kendaraan bermotor.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya kualitas udara dan mobilitas berkelanjutan.
CFD Jadi Bagian dari Upaya Membangun Jakarta Lebih Ramah Lingkungan
Pembahasan dalam diskusi peringatan 24 tahun CFD menunjukkan bahwa kegiatan bebas kendaraan bermotor memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mengurangi lalu lintas kendaraan.
DLH DKI Jakarta menekankan pemanfaatan CFD sebagai sarana edukasi pemilahan sampah dan pembentukan kesadaran lingkungan.
Sementara itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyoroti pentingnya integrasi transportasi publik serta penyediaan fasilitas yang ramah bagi seluruh masyarakat.
KPBB juga menilai konsistensi penyelenggaraan CFD berperan dalam mendorong perubahan pola mobilitas dan gaya hidup masyarakat perkotaan.
Melalui berbagai pendekatan tersebut, kegiatan CFD diharapkan terus mendukung upaya pengurangan polusi, peningkatan kesadaran pengelolaan sampah, serta pengembangan ruang publik yang inklusif di Jakarta.
- Penulis :
- Aditya Yohan




