HOME  ⁄  Nasional

BNPB Waspadai Lonjakan Karhutla di Kalteng dan Sumsel, Ratusan Titik Api Terdeteksi di Wilayah Prioritas

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

BNPB Waspadai Lonjakan Karhutla di Kalteng dan Sumsel, Ratusan Titik Api Terdeteksi di Wilayah Prioritas
Foto: Tangkapan layar - Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan di Jakarta, Rabu 4/11/2026 (sumber: ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel), setelah terjadi lonjakan jumlah titik api dan perluasan lahan yang sedang dalam penanganan.

Berdasarkan pemantauan terhadap 10 provinsi, BNPB menetapkan enam provinsi sebagai wilayah perhatian khusus dengan total 864 titik api dan luas lahan dalam penanganan mencapai 1.615 hektare.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan perkembangan tersebut di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi menjadi wilayah yang mendapat perhatian utama karena mencatat peningkatan signifikan aktivitas karhutla dibandingkan periode pemantauan sebelumnya.

BNPB meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan serta mengoptimalkan sumber daya penanggulangan untuk mencegah kebakaran meluas.

Titik Panas di Kalteng Naik 50 Persen, Sumsel Melonjak 186 Persen

Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah prioritas setelah BNPB mencatat peningkatan titik panas sebesar 50 persen dibandingkan sehari sebelumnya.

Dalam laporan yang disampaikan Berton Panjaitan, terdapat angka 425 yang berkaitan dengan peningkatan titik panas di Kalimantan Tengah, tetapi satuannya masih memerlukan klarifikasi karena tercantum sebagai hektare.

Sementara itu, luas lahan karhutla yang sedang dalam penanganan petugas di Kalimantan Tengah mencapai 664 hektare dan mengalami peningkatan dibandingkan kondisi sehari sebelumnya.

Kondisi lebih mencolok secara persentase terjadi di Sumatera Selatan yang mencatat lonjakan jumlah titik api hingga 186 persen.

Peningkatan tersebut membuat jumlah titik api di Sumatera Selatan mencapai 60 titik berdasarkan hasil pemantauan terbaru BNPB.

Selain lonjakan titik api, luas lahan karhutla yang sedang ditangani petugas di Sumatera Selatan mencapai 105 hektare.

Angka tersebut meningkat sebesar 66 persen dibandingkan sehari sebelumnya sehingga membutuhkan peningkatan kesiapsiagaan dan respons penanggulangan di wilayah terdampak.

Peningkatan jumlah titik api dan luas lahan dalam penanganan menjadi indikator penting bagi pemerintah untuk menentukan prioritas pengendalian karhutla.

Jambi Catat 150 Titik Api, Lahan dalam Penanganan Capai 403 Hektare

Selain Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, Provinsi Jambi turut mengalami peningkatan signifikan aktivitas kebakaran hutan dan lahan.

BNPB mencatat sebanyak 150 titik api di Jambi atau meningkat 134 persen dibandingkan periode pemantauan sebelumnya.

Luas lahan yang sedang dalam penanganan petugas di provinsi tersebut mencapai 403 hektare.

Peningkatan aktivitas kebakaran di Jambi membuat wilayah tersebut turut menjadi fokus pemerintah dalam upaya pengendalian karhutla.

Secara keseluruhan, peningkatan jumlah titik api di tiga provinsi tersebut menunjukkan perlunya penguatan langkah penanggulangan agar kebakaran tidak semakin meluas.

BNPB juga terus mencermati perkembangan karhutla di provinsi lain yang termasuk dalam enam wilayah prioritas penanganan.

BNPB Kerahkan Armada Udara untuk Pemadaman dan Modifikasi Cuaca

Menghadapi peningkatan aktivitas karhutla, BNPB masih mengerahkan armada udara untuk mendukung operasi pengendalian kebakaran di sejumlah wilayah terdampak.

Operasi udara tersebut mencakup pemadaman kebakaran, patroli udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Pemadaman melalui udara dilakukan untuk membantu pengendalian kebakaran hutan dan lahan, terutama pada wilayah yang membutuhkan dukungan penanganan tambahan.

Sementara itu, patroli udara dimanfaatkan untuk memantau perkembangan kondisi kebakaran sekaligus mendukung pengamatan terhadap wilayah terdampak.

BNPB juga terus mengupayakan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca sebagai bagian dari langkah menekan potensi perluasan karhutla.

Pelaksanaan operasi tersebut disesuaikan dengan dinamika kondisi cuaca yang berlangsung di wilayah penanganan.

Pengerahan armada udara diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengendalian kebakaran, khususnya di daerah yang mengalami lonjakan titik api dan perluasan lahan terdampak.

Pemerintah Daerah Diminta Tingkatkan Kesiapsiagaan Karhutla

Berton Panjaitan mengingatkan seluruh pemerintah daerah agar terus mencermati perkembangan jumlah titik api dan luas lahan yang masih dalam proses penanganan.

Menurutnya, peningkatan kedua indikator tersebut harus menjadi perhatian serius dalam menentukan langkah penanggulangan bencana.

Pemerintah daerah juga diminta mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk mempercepat pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

Respons cepat dinilai penting agar peningkatan aktivitas kebakaran tidak menyebabkan perluasan wilayah terdampak.

BNPB menekankan bahwa seluruh upaya penanganan perlu dilakukan secara maksimal selama kondisi kebakaran masih memungkinkan untuk dikendalikan.

Koordinasi penanggulangan di daerah menjadi bagian penting dalam mendukung efektivitas pengerahan sumber daya dan pelaksanaan operasi pengendalian karhutla.

Dengan meningkatnya jumlah titik api di sejumlah wilayah prioritas, BNPB terus mendorong pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan dan mempercepat langkah penanganan.

Penanganan karhutla di enam provinsi prioritas tetap menjadi fokus BNPB, dengan perhatian utama terhadap Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi yang mencatat lonjakan aktivitas kebakaran berdasarkan pemantauan terbaru.

Melalui optimalisasi sumber daya daerah, operasi pemadaman udara, patroli, dan modifikasi cuaca, pemerintah berupaya mengendalikan karhutla sekaligus menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026