
Pantau - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak para tokoh lintas agama di Indonesia memaknai ulang konsep toleransi beragama dengan lebih menekankan persamaan nilai antarumat daripada sekadar menerima perbedaan.
Ajakan tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama sejumlah tokoh lintas agama di Jakarta sebagai upaya memperkuat kerukunan nasional dan peran Indonesia dalam diplomasi keagamaan internasional.
Nasaruddin menilai toleransi tidak seharusnya hanya dipahami sebagai bentuk kompromi terhadap perbedaan keyakinan, tetapi juga sebagai upaya menemukan nilai-nilai bersama yang dapat mempererat hubungan antarumat beragama.
Menag Nilai Konsep Toleransi Perlu Dimaknai Ulang
Nasaruddin mengatakan pemahaman toleransi yang selama ini berkembang terkadang menimbulkan kesan bahwa seseorang harus menerima perbedaan meskipun bertentangan dengan hati nuraninya.
“Kalau toleransi itu, kesannya, image-nya, kita seolah-olah ada unsur dipaksa untuk memberikan suatu pengakuan yang tidak sesuai dengan hati nurani kita,” ujar Menag dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, pemaknaan ulang toleransi diperlukan untuk mengurangi potensi gesekan akibat perbedaan pandangan dan keyakinan.
Ia mengajak para pemimpin agama memperluas ruang perjumpaan dengan mencari persamaan substansial dalam ajaran masing-masing agama.
Nasaruddin juga menilai pengajaran agama yang terlalu menonjolkan perbedaan perlu diarahkan pada pemahaman yang lebih objektif terhadap nilai moral, etika, dan ajaran spiritual universal.
“Sebetulnya, kalau kita mau jujur, wilayah toleransi semacam itu bisa diperkecil. Apa yang selama ini kita anggap berbeda, sesungguhnya jangan-jangan tidak berbeda, hanya persepsi kita yang terlalu membedakannya satu sama lain,” kata dia.
Kerukunan Umat Dinilai Berperan Menjaga Stabilitas Nasional
Menag mengaitkan pentingnya kerukunan antarumat beragama dengan kondisi global yang masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik.
Ia menyebut sejumlah negara di Eropa hingga Afrika mengalami tekanan ekonomi, inflasi tinggi, kelangkaan energi, dan berbagai krisis.
Sementara itu, menurut Nasaruddin, Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 5,6 persen, inflasi yang terkendali, serta cadangan pangan nasional yang mencukupi.
Menag menilai kemampuan Indonesia menjaga stabilitas tersebut turut didukung oleh kontribusi para pemimpin agama dalam menenangkan masyarakat.
Karena itu, ia mengajak tokoh agama terus menjaga komunikasi dan memperkuat persatuan di tengah masyarakat.
Diplomasi Keagamaan Indonesia Didorong untuk Meredam Konflik Global
Selain menjaga kerukunan dalam negeri, Nasaruddin menilai persatuan antarumat beragama dapat menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menjalankan diplomasi keagamaan atau religious diplomacy.
Menurutnya, pendekatan berbasis nilai kemanusiaan dan hati nurani dapat melengkapi diplomasi formal dalam menghadapi konflik internasional.
“Pendekatan diplomasi formal melalui lembaga dunia seperti PBB kerap mengalami jalan buntu dalam meredam konflik global. Sebaliknya, diplomasi religius yang menyentuh hati nurani, humanity is only one, terbukti mampu membangun kesadaran kolektif kemanusiaan tanpa memandang sekat suku, ras, atau agama,” kata dia.
Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran kemanusiaan bersama tanpa membedakan latar belakang suku, ras, maupun agama.
Pendekatan tersebut dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam mendorong dialog dan perdamaian di tingkat internasional.
Kemenag Dorong Konsolidasi Cendekiawan Lintas Agama
Nasaruddin juga mengingatkan adanya tantangan masa depan yang perlu diantisipasi bersama oleh para pemimpin agama.
Tantangan tersebut mencakup perkembangan teknologi kecerdasan buatan tingkat tinggi atau artificial super intelligence serta persoalan moral generasi muda.
Untuk menghadapinya, Kementerian Agama mendorong konsolidasi organisasi cendekiawan lintas agama agar dapat merumuskan strategi kebangsaan secara bersama-sama.
Konsolidasi tersebut melibatkan cendekiawan dari kalangan Muslim, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, hingga Khonghucu.
Melalui kerja sama lintas iman, pemerintah berharap para tokoh agama dapat memperkuat nilai persatuan sekaligus merespons perubahan sosial dan teknologi.
“Dengan kolaborasi lintas iman yang kuat, Indonesia optimistis mampu berdiri kokoh sebagai teladan kerukunan beragama bagi dunia,” katanya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




